by

Pencarian Jati Diri

Oleh Jamhuri, MA


Ketika saya sedang membaca buku “Prasangka & Konflik” (Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, pada bagian bab dua tentang “Apa yang menjadi identitas etnik”. Tiba-tiba seorang teman facebook (fadhli) menelpon dan bercerita bahwa dia baru saja membaca buku tentang “ma’rifah” (mengenal Allah), alasannya membaca  tentang ma’rifah karena ia ingin mengenal Allah dan dirinya lebih dekat, keinginan berbuat baik kepada orang sekeliling baru dapat dilakukan apabila kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri. Beliau pada saat itu membacakan ayat “qu anfusikum wa ahlikum nara” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).

Cerita tentang pengenalan diri secara panjang  lebar berlangsung melalui telpon dipadu dengan inspirasi dari membaca buku, menimbulkan keinginan untuk menulis tentang penelusuran identitas diri.  Identitas diri dalam tulisan ini akan bercerita secara subjektif tentang diri penulis dan akan berupaya menghasilkas nilai objektif, sasaran dari tulisan ini adalah supaya semua orang melakukan kegiatan  pencarian identitas diri dengan tujuan semua orang mengenal identitas atau jadi diri masing-masing.

Pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah “benarkah saya orang Gayo ?”

Untuk menjawab pertanyaan ini saya melihat dekumen pribadi yang saya miliki disitu tercantum nama saya Jamhuri, lahir di Blang Ara tanggal 9 maret 1967 dari seorang ibu bernama Selamah dan bapak bernama Ahmaddin (alm).

Desa Blang Ara sebagai tempat saya dilahirkan merupakan pecahan dari desa Kenawat kecamatan bukit kabupaten Bener Meriah (sekarang) dan ketika saya lahir masih kabupaten Aceh Tengah. Sejak saya lahir diajar berbahasa Gayo dan tidak pernah diajar bahasa lain, sehingga tahun 1986 saya mulai kuliah di Banda Aceh diawali dengan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), kebanyakan dosen pada saat itu memberi materi dengan bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia. Karena jarang menggunakan bahasa Indonesia ketika di sekolah MAN, MTsN dan MAN apalagi bahasa Aceh hampir tidak pernah didengar, hampir satu semester saya tidak pernah bertanya dalam kelas dan kalaupun bertanya saya gemetar dan berkeringat.

Saya dan kawan-kawan yang berasal dari Takengon di kampus dan tempat tinggal di Banda Aceh dipanggil dengan orang Gayo, artinya kami bukan orang Aceh. Itulah yang ada di benak kami. Setelah lama baru tau sebenarnya yang bukan orang Aceh itu bukan hanya kami tapi juga mereka yang berasal dari wilayah Barat dan Selatan Aceh dan tamiang yang terletak bagian Timur Provinsi Aceh serta beberapa daerah lain.

Di Aceh tampak perbedaan identitas (jati diri) lebih menonjol pada perbedaan bahasa dan tritorial, orang Gayo dikatakan sebagai orang Gayo apabila ia bertemu sesamanya maka ia menggunakan bahasa Gayo, selanjutnya baru tertuju pada daerah asal “Takengon identik dengan Gayo”. Perbedaan identitas di Aceh tidak didasarkan pada warna kulit (hitam, putih, kuning dan cokelat), rambut keriting atau lurus, bentuk muka lonjong atau bulat juga tidak mendasarkannya pada budaya. Kendati ungkapan yang menunjukkan perbedaan pada fisik dalam masyarakat kita temukan (gadis-gadis pesisir mempunyai betis yang kecil “tisni lemu” dan gadis Gayo mempunyai betis yang besar karena sering mendaki gunung.

Hilangnya bentuk fisik dan warna kulit menjadi dasar penentuan jati diri dikarenakan terjadinya perkawinan antar suku yang tinggal di Aceh, orang pesisir menikah dengan orang pegunungan, orang  Barat Selatan menikah dengan orang Timur dan Tengah Aceh, orang yang berwarna kulit cokelat menikah dengan warna kulit hitam. Kesemua ini menghilangkan identitas fisik. Sedangkan bahasa tetap bertahan pada masing-masing pengguna dan wilayah dimana bahasa itu digunakan.

Tidak puas dengan bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari Gayo, saya bertanya pada diri saya tentang budaya yang saya ketahui. Hampir tidak ada budaya yang saya ketahui selengkap budaya Gayo kendati saya tidak lagi tinggal di tanah Gayo selama 25 tahun (lebih dari setengah usia), tidak banyak jenis makanan yang saya sukai melebihi makanan yang terdapat di tanah kelahiran saya. Akhirnya pertanyaan pada diri muncul kembali, dengan bukti-bukti itu betulkah saya ini sebagai orang Gayo ?

Rekan-rekan yang berasal dari Gayo sering berkata baik dalam forum resmi atau tidak, bahwa sebenarnya diantara kita tidak ada lagi yang asli sebagai orang Gayo. Karena kalau kita tanya tentang garis keturunannya keatas, dapat dipastikan sudah bercampur dengan garis keturunan yang bukan lagi orang gayo. Boleh jadi orang Aceh, padang, jawa dan lain-lain.

Masih ada tempat bertanya untuk menelusuri jati diri, saya bertanya kepada orang tua (ibu) yang tinggal bersama saya di Banda Aceh tentang struktur keluarga, namun tidak banyak informasi yang dapat dipreroleh. Ibu menjelaskan bahwa kakek sebelah ibu (alik) berasal dari Gayo Lues, sedangkan nenek berasal dari Gunung Teritit yang asalnya dari Gunung Kebayakan sedangkan datu perempuan dari pihak ibu (berasal dari Aceh Tamiang). Cerita terputus ketika jalur Ibu berasal dari Blang Kejeren dan Tamiang, karena ibu tidak pernah dibawa bersilaturrahmi. Untuk jalur ayah juga tidak banyak informasi yang didapat dari ibu, yang jelas ibu dari bapak (nenek) berasal dari Bujang Takengon, sedang kakek dan ayahnya datu (ayah kakek) berasal dari Kenawat dan menurut keterangan yang pernah saya dengar dari ayah ketika ia masih hidup bahwa jalur keturunan beliau semuanya orang Gayo.

Masuknya datu dari Tamiang ke dalam garis keturunan ibu, menimbulkan keraguan terhadap kebenaran jati diri. Ini sebagai bukti kebenaran apa yang menjadi statemen orang-orang, bahwa hampir semua kita tidak ada lagi yang memiliki garis keturunan yang murni dari Gayo dan tanpa diselipi oleh orang dari luar Gayo. Tetapi dapatkah kita katakana bahwa ketika ada suku lain menyelip dalam garis keturunan kita, lalu kita katakana bahwa kita bukan lagi orang Gayo.

Teringat dengan Champion yang menjadikan bahasa sebagai identitas utama suatu kelompok etnik. Kata dia, “saya perlu menggaris bawahi bahwa setiap orang mempunyai pengalaman perjuangan pribadi. Perjuangan pertama untuk mengetahui dan memahami bahasa ibunya. Kedua, perjuangan untuk mengetahui dan memahami kompleksitas dunia dimana dia hidup, sehingga dia tahu tentang dirinya. Jika sudah tahu bahasa ibunya dan dunia tempat dia hidup dia akan tahu dirinya dan kebudayaannya. (Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S dan LKIS 2005)

Pernyataan Champion di atas memberi pemahaman kepada kita bahwa penelusuran identitas atau jati diri yang paling utama adalah bahasa, kedua baru wilayah dimana dimana dia hidup. Selanjutnya ditambah lagi dengan penelusuran garis keturunan ke atas, sehingga dapat membuktikan bahwa kita memiliki jati diri yang harus kita pertahankan dan kalaupun ada yang kita dapat dari luar hanyalah menjadi tambahan.

*Warga Banda Aceh asal Gayo

Comments

comments