by

Merajut Budaya Gayo Seri ke 1 : Problematika Tari Guel

Muchlis Gayo, SH

Oleh: Muchlis Gayo, SH. M.Si*

Tari Guel, judul tari yang semakin popular, tatkala muncul konflik kepentingan dan pers mengangkat untuk konsumsi publik. Berbagai data telah mengungkapkan permasalahan tari guel,yang ditarikan sang maestro Tari Guel Mahmude Bayak, lebih dikenal dengan julukan ” Aman Rabu”. Pada PKA I tahun 1958, aman Rabu menarikan Tari Anyong diberi nama Tari Guel, sayangnya Tari Anyong Guel ini dianggap tari hiburan, gagal memenuhi kreteria panitia PKA I.

Banner

Tidak mau mengulang kegagalan, 14 tahun kemudian, pada PKA II 1972, Bupati Aceh Tengah alm. Nurdin Supie mengumpulkan para seniman di Pendopo, diantaranya; Panitia PKA II Aceh Tengah, penata tari, penari tari tradisi, dan “guru guel”( pemukul rapana), untuk mengkaji asal muasal “Tari Guel”, agar dapat dibuat deskripsi Tari Guel. (Saat itu penulis hadir sebagai calon penarinya). Karena tidak ada literatur, dan yang mengetahui sejak kapan orang Gayo menarikan Tari Guel, atas usul alm. Arif Ketua kontingan, dan alm.Zamzam Putih, deskripsi Tari Guel yang ditampilkan Pada PKA II, tentang amanah Bener Merie dalam mimpi Sengeda, untuk datang ke makamnya, membawa benda-benda jika dipukul mengeluarkan suara. Para petua mengimajiner seakan-akan pesan Bener Merie; “adikku, datang kekuburanku, pukulah (guel), benda-benda yang mengeluarkan suara, jika muncul gajah, itulah jelmaanku, antar aku ke Sultan Aceh”.

Dua hari kemudian, di rumah alm. Zamzam Putih, dibelakang Pendopo, disusun dekripsi Tari Guel, yang dihadiri oleh para seniman tari, diantaranya; penata tari Syaifuddin Kadir, penari tua Mahmude Bayak, céh/syéh Regom, syéh Sahak. Penata musik,Syéh Kilang, Ecék Bahim, Item Madjid. Disepakati deskripsi dan skenerio Tari Guel, dengan durasi 15 menit, terdiri dari 4 babakan : Babakan ke 1, Salam : Babakan pembuka, berdoa, salam kepada ruh raja-raja terdahulu, izin kepada isi alam semesta,tergambar pada jangèn, dan gerak tari Guru Didong: Dak papan, Sénèng lintah, Kepur Nunguk, dan Séngkér kalang, oleh ke4 penari Guru Didong, disebut Penatap. Babakan ke 2,Munatap :Rapana ditabuh dengan nada bersahaja, dan hidmat, agar sang gajah bangkit, gerak belalai, kuping, dan kaki gajah. Babakan ke 3, Redep/Dep: Gajah Putih bangkit perlahan, lalu bergerak membentuk posisi perjalanan jauh, diikuti ke 4 penatap. Babakan ke 4, Cincang Nangka,Sulthan, dan rakyat bersuka ria melihat sang gajah sampai ke Istana Sultan. Ada yang mengusulkan seakan-akan Raja Lingga Ke XIII yang memerintah Bener Merie dibunuh, datang merebut Gajah Putih, dan Gajah Putih mengamuk, sehingga rakyat kucar kacir.

PKA II 1972 bertema, menggali kembali kekayaan nilai-nillai budaya,dan peradapan Aceh. Di bidang seni tari Aceh Tengah tampil disemua cabang, Tari tradisional; Tari Guel, dan Didong Banan, Tari tradisi kreasi; Tari Resam I Gayo, dan Resam Berume, Tari Remaja; Tari Peteri Bensu, Tari anak-anak sedang; Tari Remang Ketike. Sebelum diberangkatkan, Bupati Aceh Tengah menetapkan TARI GUEL adalah tari gerak sendi Gajah, artinya,yang digerakan saat menari Tari Guel ; sendi tangan, sendi kaki, sendi pinggang, dan sendi leher, maka Bupati melarang wanita menarikan tari guel, dianggap sumang, jika wanita menggerakan sendi tubuh, terlihat erotis.

Jelas, bagi yang faham karya cipta, bahwa TARI GUEL”, adalah tari yang diciptakan oleh Tim Pemerintah Daerah Aceh Tengah tahun 1972.Adakah Tari Guel sebelum tahun 1972 ?, pertanyaan ini dijawab dalam buku Tanah Gayo dan Penduduknya, judul asli “Het Gajoland en Zijne Bewoners” karya C. Snouck Hurgronje hasil wawancara dengan Nyak Puteh, pemuda dari Isak berusia + 40 tahun, diperkirakan lahir 1850: Tidak ada, yang ada disebut “Guru Guel”, dan “Tari Didong”. Guru Guel, adalah “seseorang yang ahli memukul rapana”, karena irama pukulan rapana dapat menggetarkan jiwa pendengar, maka bangkitlah orang-orang menggerakan tangan dan kakinya mengikuti irama pukulan rapana, disebut menari. Lahirlah Tari Belang, menari di lapangan. Tari anyong, menari di Anyong, Tari aman mayak, menari didepan Sarak opat, setelah dicandaigadis-gadis sehabat Inen Mayak.

Namanya Gayo Lut, selalu ada 2 bagian, pada PKA berikutnya,anggota Tim perancang musik Tari Guel pada PKA II, Alm. Syeh Kilang bersama alm. Ibrahim Kadir melahirkan “Tari Bintang Dikarang”, bertema Sengeda, dan Bener Meriah, didampingi para dayang, fokus tari; Sengeda membangkitkan Bener Merie, lalu bersama dayang menari, ini tari bagus. Masalahnya, di Iringannya, mirip musik Tari Guel PKA II, bedanya pada :nama, pola lantai, jumlah, dan jenis kelamin penari.

Pada tahun 90-an muncul Tari Munalo, gerak, pola lantai, komposisi penari, mirip Tari Bintang Dikarang, musiknya mirip musik Tari Guel. Kedua tari ini ditarikan rata-rata oleh pelajar dari tingkat SD sampai SLA, mereka namakan “ TARI GUEL”. Era digital melanda dunia, yang namanya Tari Guel, dan Kerawang Gayo menerawang angkasa luar, sampai kepelosok bumi, sehingga isi bumi dibingungkan, tidak faham membedakan antara; Tari Guel, Tari Bintang Dikarang, Tari Munalo. Jangankan generasi muda dataran tinggi Gayo, Pemerintah Daerah Aceh Tengah “ibu kandungTARI GUEL”, tidak memiliki Kartu Keluarga dari anak-anak yang dilahirkannya. Akibatnya, tidak ingat bentuk wajah anak-anak, yang bernama: Tari Resam Berume, Tari Resam I Gayo, Tari Puteri Bensu, tari Ésék ésék uwi, Tari Remang Ketike, Tari Emun Beréréng, Tari Nénéng nénéng, Didong Banan. Konon pula mengenal nama anakyang dilahirkan diluar rumahnya, seperti Tari Kesume Gayo, yang pernah mengisi acara di Istana Negara, di era Presiden Soeharto, nama Tari Batél, Opoh Beru dll.

Melihat, menyaksikan, ketidak pastian tari bernama Tari Guel, yang lahirnya penulis saksikan,dan semasih Allah memberi waktu kepada penulis, untuk mendokumentasikan karya seni tari terbesar Pemda Aceh Tengah itu, maka pada tahun 2020 terbitlah buku, berjudul, “TARI GUEL SEJARAH DAN CARA MENARIKANNYA”. Setelah buku diterima Bupati, melalui Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, muncul gagasan Bupati tahun 2022 TARI GUEL ditarikan oleh 10.001 penari, untuk memecahkan Rekor MURI Tari Saman tahun 2017, 10.000 penari, ( sebenarnya 12.262 penari).

Buku Tari Guel yang penulis terbitkan, disepakati Kadis Pendikbud,menjadi rujukan Tari Guel pemecah Rekor MURI tahun 2022. Atas persetujuan Kadis Pendikbud, Kepala Kemenag, Kadis Cabang Pendikan Aceh, Buku Tari Guel tersebut,dibeli oleh kepala sekolah dari tingkat SD/MIN, sampai SMA/MAN/SMK se Kabupaten Aceh Tengah. Kabid Kebudayaan Erfan, SE, menyusun program, tahun 2021; pelatihan instruktur yang penulis latih, lalu instruktur melatih guru-guru kesenian, dari setiap jenjang sekolah, kemudian tahun 2022 guru-guru melatih 10.000 pelajar. Diperjalanan waktu, Kabid Kebudayaan diganti oleh Drs, Badi, latar belakang pendidikan Olah Raga, maka terjadi perbedaan ke bijakan, dan obyek tari guel pemecah rekor Muri tahun 2020.

Viralnya konflik antara Kabid Kubudayaan, dengan Agha, dampak tidak dibuat regulasi bersama ketiga instansi terkait tentang pelaksanaan program, yang mengatur jadwal tahapan latihan, sumber gerak, musik, pelatih, jumlah peserta, nama kreografer dan lokasi ditampilkan, besaran dan penggunaan anggaran.

Sebagai contoh yang penulis alami, pada tanggal 3 September 2021 Kabid Kebudayaan melalui WhatsApp mengirim foto lembaran daftar nama tulisan tangan, 10 orang calon instruktur, terdiri dari; 6 orang pemusik, 4 koreografer, diberi catatan waktu 4 hari, dari tanggal 4,sampai 8 September 2021. Dilihat dari waktu dan orang-orang yang dikirim, membuktikan PPTK tidak membaca buku yang dijadikan obyek pemecah rekor MURI. Tapi okelah, pada hari Sabtu, 4 September, datang 6 orang; 4 laki-laki 2 perempuan, 5 orang pemusik, 1 orang S1 jurusan tari, sebelum latihan penulis jelaskan; sebelum belajar gerakan, wajib mempelajari pukulan atau nada rapana, karena gerakan tari guel mengikuti nada pukulan.

Setelah sepakat, penulis mengeluarkan gegedem, dan 1 set canang, latihan pukulan rapana dimulai, pada hari ke 3, muncul 1 orang lagi, memasuki hari ke 4, aula hotel dipakai, pada tanggal yang sama penulis ke Banda Aceh, maka penulis kumpulkan ke 7 instruktur tersebut, menjelaskan penundaan latihan, lalu penulis serahkan buku Tari Guel didalamnya ada notase pukulan untuk mereka pelajari sendiri, tiba-tiba juru bicara tim calon instruktur, menyatakan; izin dari Kabid hanya 4 hari, jika lebih kami tidak dapat honor, yaaah!! Berarti latihan instruktur selesai. Melalui Handphone Penulis memberi tahu saudara Badi tentang keputusan tim instruktur, yang saat itu kabid berada di Banda Aceh, berjanji akan menemui penulis. Seminggu kami bertemu di Linge Land Hotel, awal pembicaraan kabid meminta penulis sendiri mencari instrukturnya, tentu tidak mungkin. Lalu kabid menyatakan; “ jika begitu, izin kami latihan di kantor, diahir latihan abang sesuaikan gerakannya dengan yang dibuku” , mulut saya menjawab “bohmi” bathin saya berkata “terserah apa maumu Di”.

Setelah 5 hari, konflik yang terjadi di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan viral, tepatnya pada, 27 November 2021, datang ke kantor penulis pelatih, yang melatih ke 80 orang calon instruktur, beliau berceritera tentang penyebab munculnya konflik, semestinya tidak perlu terjadi konflik jika didahului dengan regulasi dinas. Dalam dialog pelatih ini menjelaskan materi yang dilatih 50 % Gerakan versi Muchlis Gayo, 50 % Gerakan Ibrahim Kadir, penulis kaget, ini yang ke 99 terdengar kata versi Muchlis Gayo.Untuk melempangkan kata versi itulah, maka penulis menjelaskan melalui rubrik Opini Lintas Gayo ini.

Bahwa : Penulis TIDAK PERNAH MENCIPTAKAN TARI GUEL, pencipta Tari Guel,yang penulis Tulis dalam buku, adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah tahun 1972, dan melalui rubrik ini juga mengingat Pemerintah Daerah; 1. Penulis hanya menjaga kemurnian hak intelektual Tari Guel, dan Tari Bintang Dikarang. 2. Jika judulnya Tari Guel, untuk memecahkan rekor MURI pada tahun 2022, maka yang dilatih Tari Guel produk Pemerintah Daerah, yang dimuat dalam Buku Tari Guel Sejarah dan Cara Menarikannya, kecuali ada buku lain yang bumbuktikan bukan seperti yang penulis ungkapkan. Jika tidak dari buku penulis, Pemerintah Daerah Aceh Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Kementerian Agama Takengon, Dinas cabang pendidikan Aceh, mengembalikan dana bos yang dikeluarkan oleh kepala-kepala sekolah untuk membeli buku penulis tersebut, dan membayar ganti rugi biaya percetakan sebanyak 300 buku,pesanan Kepala Dinas Pendikbud yang belum diedarkan.

Konsep TRI SAKTI Bung Karno menginginkan Indonesia menjadi negara yang Merdeka dari pengaruh asing, Indonesia menjadi negara mandiri disemua aspek, terakumulasi dalam 3 sikap ; Berdaulat dalam politik, Berdikari dibidang ekonomi, 3. Berkepribadian dalam Kebudayaan.khusus khusus sikap; berkepribadian dalam Kebudayaan, pemerintah Presiden Jokowi, mengundangkan UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, di implementasikan dalam Perpres no. 65 tahun 2018, tentang Tata Cara Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaa Daerah, dan Strategi Nasional. Dipedomani dalam Permendikbud No. 45 tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan poko pikiran kebudayaan daerah.

Dalam Perpres tersebut diminta semua daerah Kabupaten/Kota menyusun pokok pikiran kebudayaan, hasil cipta, rasa, karsa, leluhur yang masih mungkin digali, dikaji, dinalisis untuk dikembangkan.Dalam permendikbud diatur ada 6 tahap, penyusunan pokok pikiran kebudayaan.Kreteria unsur tim ahli yang memiliki kompetensi, dan kredebilitas dalam obyek pemajuan kebudayan, diatur khusus dalam lampiran II permendikbud, terlihat pemerintah pusat tidak sekedar memakai lipstick masalah kebudayaan ini.

Gayo yang pernah disebut masyarakat adat, memiliki semua unsur kebudayaan yang murni lahir dari alam pikir orang Gayo.Oleh sebab itu Pemerintah Daerah tidak boleh asal tunjuk, anggota Tim Ahli yang ditugasi menyusun pokok pikiran kebudayaan Gayo.Penuhi kretria yang diinginkan dalam permendikbud, jangan silau dengan gelar doktor, yang bukan doktor dibidang kebudayaan.

Kita pantas meragukan kinerja Dinas Pendidikan, dan Kebudayaan bila bercermin dari peristiwa persiapan untuk pemecahan rekor MURI Tari Guel 10.001 yang semestinya 12.263, jika ingin melebihi Rekor penari Saman, dan cara menyelesaikan konflik antara tenaga honor daerah dengan pejabat negara eselon III/a, nyata, dan viral tapi aneh.

Takengon, 30 November 2021

* Penulis merupakan peminat sejarah dan budaya Gayo. Penulis buku “Tari Guel, Sejarah dan Cara Menarikannya; Merajut Jati Diri Suku Gayo”.

Comments

comments