by

Kronologis Tenggelamnya Riki Arianto di Ujung Mepar

Gambar: Puluhan masyarakat menyaksikan proses pencaharian korban tenggelam di lokasi wisata Ujung Mepar, Kebayakan. (Foto: Ist)
Gambar: Puluhan masyarakat menyaksikan proses pencaharian korban tenggelam di lokasi wisata Ujung Mepar, Kebayakan. (Foto: Ist)nol

Takengon|Lintas Gayo –  Peristiwa meninggalnya Riki Arianto (16), siswa SMAN 2 Timang Gajah menyisakan duka bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.

Bagamana tidak, korban yang duduk dikelas dua tersebut meninggal tenggelam saat sedang mendayung sampan bersama tiga rekannya, sehingga jenazahnya harus dicari oleh tim penyelamat.

Angin kencang dan ombak besar dengan tiba-tiba menerjang perahu yang sedang mereka tumpangi, kurang lebih 10 meter dari bibir danau.

Wartawan Lintas Gayo mendapatkan dari sejumlah saksi, awalnya mereka berangkat dari lampahan pada pukul 08.30 WIB pagi.

 

Setibanya di Ujung Mepar, Riki Aryanto, Riko Prananda dan (17), dan Aji Santosa (17) serta Heru Andrian (13), mereka bermain dilokasi.

Bolos dari sekolah, mereka bermaksud menikmati kebersamaan secara bersama-sama. Keempat warga Bener Meriah ini, menyewa perahu dari warga setempat.

Dan selanjutnya, terjadilah peristiwa naas, perahu mereka terbalik karena cuaca yang buruk, mereka berusaha menyelamatkan diri.

Hanya Riko, Heru dan Aji yang berhasil sampai kepinggir danau, tetapi tidak bagi Riki, entah karena tidak pandai berenang, atau terjebak dalam perahu yang terbalik, Riki harus dibawa kedaratan dengan kantong jenazah.

Pengakuan Heru, teman korban, saat sampan yang mereka kendarai terbalik, sempat terlihat korban hendak berusaha berenang ke tepi. Namun kemudian temannya itu tidak muncul kepermukaan.

Beberapa jam kemudian, tim dari Radot Water Rescue(RWR), Gayo Diving Club (GDC) dibantu masyarakat, datang ke TKP untuk kemudian melakukan upaya pencaharian korban.

Sekitar pukul 14:23 Wib, korban berhasil ditemukan oleh tim penyelamat dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Ketua RWR, Wien R menyebutkan, tim pencaharian korban awalnya mengalami kesulitan menemukan jenazah korban karena ombak besar dan banyaknya rerumputan yang hidup didalam danau.

Ombak dan angin kencang juga sempat mengganggu proses pencaharian itu, namun berkat bantuan berbagai pihak yang terlibat, timnya berhasil mengevakuasi jenazah kepinggiran danau tersebut, selanjutnya dibawa ke BLUD Datu Beru Takengon untuk diotopsi. (Imran/Tenemata)

Comments

comments

News