by

Land Cruiser Dan Atlit Peminta-Minta

Takengen | Lintas Gayo- “Siapa yang mau beli sarung tinju? Kami tidak ada dana mau berangkat PORA ke Langsa,” sebut atlit yang tergabung dalam serikat atlit PORA Aceh Tengah, saat melakukan aksi pengutipan dana Rp 1.000, Selasa (3/6/) di Simpang Mapolres Aceh Tengah.
Aksi PORAKontraversial sekali dengan rencana bupati. Nasaruddin sang bupati di sana mengusulkan mobil dinas baru senilai Rp 1,67 milyar, sementara atlit yang akan mengharumkan nama daerah dalam even Pekan Olah Raga Aceh (PORA) di Aceh Timur, terpaksa menjadi peminta-minta di jalanan, karena tidak memiliki dana.
Lebih urgenkah mobil dinas dari pada atlit yang mengharumkan nama daerah? Dilain sisi negeri ini masih dibalut duka dengan hentakan gempa. Rumah-rumah warga masih banyak yang belum terbangun kembali, sebut Idrus Syahputra dari LSM Jang-ko.

“Apakah bupati tidak memiliki mobil dinas yang layak? Hingga saat ini ada dua mobil Dinas Bupati Aceh Tengah yang ekslusif, jenis camry dan pajero sports. Kondisinya masih mulus. Namun sang bupati ingin naik land cruiser,” sebut Aramiko Aritonang, Ormas Taruna Merah Putih.

Banner

Di lain sisi, atlit berbagai cabang olah raga yang akan bertanding di Aceh Timur, tidak memiliki dana. Para atlit selama ini memusatkan latihan, dengan mengandalkan dana keihlasan hamba Allah. Penulis yang menyaksikan atlit menginap di eks Bioskop Gentala, hidup apa adanya.

Gizi yang mereka konsumsi tidak sebanding dengan energi yang mereka keluarkan. Banyak atlit yang tumbang dan harus didatangkan tenaga medis. Namun semangat atlit untuk mengharumkan daerah dalam event bergengsi Aceh ini, tidak kendur.

Untuk latihan saja dananya belum jelas, apalagi untuk berangkat ke Langsa. Akhirnya para atlit di negeri dingin itu “sepakat” meminta sumbangan di jalan, demi mengharumkan nama daerah. Para atlit ini bertekad, apapun usaha akan mereka lakukan demi berangkat mengharumkan nama daerah.

“Pak sumbangannya untuk atlit PORA Aceh Tengah, seribu rupiah saja,” kata-kata itu penulis dengar dan saksikan ketika dilangsungkan upaya meminta bantuan kepada pengguna jalan di halaman Mapolres Aceh Tengah, Selasa (3/6). Dengan modal sumbangan uang recehan Rp 1.000.- para atlit ini berharap akan hadir di negeri Aceh Timur.

DPRK sudah merestui usulan anggaran mobil dinas baru, bahkan kini dalam proses tender. Walau untuk dinas bupati masih ada mobil dinas jenis camry dan pajero sport. Sementara land cruiser, sudah didem bupati.

Nas, panggilan akrab bupati, menjawab Pers, tidak merinci berapa mobil dinasnya. Dia juga tidak tahu berapa mobil dinas yang masih layak pakai. “Saya tidak tahu berapa jumlah kendaraan dinas yang masih layak pakai, nanti bisa di cek ke bagian umum. Atau coba ke pak Sekda saja,” jelas bupati.

“ Apa benar nilai mobil land cruiser yang sudah didem nilainya demnya Rp 80 juta. “ tanya wartawan. “Ya sudah di dem, nilainya saya tak ingat. Sekali lagi nilainya bukan tidak tahu, tapi tidak ingat,” sebut Nas , sembari menjelaskan, pembayaran dem mobil itu sudah lunas.

Soal usulan mobil dinas baru, Nas menjelaskan, bila pengadaan mobil dinas itu menyalahi aturan, maka pihaknya siap dievaluasi. “Nantikan ada aturan. Bukan asal diusul. Jadi coba dicek ke bagian umum. Kalau menyalahi aturan kita sesuaikan,” ulangnya. Soal Pajero walau sering dipergunakan bupati kelapangan, kini statusnya kenderaan pool sekretariat.

 Lain mobil dinas, lain pula pembangunan rumah baru milik pribadi Nasasruddin. “Bupati tidak beretika, tidak memiliki hati nurani. Saat rakyat sedang terluka karena gempa, saat itu bupati membangun rumah baru. Rumah yang lama juga sudah mewah untuk ukuran rakyat,” sebut Idrus Syahputra.

Soal Nas mau membangun berapa rumah pribadinya itu adalah haknya sebagai manusia. Namun ketika berbicara hati nurani, apakah ini contoh pemimpin? Di saat rakyat menanti bantuan perbaikan rumah akibat gempa, disaat itu pula bupati membangun rumah baru. Bupati harus membatalkan pengadaan mobil dinas yang baru, pinta kedua tokoh muda ini.

Namun aksi protes yang dilakukan altlit Aceh Tengah, justru menaruh simpati rakyat. Dengan pecahan Rp 1.000, bertekad mengharumkan nama daerah. Ini sejarah baru di sana, atlit menjadi peminta-minta. (Bahtiar Gayo/ Waspada edisi Rabu 4 Juni 2014)

Berita Terkait :

Comments

comments