by

Band Tutu, Beri Warna Belantika Musik Gayo

Tutu Band di Wapres Cafe Takengon. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Tutu Band di Wapres Cafe Takengon. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)

Takengon | Lintas Gayo – Grup band Tutu menjadi populer dikalangan masyarakat Gayo yang mengaransemen ulang lagu-lagu didong kedalam musik yang lebih berwarna.

Kehadiran grup band ini tidak terlepas dari Joel Tampeng sebagai salah satu penginisiator munculnya grup band yang dberanggotakan Sahnan, Ikrar, Oni dan Iwan Sejahtera. Mereka semuanya merupakan mahasiswa Gayo yang dulunya sempat menimba ilmu di Yogyakarta.

Dari negeri keraton tersebut, grup Tutu ternyata telah memberikan warna kepada musik Gayo yang sebelumnya ramai dimainkan oleh satu organ saja yakni keyboard.

“Saya bukan anti dengan keyboard, tapi sayang musik Gayo yang begitu khas harus dimainkan oleh satu pemusik saja, atas dasar inilah kami membentuk grup band Tutu sehingga memberikan warna akan lagu-lagu Gayo itu sendiri”, kata Joel Tampeng di Wapres Cafe Takengon, Selasa (02/04/2013).

Menurutnya, kekhasan yang dimiliki oleh syair-syair didong dari para ceh-ceh terdahulu telah memberikan warna yang berbeda dalam didong.Tutu2

“Misalkan saja, Ceh To’et, Daman, Sali Gobal, Lakiki dan lainnya, karakter mereka satu sama lain tidak ada yang sama, ini menunjukkan didong merupakan seni yang berwarna, sehingga menginspirasi kami memberikan sentuhan baru untuk didong itu sendiri dengan dimusikkan”, lanjut Joel.

Grup band Tutu yang membawakan tiga buah lagu ciptaan (alm) Sali Gobal berjudul Uten, Sange dan Kemaro tersebut mampu menghibur pengunjung yang memadati Wapres Cafe Takengon.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh pimpinan Wapres Cafe, Windo dengan dukungan sejumlah pihak termasuk Lintas Gayo ini merupakan acara untuk kesekian kalinya guna mengapresiasi seniman-seniman Gayo yang baru maupun telah menasional. Kegiatan ini dipandu oleh penyair Salman Yoga.S. (Darmawan Masri/red.03)

Comments

comments

News