by

Misteri Dibalik Sumber Alam Gayo

PhotokuMenarik membaca postingan salah satu group facebook Gayo yang membahas tentang petani kopi, walaupun saya mengaku tidak terhenyak dengan postingan tersebut tapi agak miris juga karena sejak zaman dahulu Sumber Daya Alam Gayo dikenal dengan kekayaan perkebunan? terutama perkebunan kopi. bahkan dalam sepenggal lirik didong yang pernah saya dengar disebut Gayo diibaratkan Kota Perkebunan.

Berikut ini sepenggal postingan status yang menjadi ide tulisan kali ini.

foto kopi kemasan
foto kopi kemasan

“Petani kupi siara igayo seharuse kaya karna (KUPI Gayo Enge terkenal Idenie)
tp hana kati enguk ara ilen petani si ara igayo teba gere ter sekulahne Anake, utang gere ter tutup ne ini menjadi sebuah pertanyaan kin kite bewenne
kite selidiki hana penyebeb”e?????,,,”kupi

Kalau diterjemahkan ke bahasa indonesia
Petani Gayo yang ada di Gayo seharusnya kaya karena kopi Gayo sudah terkenal didunia. tapi kenapa masih ada para orang tua Gayo tidak bisa menyekolahkan anaknya. Hutang tidak mampu dibayar. ini menjadi petanyaan untuk kita semua apa sebabnya?

Pemikiran diatas terus terang menjadi dilema bagi saya sendiri, mungkin pembaca juga memarasakan hal yang sama. Nah Menurut anda pertanyaan diatas seharusnya ditekankan kepada orang tua atau kepada pemerintah?

1. Masalah pendidikan
Tidak mampu membiayai Anak sekolah atau sang anak tidak mau sekolah, dan atau beasiswa pilih kasih? Tidak ada alasan bagi orang tua yang berprofesi sebagai petani tidak mampu membiayai anaknya sekolah, karena bagaimanapun miskinnya orang tua, kedua orang tua kita punya rasa malu andai tidak menyekolahkan anaknya, bahkan rata-rata orang tua punya cita-cita menyekolahkan anak setinggi2nya dengan pemasukan pas-pasan!. Disisi lain pemerintah sudah menyediakan paket bantuan sosial kepada siswa-siswi yang tidak mampu dan paket beasiswa berprestasi. Kewajiban orang tua hanya tinggal uang jajan anaknya yang sedang menimba ilmu. Hanya saja begitu dana BOS atau paket Beasiswa Tidak Mampu ada di tangan siswa-siswa, Uang tersebut disalah gunakan untuk membeli barang yang tidak penting atau uang itu digunakan untuk keinginan sesaat, padahal tujuan Dana Bantuan tersebut bukanlah untuk kesenangan semata, melainkan untuk mengurangi beban biaya pembelian peralatan pendidikan, seperti biaya membeli tas,pensil,pulpen,buku bacaan.

Dari segi mark-up anggaran Pemerintah melalui dinas pendidikan & Dinas Sosial sering kali salah sasaran saat mencairkan beasiswa tidak mampu, terutama biang keladinya Kepala desa Masing-masing pelajar. Mendapatkan beasiswa Tidak Mampu yang direkomendasikan oleh pihak sekolah melalui surat keterangan miskin itu “seolah-olah siapa nekat membuat keterangan tidak mampu dia layak mendapatkan beasiswa tidak mampu”. Saya tidak tahu apakah Dinas Pendidikan menginvestigasi hal-hal semacam ini. karena saya geram dana beasiswa yang dialokasikan untuk siswa yg tidak mampu itu ternyata lebih banyak dinikmati oleh siswa yang mampu. Pada akhirnya Mark-up anggaran miliaran rupiah tiap tahunnya disamaratakan dengan alokasi yang sebelumnya dan korupsi pun merajalela ditambah lagi ada potongan inilah dan potongan itulah dari petugas setempat.

Andai saja dana BOS atau beasiswa tidak mampu itu tepat sasaran, pemerintah bisa mengurangi mark-up anggaran APBD dan atau kalaupun berniat membohongi pimpinan pusat yang berkantor di jakarta. Silahkan!, asalkan niat membohongi tersebut dananya dialokasikan ke dana pembelian buku untuk koleksi perpustakaan, agar para siswa-siswi juga mendapatkan uptade buku bacaan yang baru, yang tentunya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. dan juga alat laboratium agar fasilitas tiap sekolah merata. barangkali guru yang sekolahnya tidak memiliki lab sering kali berkilah untuk pelajaran yang diwajibkan praktek langsung, berkilah alatnya kita tidak punya nak!

2. Masalah Kesejahteraan
Benarkan Petani Gayo Kaya? Jawabannya sama sekali TIDAK! loh kenapa? bukannya ladang kopinya luas? bukannya harga pasar kopi relatif normal? bukannya Sumber Daya Alamnya kaya? bukan Air Sawahnya tidak memerlukan bantuan teknologi mahal, bukannya tanah Gayo itu Subur dan bla.. bla… keuangan Masyarakat di Gayo berkecukupan tapi cepat mendadak miskin, lalu timbul hutang kanan kiri. Padahal petani setiap 15 Hari sekali bisa panen kopi dari kebun miliknya, dan dalam sebulan bisa panen dua kali barang kali ada sampai seminggu sekali panen kopi. tapi kok gak kaya-kaya ya? Jawabannya adalah malas, cepat puas & pasrah.

Mengapa Para Petani Maupun Masyarakat Gayo tak Kunjung Sejahtera?
Dengan sumber kekayaan alamnya yang luar biasa yang diberikan Allah kepada warga Gayo wajar saja pertanyaan diatas sering menjadi bahan diskusi dimanapun orang Gayo berada, ntah itu para siswa sekolah, bebujang beberu, mahasiswa, para Wakil rakyat, pemimpin daerah bahkan para petani itu sendiri. So Why? padahal jika sumber ketidaksejahteraan itu berasal dari karena mahalnya harga pupuk, mahalnya harga pangan, mahalnya biaya kehidupan sehari hari, pembangunan yang tidak merata sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Maka pemerintah wajib hukum bersikap adil mencari jalan keluarnya. Caranya pemerintah melalui camat atau perangkat desannya sosialisasi langsung ke warga, ex: keluarga ama ine harapan apa yang belum terwujud dalam sebulan terakhir??. Dengan begitu mengetahui latar belakang masalah setiap warga, program pemerintah pun tidak sia-sia dan pemerintah bisa memasukan program untuk tahun anggaran kedepannya. Jadi ABPD lebih terasa manfaatnya bagi rakyat.

Selain pemerintah bersosialisasi dengan warga, pemerintah diwajibkan adil bagi semua kelompok dan tidak ada salahnya pemda mengistuksikan dinas pertanian, kemenristek bekerja sama sekaligus menjadi pembelajaran yang nyata bagi para dosen dan mahasiswa berkunjung kesuatu tempat yang tujuannya menriset baik tanah maupun tanahamnnya, jadi peran para akademik bidang pertanian pun disini akan lebih terasa bagi petani. so well… begitu juga bidang yang lainnya.

Dengan adanya saling kerja sama yang baik seharusnya kita MAMPU memanfaatkan bahan dasar pupuk organik yang sangat mudah dikelola dan dibuat, seperti pupuk yang berbahan dasar dari sampah penggilingan kopi itu sendiri, kotoran sapi/kerbau bahkan urin hewan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sekali lagi Tinggal bagaimana Pemerintah melalui dinas kemenristeknya berperan membangun, mengakomodasi, memfasilitasi, mensupport para petani untuk mandiri membuat pupuk tanpa perlu membeli.

Akan lebih indah Membuat pupuk secara bergotong royong, misalkan di tahap awal pemerintah melalui perangkat kepala desannya meminta warganya bekerja sama mengumpulkan sampah hasil penggilingan kopi disuatu tempat, di tahap kedua pemerintah mencari mitra kerja sama dengan para akademisi atau pakar tentang pembuatan pupuk. lalu menurunkan team pakar tersebut ke desa-desa yang mencapai telah batas maksimal persekian ton sampah, para pakar maupun akademisi ini nantinya akan mengajarkan cara2 membuat pupuk organik sampai jadi. setelah itu karena para petani sudah mendapatkan tutorial atau ilmu cara pembuatan pupuk organik tinggal perangkat desa dengan warganya lagi secara berkelanjutan membuat pupuk organik. maka dengan prinsip pembelajaran secara perlahan mudah2an bisa mengurangi beban biaya pupuk.
Selain pupuk, masalah pangan, saya pikir masalah pangan tidak bisa dijadikan alasan kenapa masyarat Gayo tidak kunjung sejahtera? Alasannya logisnya luasnya ladang tanaman, seperti sawah dan kebun seperti menjadi misteri kenapa koq masalah pangan masih di impor dari luar daerah. tanam Jagung bisa tumbuh, tamam bawang tumbuh, tanam kacang tumbuh, tanam ubi bisa berbuah, tanam padi bisa mekar sampai panen, tanam tebu bisa panen tapi toh segala kebutuhan dasar pokok kita diinpor dari luar. Hanya sedikit saja yang bisa menikmati produk lokal asli daerah sendiri.

Dilema pemikiri Gayo sejak dahulu sampai sekarang “kita punya bahan tapi sampai sekarang ini tidak tau mau di apakan maka timbulah sikap tidak peduli yang penting bisa makan”.

Mengubah peran para pengusaha/entrepreneurship putra daerah Gayo. Penguasa Gayo lebih cendrung berpangku usaha kopi ekspor kopi, mahalnya harga kopi menjadi daya tarik sendiri kenapa para penguasa lebih mengekspor kopinya ke penguasa luar daerah ketimbang memproduksi. hal ini disebabkan karena tidak adanya keberanian penguasa membuka pabrik sendiri dengan tujuan memproduksi kopi menjadi bahan jadi yang siap dikonsumsi. Padahal Biji Kopi bisa menjadi salah satu bahan dasar obat sakit kepala, bisa dijadikan obat anti ngantuk, obat anti pusing dan lain-lain. selain sebagai bahan obat2an biji kopi juga menyumbang hampir semua jenis minuman kopi. Jadi tidak hanya pada produksi bubuk gayo/bubuk luwak. Tapi karena kita sebagai orang Gayo tidak mau berinovasi atau pengusaha takut berinvestasi atau tidak memiliki modal maka sejak kapan pun petani kopi dan pengusaha kita tetap jalan ditempat dan begitu saja sampai kapanpun, *sialnya lagi sekarang kualitas kopi Gayo sudah menurun tiap tahunnya.

Sebagai kesimpulan :
Indonesia yang merupakan lahan kopi terbesar ketiga didunia dengan didominasi dari lahan Kopi Gayo, sampai kapan Gayo tetap menjadi KUTE PEREMPUSEN tanpa menyumbangkan devisit pemasukan yang seharusnya bisa dinikmati petani kopi dan pembangunan kota Gayo? Mari kita Belajar dari daun tembakau dan daun teh, daun yang begitu mungil tapi pemilik lahanya melahirkan begitu banyak inspirasi dan inovasi terlebih-lebih memberikan sumbangan pemasukan yang besar bagi pendapatan daerah dan negara Indonesia!.kemasankemasan

Mohon maaf kalau artikel ini terlalu panjang, sebenarnya ingin mengulas lebih jauh tentang jenis-jenis kopi dan berapa ton produksi kopi se-Gayo dalam setahun dan perusahaan-perusahaan asing mana saja yang mengandalkan biji kopi Gayo menjadi bahan mentah produknya. Lain kali saya akan ulaskan.kemasan

sebagai penutup
Info bukan promo tapi salah satu bentuk produk dengan bahan mentah biji kopi gayo, harga eceran dipasar pergelas Rp.9000 tersedia di circlek, silahkan cicipi apakah anda bisa membedakan rasanya?
kemasan

 

Penulis : Roni Ariga
Alumni MAN 1 Takengon Ang’08, Teknik Infomatika UIN sunan kalijaga Yogyakarta Ang 08

 

Comments

comments

News