by

Bahasa Perilaku Rasa

(Rasa e Kin Basa e)

Joni MN, Spd.,S.Pd.I., M.ELT*

Pesan Damai

Berbicara masalah “Rasa & Basa (Bahasa)” hal ini identik dengan fikiran, Qalbu dan perasaan Manusia, permasalahan rasa sangat melekat dengan semua anggota tubuh dan direkam seterusnya tersalur melalui otak ke  hati dan jantung, seterusnya di sebar informasinya ke seluruh tubuh sehingga timbulah rasa, Ilustrasi yang beraneka ragam sesuai dengan karakter dan apa yang diinginkan. Bahasa inilah untuk membedakan antara Manusia dengan Mahluk ALLAH yang Lain di Alam ini.

Rasa atau dengan sebutan lain Perasaan – mampu membuat manusia tertawa/bahagia, sedih/menangis, terharu, heran dan sebagainya. Hal tersebut sangat erat korelasinya dengan “Basa (Bahasa)” yang mana Basa inilah salah satunya yang mampu atau dapat membuat Rasa/perasaan yang terekam di hati dan memperoduk beragam expresi yang terilustrasi melalui semua anggota tubuh, oleh karenanya Mulut sebagai medium bahasa sangatlah benar-benar harus dijaga karena Basa yang memakai medium “Mulut” sebagai perantara bunyi atau suara. Jadi, yang sopan berbicara, berperasaan bersih dan berahlak mulia, maka jiwa dan orangnya akan menjadi paling Bahagia dan mendapatkan kondisi yang baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya Ia memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal ALLAH Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal DIA (ALLAH), Penguasa jagat raya alam semesta ini. Orang itu akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan ALLAH semata. Tidak dinafkahkan di jalan ALLAH, pasti ALLAH akan mengambilnya jika DIA kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur dan lebih mudah untuk meminta lebih-lebih menerima kata-kata ma’af baik dari siapapun kata tersebut datangnya. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan ALLAH semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi ALLAH berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.” (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-NYA.

Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semerawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan ALLAH SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat ALLAH. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada ALLAH).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah ALLAH SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati dan itu pasti. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya ALLAH, seperti yang tertuang dalam Pepatah Gayo Bulet Lagu Umut – Terus Lagu Gelas dan apabila sudahter lanjur salah kembali ke filosuf tingkěs ulag ku bidê sesat ulag ku dēne, menurut penulis petuah ini sangat bijak.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Salah satu jalan untuk meraih hal tersebut diatas adalah selain mengerjakan apa-apa yang sudah diwajibkan oleh ALLAH sembari kita mengaplikasikan norma dan nilai-nilai Budaya kita masing-masing, seperti halnya pada masyarakat Gayo telah tersistem budaya mereka dengan pola  Sumang Opat, yaitu pada masyarakat Gayo ada 4 aspek yang sangat dilarang untuk tidak dilakukan, hal ini bertujuan untuk dapat membersihkan Rasa dan Basa atau prilaku agar segala bentuk interaksi didalam Masyarakat dapat berkesan dan dinyatakan berhasil (Nopember 2010: Joni MN) ** Bukunya akan diterbitkan.

*Pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih Takengen

Comments

comments