by

Isra Mikraj dalam Dinamika Politik

Oleh: Tgk. Usman Nazaruddin Al-Qarni, SHI,

Usman NazaruddinHari ini selasa 27 Mei bertepatan dengan 27 Rajab 1435 H dimana seluruh umat muslim di dunia sedang memperingati perjalanan Rasulullah yang sangat bersejarah ini. Ada yang diperingati dengan mengadakan zikir, tabliq akbar, dakwah maupun dengan melakukan puasa sunnah pada hari ini. Israk berarti perjalanan dari Mekkah ke Masjidil Aqsa, sedangkan mikraj berati pejalanan dari Masjidil Aqsa sampai Siratul Muntaha (langit ke tujuh). Kedua perjalanan tersebut dilakukan oleh Rasulullah dimalam hari dalam waktu semalam. Secara logika mustahil perjalanan sejauh itu bisa ditempuh dalam waktu yang singkat, namun dalam tatanan iman atau kepercayaan tidak ada yang tak mungkin.

Kejadian yang terjadi pada tahun 621 M atau 1393 tahun yang silam tersebut masih kental disetiap ingatan kaum mukmin bahkan termasuk Hari Besar Islam dalam Kalender Nasional. Dari jumlah 124.000 para Nabi dan 114 yang termasuk Rasul, hanya Rasulullah Saw. yang Allah berikan kesempatan melakukan perjalanan yang sakral ini. Banyak kejadian dan hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan Rasulullah ini yang bermamfaat bagi individu masyarakat sebagai pemilih atau untuk kalangan Dewan yang terpilih maupun calon pemimpin yang maju pada pilpres juli mendatang.

Dalam perjalanan tersebut Nabi Muhammad bertemu dengan para Nabi yang lain seperti Nabi Musa, Isa, Ibrahim dan para Nabi yang lainnya. Setiap perjumpaanna itu, Nabi selalu bertanya tentang hal keadaan para Nabi tersebut serta umat mereka. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah kelak agar bisa mengatur umatnya lebih baik dari para Nabi-Nabi yang lain. Perjalanan tersebut selain berjumpa dengan para Nabi, Allah juga membuka bebarapa kejadian yang tersirat penuh makna pembelajaran untuk Rasulullah.
Pelajaran Berharga.

Saat Nabi muhammad sedang bersama Malaikat Jibril melintasi ruang untuk menuju surga dan neraka, tiba-tiba dibawahnya terlihat seorang manusia yang menumpuk-numpuk kayu ke atas pundaknya. Kayu yang di atas pundak diturunkan ke bawah dan kayu yang disampingnya di taruh kepundak, begitulah pekerjaan orang tersebut. Pekerjaan orang tersebut hanya menumpuk-numpuk kaya tanpa membawanya. Melihat keanehan tersebut Nabi pun bertanya perihal orang itu. Malaikat Jibril menjawab, itulah tamsila manusia yang sibuk mencari-cari jabatan. Setelah banyak didapati jabatan atasnya sehingga dia lalai dengan mempertahankan jabatan bukan menjalankan kewajiban atas jabatannya itu.

Ada banyak pelajaran menarik yang bisa dipetik dari perjalanan israk mikraj ini baik untuk masyarakat maupun pihak inspektorat serta pejabat pemerintahan dalam menjalankan kewajiban atas jabatannya. Kebiasaan dan lumrah di zaman sekarang manusia selalu menumpuk-numpuk jabatan agar mereka dengan mudah mendapatkan penghasilan yang berlimpah. Pekerjaannya sibuk mencari-cari jabatan serta mempertahankan kekuasaan itu tanpa sadar telah melalaikan kewajiban yang terpundak atasnya.
Realitas dikeliling mata kita maupun di berbagai media masa dapat kita saksikan, setelah pengumuman pasangan capres dan cawapres berbondong-bondong ingin menjadi tim sukses. Tidak dari kalangan pejabat, para pendandung, bahkan elit partai sekalipun berani hengkang dari partainya demi memenangkan capres dari partai lain logikanya dapat kita simpulkan, begitu antusiasnya mereka menjadi timses dengan harapan jika calon tersebut menang akan mudah mendapatkan jabatan-jabatan penting.

Pemerintah harus bersikap subjetif dalam melakukan mutasi dengan melihat kemampuan orang yang akan menduduki suatu jabatan harus seimbang bukan bersifat subjektif dengan menempatkan orang atas dasar kepentingan. Seperti kasus penempatan Kasatpol PP dan WH Aceh yang dinilai tidak relevan jabatan sekarang dengan back ground dasar yang dimilikinya. Pemerintah harus berfikir bahwa jabatan itu amanah rakyat bukan sedekah yang bisa dibagi-bagi untuk kepentingan pribadi sesaat.

Seorang sejarawan Islam yang bernama Dr Muhammad Husaein Heakal dalam bukunya “Hay Muhammad” atau kehidupan Nabi muhammad, menuliskan bahwa perjalanan israk mikraj menggambarkan kejadian yang sangat religius dan spiritual yang tertinggi dimana dimulai dari perjumppan dengan Nabi Adam sebagai Nabi pertama, melewati surga dan neraka sampai perjumpaan dengan pemilik alam semesta ini. Hal ini menggambarkan bahwa perjalanan yang dilakukan tidak sampai dalam satu malam tersebut telah mencakup dari penciptaan bumi sampai tujuan akhir dari perjalanan hidup manusia.

Setelah menerima kewajiban shalat tersebut Nabi muhammad kembali bersama Jibril ke permukaan bumi tempat sedia kala beliau tidur. Saat waktu shubuh tiba, Nabi belum bisa melakukan shalat subuh sehingga hanya melakukan shalat sunnah yang biasa beliau lakukan. Saat waktu zhuha turunlah malaikat zibril mengajarkan tatacara melaksanakan shalat lima waktu tersebut.

Setelah melewati surga dan neraka, Nabi muhammad dibawa untuk berjumpa dengan Allah tanpa ditemani Malaikat Jibril. Setelah perjumpaan tersebut, Allah menitip bingkisan untuk dibawa pulang oleh Nabi kepada umatnya agar punya kesempatan yang sama berjumpa dengan Allah meski dalam kondisi yang berbeda. Bingkisan tersebut yaitu kewajiban menunaikan shalat. Jumlah rakaat shalat mulanya sebanyak 50, namun akhirnya menjadi 5 rakaat atas permintaan dari Nabi Muhammad. Pada hakikatnya mengerjakan shalat itu adalah perjumpaan dengan Allah.

Dalam berbagai literatur sejarah, sejak Nabi memulai kewajiban pada shalat zhuhur tersebut tidak pernah beliau meninggalkan shalat dan Nabi hanya pernah sekali telat melakukan shalat subuh karena kesiangan disebabkan melakukan perang dimalam hari dan berakhir saat memasuki waktu shubuh. Karena kecapean semua sahabat dan Nabi istirahat sambil tidur serta sahabat yang diperintah untuk melakukan azan shubuh juga tertidur hingga akhirnya semua terbangun saat telah memasuki waktu dhuha.

Amanah Pada Diri Sendiri

Rasulullah yang menerima kewajiban shalat memegang teguh amanah tesebut dengan memjalankan kewajiban shalat. Dalam konteks seorang pemimpin seharusnya bisa mengambil tauladan bahwa pemimpin tidak akan diikuti oleh rakyat jika mereka sendiri malah tidak amanah terhadap jabatannya. Banyak qanun dan pergub yang dibuat menghabiskan anggaran milayaran rupian tidak berjalakn aplikatif. Contoh lainnya seperti larangan mengangkang yang dikeluarkan Walikota Lhokseumawe setahun yang silam juga tidak berjalan efektif. Sudah seharusnya pemerintah mengevaluasi diri apa yang salah terhadapnya sehingga rakyat tidak selalu menghindar dari aturan yang dibuatnya.

Menjelang pilpres yang akan berlansung juli mendatang, rakyat dituntut lebih teliti dalam memili sosok yang akan memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Sosok pemimpin yang problem solving sangat diharapkan dalam suasana negera yang dilanda berbagi masalah ini mulai dari banjir, kekeringan di musim kemarau sampai tingkat pengangguran yang semakin meningkat. pemerintah harus bersedia melakukan hirah-hirjrah kecil untuk menyaksikan secara lansung problmatika yang terjadi dimasyarakat jangan cuma mendengar laporan di meja Istana maupun Pendopo atau lewat HP Nokianya.

Mendekati pertengahan ke dua pemerintah Aceh dipimpin oleh ureung droteuh (orang Aceh sendiri) kehidupan di Aceh malah semakin terpuruk. Prestasi pendidikan menurun, angka pengangguran meningkat, kasus kekerasan bertambah, peredaran barang terlarang semakin merambah ke tingkat remaja. Anehnya, anggaran Aceh masih terjadi SILPA. Seharusnya pemerintah Aceh bisa memamfaatkan anggaran tersebut untuk meminimalisir potret-protret keburukan ini.

Dengan memaknai Israk mikraj ini kita semakin sadar dalam menentukan arah nasib bangsa lima tahun ke depan. Bagi para Dewan yang terpilih maupun para Eksekutif yang masih memangku jabatannya hekdaknya semakin sadar bahwa jabatan itu amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Semoga Dewan kali ini mampu melakukan hijrah yang baik dalam membawa perubahahan bangsa. Amiin

Penulis :  Pengasuh Majelis Taklim Asy-Syifa’ dan Siswa Sekelah Demokrasi Aceh Utara Agk. IV tahun 2014.

 

Comments

comments