by

Persoalan Gajah Putih Belum Tuntas, Mahasiswa Kembali Demo

mahassiwa Gajah Putih melakukan aksi demo di Kantor Bupati, Selasa (1/4/2014) (Foto Leuser Antara)
mahassiwa Gajah Putih melakukan aksi demo di Kantor Bupati, Selasa (1/4/2014) (Foto Leuser Antara)

Takengen| Lintas Gayo – Persoalan di Universitas Gajah Putih belum kunjung tuntas, mahasiswa kembali menunjukkan power melakukan aksi demo ke Kantor Bupati Aceh Tengah, Selasa (1/4/2014). Aksi demo ini dipicu karena pihak rektor, dekan, melanggar kesepakatan bersama.

Semula persoalan Gajah Putih yang semakin meruncing ini dijanjikan akan diselesaikan/ dibahas di kampus. Namun pihak rektorat, dekan, dosen, menggelar pertemuan di ruang Setdakab Aceh Tengah. Mahasiswa yang merasa dibohongi, akhirnya membanjiri kantor bupati.

Pada saat bersamaan, mahasiswa Unimal yang telah selesai melaksanakan tugas Kuliah Pengabdian Masyarakat (PKM) di Aceh Tengah  juga membanjiri halaman kantor bupati, mereka mau dilepas kepulangannya, walau dua diantara teman mereka meninggal dunia akibat kecelakaan longsor di Jalan Takengen Bintang.

Semula acara mahasiswa Unimal berlangsung khidmat , berubah tidak nyaman dengan hadirnya aksi demo dari mahasiswa Gajah Putih. “Kami menyesalkan sikap rektor yang tidak tegas. Semula ada perjanjian, bahwa  setiap persoalan UGP, akan dibahas di kampus.  Namun kenyataanya, justru  rektor, dekan dan dosen melakukan pertemuan di ruang bupati,” Ucap Asri, koordinator aksi .

Menurut Iswindi, pemang Presiden UGP, menjelaskan, pemindahan lokasi pembahasan persoalan UGP, menandakan pengurus UGP belum transparansi dalam menyelesaikan tuntutan mahasiswa. Persoalan UGP  yang terancam ditutup  layanan akademik oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti). Ancaman penutupan layananan akademik  ini,  karena UGP belum memenuhi persyaratan sesuai UU berlaku.

Sebelumnya, Sabtu (29/3/2014) mahasiswa juga sudah melakukan demo, menuntut rector UGP segera mundur dari jabatannya, bila persayaratan PTS yang sah menurut  hukum tidak mampu dipenuhi. Saat demo ini, pihak Rektor berjanji memenuhi tuntutan mahasiswa.

Menurut , Imran, mantan Presiden UGP, ada sejumlah poin yang disampaikan pihak mahasiswa ke pengurus kampus, sehubungan  ditutupnya layanan akademik oleh Dikti. Diantaranya  status dosen tetap, aktif dan memiliki ijazah S2.

Selain itu, setiap dosen harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Tidak sedang menjalani tugas belajar dari 6 bulan. Membuat surat pernyataan tertulis tidak terkait PNS/guru berstatus PNS serta memegang SK dosen tetap/tidak tetap.

Mahasiswa meminta kejelasan dari Bupati Aceh Tengah yang juga sebagai ketua yayasan, apakah dia menjabat sebagai ketua yayasan apakah sudah mendapat izin dari Mendagri.Aksi mahasiswa ini belum mendapat respon dari pihak bupati (yayasan) dan rector, mahasiswa yang melakukan demo meminta bertemu, tidak mendapatkan jawaban. “ Ini menandakan mereka tidak bertanggungjawab,” sebut mahasiswa.

Karena tidak mendapat jawaban mahasiswa kembali ke kampus menggelar doa bersama, agar semua persoalan yang dihadapi kampus kebanggaan Gayo ini mampu diselesaikan dengan bijak, pihak mahasiswa menyegel kampus UGP. (Fajri).

Comments

comments

News