by

Partai Politik Islam Sudah Mati

Partai Politik Islam Sudah Mati

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Foto : Husaini Muzakir Algayoni
Foto : Husaini Muzakir Algayoni

       Partai Islam identik dengan Ideologi mereka mengatasnamakan Dakwah atau partai politik Islam yang berideologi Islam. Ayat yang sering digunakan oleh kader-kader dari partai Islam yaitu dalam Q.S Ali Imran 104 (“Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”) ini merupakan karakteristik partai Islam dalam berdakwah.

Politik Islam diperankan oleh partai Islam  seperti PKS, PPP, PKB,PAN dan PBB namun  dalam prakteknya partai Islam itu serta para politisinya hanyalah mencari jabatan dan harta kekayaan tidak lagi menjalankan nilai-nilai Islam sesuai dengan ideologi partai itu, inilah yang menjadikan partai Islam di tanah air ini mati walaupun hidup hanya sebentar kemudian mati lagi;

Majalah Sabili merupakan majalah yang populer dikalangan anak muda Islam  yang  mengupas habis tentang  keadaan umat sekarang. Penulis sangat terkesan dengan tema yang diambil oleh majalah Sabili no.26  yang  berjudul “Politik Islam Sudah Mati.” Walaupun sudah diterbitkan beberapa tahun yang lalu namun  masih segar untuk dibahas apalagi sampai saat sekarang ini partai Islam belum berjaya dan masih berada dalam bayangan-bayangan partai Nasional.

Dalam majalah ini bapak Cholil Ridwan dari MUI mengatakan partai Islam saat ini  sudah knockout (KO), semua ini  karena terjadi penyimpangan  seperti, tak satunya perkataan dengan perbuatan. perilaku elit dan tokoh partai juga cenderung pragmatis dan juga meninggalkan perjuangan ideologisnya, menegakkan  Islam. Kata hatinya Islam, tapi perbuatannya jauh dari Islam.  Jangan-jangan dalam hatinya pun sudah luntur nilai-nilai keislamannya dalam berpolitik. Artinya, mereka tak lagi meyakini kebesaran Islam, sehingga kebijakan partainya tidak lagi mencerminkan nilai-nilai Islam.

            Sedangkan menurut Ustadz Fathuddin Ja’far MA meyakini jika politik Islam saat ini sudah habis alias mati. Apalagi partai Islam yang ada di Indonesia, ia anggap tidak sebagai partai Islam karena syarat-syarat dasarnya tidak terpenuhi.

            Partai politik Islam adalah partai yang berideologi Islam, mengambil serta menetapkan ide, hukum-hukum dan memecahkan problematika umat  dan bangsa berdasarkan umat Islam. Metode yang digunakannya pun harus mencontoh metode (Thariqah) Rasulullah saw.

            Karenanya, ada beberapa karakter partai Islam yang ideologis antara lain:

1.      Dasarnya Islam, hidup dan matinya untuk Islam

2.      Kader, konstituen dan simpatisannya adalah orang-orang yang berkepribadian Islam

3.      Memiliki pemimpin yang menyatu dengan pemikiran Islam dan dipatuhi selama sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah

4.      Partai Islam harus memiliki konsepsi (fikrah) yang jelas dalam hal bidang apapun

5.      Mengikuti metode perjuangan yang dilakukan Rasulullah saw.

Pertama: pembinaan  dan  pengkaderan

Kedua: bergerak dan bergaul bersama masyarakat

Ketiga: menegakkan syari’ah secara total bersama rakyat

6.      Membangun  partai dengan pembinaan  intensif sehingga meyakini ide-ide yang diadopsi partai

7.      Membina umat dengan  Islam

8.      Melakukan perang pemikiran terhadap ide, pemikiran dan aturan yang bertentangan dengan Islam

9.      Melakukan  koreksi terhadap penguasa yang tidak menerapkan Islam  atau menzhalimi rakyat  

10.  Perjungan politik melawan  Negara kafir , penjajah dan penguasa yang zhalim.

 Bagi mereka sebagai politisi melalui partai Islam semoga bisa menjalankan ideologi-ideologi Islam, jangan hanya mencari jabatan dan kekuasan melalui Partai Islam sehingga tidak menjadi fatamorgana dalam kehidupan ini.

Akhir kata dari tulisani ini mengutip perkataan Ali Mochtar Ngabalin

“Sampai kapanpun jika partai Islam dan pemimpinnya punya karakter penjilat seperti hari ini, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena itu, pimpinan partai Islam, ruhnya harus ruh jihad, nurnya wahyu Ilahi. Jangan terjebak pragmatis,  sekedar mengejar kursi menteri, fulus dan  menjadi budak dari harta.”

             *Penulis: Kompasianer, Kolumnis LintasGayo.com dan Remaja Masjid Kota Banda Aceh.

Comments

comments

News