by

Keberni Gayo : Masyarakat si Bijak Mumilih Reje

A. Pendahuluan

Pemilihan kepala Daerah Khususnya di Tanoh Gayo tidak lama lagi diadakan, para bakal calon sudah mulai memasang ancang-ancang, terkadang mereka tidak mau lagi disebut dengan bakal calon (balon) malah mereka lebih suka menyebut dirinya dengan calon. Pemanfaatan berbagai media (spanduk, mengunjungi saudara, family)  untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat telah dilakukan sehingga sedikit banyaknya masyarakat yang memilih di seluruh pelosok Gayo  dan mereka yang akan dipilih sedikit banyaknya sudah mulai saling mengenal.  Perkenalan yang baik adalah perkenalan yang memberi  bekas di benak masing-masing namun terkadang perkenalan sesaat yang dilakukan hanya menimbulkan kesan sepihak bagi masyarakat atau mereka yang akan dipilih. Yang jelas harapan besar dari bakal calon tetap lebih besar dari masyarakat, sehingga sering para balon tergiring dengan apa yang dimaui oleh masyarakat.

Untuk menjawab permasalahan tersebut Pengelola acara KEBERNI GAYO yang tayang pada hari jum’at tanggal 29 April 2011 di Aceh TV mengundang Syafruddin, MM. salah seorang balon Wakil Bupati Aceh Tengah berdialog tentang tema “Masyarakat Si Bijak Mumilih Raje”. Dalam menggali informasi dilakukan dialog dengan presenter selanjutnya dibuka ruang interaktif, harapan yang diinginkan adalah memberi pemahaman kepada masyarakat dan bakal calon sehingga kecerdasan berpolitik lahir dari Gayo.

B. Pemaparan

Mengawali dialog bersama Syafruddin,  dimulai dengan pertanyaan tentang siapa sebenarnya masyarakat. Dia menguraikan bahwa masyarakat itu dalam kaitannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) yang akan dilaksanakan ada dua, pertama masyarakat yang memenuhi syarat sebagaimana yang ditentukan Undang-Undang untuk memilih dan kedua masyarakat yang tidak memilih, boleh jadi masyarakat yang tidak memiliki identitas sebagai anggota masyarakat atau mereka yang tidak memenuhi syarat lain. Untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap apa yang mereka harapkan, jadi mereka ini tidak bisa dibedakan dan selalu dianggap sebagai satu kesatuan agar tercermin kebutuhan yang menyeluruh yang selanjutnya dapat ditindak lanjuti.

Keberadaan masyarakat dalam Pemilu sekarang dan periode yang lalu tidak lagi yang namanya memilih Reje melalui wakil rakyat, tetapi melalui pemilihan langsung. Upaya para balon ketika pemilihan secara langsung untuk mencari dukungan yang akan memilih nanti pada waktunya pasti lebih berat, karena sebelumnya  cukup dengan mengadakan lobi dengan para wakil rakyat dan dapat meyakinkan mereka serta memenuhi  syarat yang sesuai ketentuan Undang-Undang maka upaya selesai. Tapi ketika sekarang pemilu langsung,  para balon yang menggunakan partai sebagai perahu harus mengadakan pendekatan dan lobi politik, tapi tidak cukup dengan itu mereka harus lagi mendekati masyarakat yang akan memilih secara langsung karena kegunaan partai hanya sebagai syarat. Di sisi lain belum tentu  mereka yang memilih partai tertentu dalam pemilu Legislatif memilih partai yang sama dalam pemilu eksekutif. Untuk mereka yang independen juga harus memenuhi syarat dengan mengumpulkan KTP dengan jumlah persen yang telah ditentukan oleh peraturan.

Sebenarnya bukan hanya balon yang lelah tapi juga masyarakat, masyarakat harus meninggalkan aktivitas yang seharusnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan namun karena balon yang datang dan silih berganti mereka juga harus menunggu, karena memang  juga ingin mengenal dan selanjutnya memilah siapa yang dapat memenuhi harapan mereka. Mereka tidak dapat menentukan pilihan dari awal karena harapan mereka ada di tangan siapa yang akan menjadi Reje, sehingga kejelian masyarakat sangat diperlukan dalam menentukan sosok dan diharapkan tidak menimbulkan kebosanan dari calon pemilih dalam memilah.

C. Interaktif

Aman Aini seorang penelpon menanyakan, bahwa orang yang menjadi Reje adalah orang yang berupaya menjadikan dirinya sebagai pemecah masalah yang ada dalam masyarakat, karena itu untuk Syafruddin apa masalah yang ada dalam masyarakat Gayo sehingga bapak berkeinginan untuk menjadi calon pada periode mendatang ini ? Kemudian pertanyaan kedua berkenaan dengan keadaan masyarakat yang pragmatis ? Ada dua masalah mendasar  yang ada dalam masyarakat Gayo, pertama adalah 90 % masyarakat kita petani, karena itu perhatian harus lebih besar porsinya kepada bidang pertanian. Lahan pertanian semakin menyempit karena lahan baru tidak ada lagi sementara masyarakat kita hanya mengandalkan tanah warisan, kualitas tanah menurun sehingga hasil makin lama makin sedikit, kebutuhan semakin besar baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ataupun untuk kebutuhan pendidikan anak dan lain-lain. Karena itu harus ada upaya peningkatan kualitas manusianya, yang selama ini berpikir kwantitas menjadi kualitas tanah. Sebagai contoh ibu dan keluarga kita dari dahulu memiliki tanah yang itu sampai sekarang yang itu juga dengan pola olah yang tidak pernah berubah dan hasil menjadi lebih sedikit dan tidak ada upaya untuk membinanya.

Tipe masyarakat ada tiga bila dihubungkan dengan Pemilu : Pertama mereka yang berpikir rasional, mereka ini benar-benar menghadapi pemilu sebagai penentuan nasib rakyat yang akan ditentukan apakah menjadi lebih baik atau masih tetap seperti biasa. Kelompok ini tidak memerlukan apa-apa dari balon, sangat selektif dan penuh pertimbangan dalam memilih, yang diperhatikan adalah kualitas calon Reje, visi misi dan program menjadi penting. Mereka tidak bisa dipaksakan dan inilah yang dimaksudkan dengan masyarakat cerdas dalam memilih. Kedua adalah tipe tergantung angin, tipe seperti ini ikut-ikutan, mereka tidak mau berpikir panjang dan tidak perduli dengan akibat yang ditimbulkan kemudian dan selalu menganggap bahwa pemilu tidak pernah membawa pada perubahan nasib mereka. Terakhir yang ketiga adalah kelompok yang berpikir pragmatis, mereka mencari kehidupan dari situasi pemilu dan dalam ucapan sering terdengar kalau ada balon yang datang ini adalah lahan garapan baru dan orang Gayo Lues menyebutnya dengan “kulem ayu.”

Tapi kita tidak bisa hanya menilai masyarakat, para balon juga harus cerdas artinya mereka harus memberi pendidikan, pembinaan kepada masyarakat dengan sikap jangan menilai (menukar) harga diri masyarakat dengan uang Rp. 50.000,-. Itu artinya kita sebagai balon yang terjaring dengan kehendak yang tidak baik dari masyarakat, Sebagai balon harus tetap berupaya tidak hanya berharap suara dukungan dari masyarakat tetapi juga membina dalam membentuk kecerdasan masyarakat yang menjadi tujuan sehingga kalaupun nanti tidak terpilih tidak menimbulkan kekecewaan karena yang dipilih oleh masyarakat yang cerdas adalah calon yang cerdas.

Penelpon kedua adalah Toni, menyoroti tentang perlunya perhatian tentang kemudahan dalam pendidikan, kemudahan tidak hanya bagi mereka yang berada di daerah tapi juga di luar daerah. Untuk hal ini nara sumber menjawab bahwa realita sekarang mutu pendidikan di Gayo masih memerlukan perhatian ekstra, kita ketahui beasiswa banyak, kesempatan melanjutkan pendidikan dalam negeri dan luar negeri selalu dibuka lebar, tapi kenyataannya mereka yang berasal dari dataran tinggi Gayo sangat kurang jangankan tidak lulus tes mendaftar saja sangat sedikit.

Pengangguran intelektual mempunyai masalah tersendiri, banyak mahasiswa yang sudah  tamat kuliah karena lapangan kerja di Pemerintahan sangat terbatas sehingga harus menganggur, seharusnya ini tidak perlu terjadi apabila mereka mempunyai skill untuk berwirausaha. Untuk sebuah daerah kalau ini tidak diperhatikan berbahaya, untuk itu alangkah baiknya ada suatu format pendidikan berdasarkan kebutuhan wilayah dan mereka yang tamat hendaknya memiliki skill, karena itu perlu ada training dan pelatihan.

Syahrial dari Keudah, mempermasalahkan kondisi Gayo pada saat ini. Banyak koperasi dan pengelola pertanian dikuasai oleh mereka yang berasal dari luar dan nampaknya mempunyai jaringan sistematis, mereka membeli hasil kopi dari petani dengan harga yang lebih bagus namun berakibat matinya pengusaha kecil yang ada di daerah.  Syafruddin menjelaskan bahwa koperasi-koperasi yang ada selama ini di Gayo belum berjalan sesuai dengan cita-cita koperasi itu sendiri, sehingga masyarakat juga dalam hal ini berpikirnya pragmatis dan mana yang dapat memberi keuntungan secara financial lebih cepat itu yang dipilih.  Harapan terakhir perlu adanya pembinaan masyarakat dari balon sendiri ataupun lembaga lain yang mempunyai otoritas untuk itu, sehingga apa yang menjadi tujuan Pemilih dan yang dipilih cerdar akan lahir.( Drs. Jamhuri, MA)

Comments

comments