by

Ketika Santri Dayah Gayo Berkunjung ke Media Tua di Sumatera

Tak kenal maka tak sayang. Petuah lama ini mengena di hati para santri dayah di Aceh Tengah. Mereka tidak pernah terpikir akan mengenal dunia jurnalistik. Calon ustadz ini lebih fokus ke dunia dakwah, pendidikan.

Namun setelah para santri dayah di Gayo dibekali dengan ilmu jurnalistik, mereka terkejut dan mengakui ada media dakwah lainya yang memiki kekuatan, tergantung bagaimana manusia mengendalikanya. Media itu adalah Pers.

“Awalnya saya pusing mengikuti materi jurnalistik ini, enggak nyambung,” sebut Elisa Putri, santri Dayah Al-Azhar, Pegasing, Aceh Tengah.

Para santri dayah bersyukur, karena Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah, memiliki program pelatihan jurnalistik kepada santri dayah. Disanalah awal cinta itu bersemi. Para santri dayah yang selama ini tidak mengenal jurnalistik, ahirnya mulai jatuh cinta pada dunia menyampaikan informasi..

Kausara Usman, pelaksana kegiatan mempercayakan penuh kepada Bahtiar Gayo, wartawan senior di negeri penghasil kopi ini untuk menempa para santri agar memahami dunia tulis menulis, baik straignews maupun feature.

Hampir sebulan penuh, tanpa hari istirahat, empat gelombang peserta pelatihan jurnalistik ini ditempa wartawan kompeten utama ini. Wartawan didikan harian Waspada ini, ahirnya menjadi orang tua bagi santri pelatihan, bukan hanya sekedar pemateri.

Hasil pelatihan jurnalistik untuk empat gelombang selama sebulan, ahirnya dipilih 30 santri untuk ikuti studi banding menyaksikan media cetak dari dekat. Ada kunjungan ke Serambi, Rakyat Aceh di Banda Aceh. (peserta juga mendapatkan ilmu dari Mahyadi Serambi, tehnik mengambil foto dan Jurnalisa Rakyat Aceh, kode etik jurnalisitik).

Usai dari Banda Aceh, santri dayah dari Gayo ini menuju bumi warta Waspada di Jalan Brigjen Katamso/Letjen Suprapto Medan. Mereka mengunjungi media tua di Sumatera tempat guru para santri dayah ini mengasah ilmu jurnalistiknya.

Walau kini Bahtiar Gayo sudah dipercayakan sebagai penanggungjawab media Dialeksis.com, namun jiwa dan darahnya masih tetap Waspada. Demikian pengakuan lelaki bertubuh agak kurus ini kepada santri dayah peserta pelatihan jurnalistik.

Para santri dayah ini ada yang kecewa, karena tidak semuanya bisa duduk dilantai atas Waspada, pihak Waspada membatasi enam orang santri dan 4 orang dari dinas Syariat Islam Aceh Tengah.

Mereka di Minggu keempat November ini, diterima Drs. Kairon Effendy, Ayu dari perusahaan dan Markos. Para sesepuh Waspada ini menjelaskan bagaimana kentalnya semangat perjuangan di Waspada, nuansa islami. Waspada yang lahir 11 Januari 1947, merupakan media perjuangan, media revolusi, media pembangunan dalam melakukan kontrolsosial.

Waspada yang didirikan oleh alrmahum Muhammad Said dan almarhumah Ani Idrus, kini sudah berganti silih generasi, namun semangat perjuanganya tidak pernah surut. Tetap menjadi media besar di Sumatera dan media nasional di daerah.

“Ternyata media guru kita mendapatkan ilmu adalah media perjuangan, pantasan semangat perjuangan itu dimiliki guru kita dalam mendidik para santri dayah,” sebut Siti Mahara, santri Dayah Ulumul Qur,an, Bebesen yang berkesempatan bertemu dengan pimpinan Waspada.

Waspada kini bukan hanya media cetak media online juga sudah lahir, ada pusatnya di Medan dan Aceh namanya tetap Waspada.

Usai mengunjungi berbagai media, baik di Aceh dan Medan, ahirnya para santri mengerti, ternyata mengelola media itu berat. Butuh pendanaan yang besar, butuh manusia yang memiliki skil, membutuhkan wartawan yang professional.

Awalnya para santri dayah di Aceh Tengah ini tidak  “sayang” dengan dunia jurnalistik, mereka tidak tahu bagaimana membuat berita. Namun setelah dibekali dengan ilmu straignews dan feature, rasa cinta itu tumbuh. Apakah lahir generasi wartawan atau penulis dari dayah? ****

Penulis tim santri dayah, peserta pelatihan jurnalistik Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah.

 

Comments

comments

News