by

Perempuan Perempuan Pengutip Kopi

                                               Zuhra                                                                          Oleh Zuhra

Perempuan-perempuan itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Kaki mereka terlihat basah disiram embun dari rumput disela-sela kebun kopi warga. Baju bernoda melekat pada tubuh mereka. Begitu juga dengan jilbab dilapisi kelubung berbentuk bundalan besar. Sementara di tangan mereka melekat ember berisi karung atau apa saja yang bisa dipergunakan untuk mengutip kopi. Tentengan mereka ini juga tak lupa pula bekal untuk makan siang nanti.

Perempuan-perempuan itu tampak semangat, meski rasa dingin belum saja pergi bersama bangkitnya matahari pagi. Sesekali tawa mewarnai percakapan mereka yang ringan sampai tak terasa kebun kopi yang mereka tuju telah di depan mata.

Perempuan-perempuan itu meletakkan bekal mereka di tempat yang lebih tinggi di dalam gubuk yang terletak di tengah tumbuhan berkafein itu. Usai menyimpan bekal, mereka melapisi pakaian mereka, lalu memakai sarung tangan supaya terhindar dari duri-duri halus yang bersembunyi di bilah-bilah ranting kopi. Mereka mulai beraksi menentukan barisan, layaknya para prajurit yang harus mematuhi printah komandannya. Namun di tengah kebun yang luas ini tak ada kata jabatan, yang ada hanya sebuah harapan.

Daun hijau dari pohon kopi itu menjuntai liar, embun masih menyelimuti di setiap helai dedaunannya, sehingga sensasi dingin begitu terasa saat menyibaknya. Butiran-butiran “kelereng” bewarna merah dan hijau menyatu dengan ranting. Untuk tantangan bagi perempuan-perempuan pengutip kopi itu adalah memilah dan memisahkan butiran-butiran merah di antara setumpuk butiran butiran hijau. Namun tangan perempuan-perempuan itu bagai memiliki mata, mampu membedakan mana yang merah dan hijau.

“Aku harus membiayai kuliah anakku. Kalau tak ku cari uang tambahan, aku takut makan apa ia nantinya,” mak Meli mulai membuka rahasianya “kemarin saja ia baru nelpon, katanya harus membeli buku dan keperluan lainnya”.

“Ah iya mak, ku dengar biaya kuliah makin mahal saja, benar begitu?” mak Ros ikut menimpali.

“Ku rasa kita memang harus bekerja lebih keras lagi, malu rasanya kalau anak punya kemauan untuk sekolah, namun tidak kita beri dia untuk sekolah. Anakku juga sebentar lagi akan kuliah, saban hari ia minta kuliah di kedokteran, kata orang biayanya juga tidak sedikit, ah aku bingung dengan keinginan anakku itu, aku takut tak bisa membiayai kuliah yang mahal itu”, mulut Mak Ros mengeluarkan suara, namun tanganya tetap lihai memilah simerah.

“Kita tawakal saja mak, kalau tidak bisa kuliah di kedoktoran, kuliah pada jurusan yang lebih murah juga tidak apa-apa, yang penting kita persiapkan saja,” sebut Mak Meli yang sesekali melirik karung tempat penampungan kopi.

“Iya betul mak, semuanya begitu serba mahal, belum lagi kebutuhan rumah juga harus di penuhi. Kalau dipikirkan semuanya sangat memusingkan, namun apa yang bisa kita buat, kita hanya orang kecil”.
“Yah setidaknya anak-anak kita saja yang akan menjadi orang besar nanti” diiringi tawa ringan dari perempuan lain.

Tak terasa sudah setengah tumbuhan kopi itu digunduli butiran-butiran merahnya. Percakapan terkadang membawa semuanya terasa lebih cepat, meski di hadapan mereka sehektar lagi belum dikutip. Namun tak ada rasa mengeluh di dada mereka, namun hati perempuan-perempuan pengutip kopi ini penuh harapan.

“Druuuum” seember kopi dimasukkan ke dalam karung. “Treng” ember kembali berbunyi nyaring saat segenggam kopi dibuang kasar ke dalam ember tersebut.

“Yah, nyaring sekali bunyinya mak Ros”
“Begitulah yang kosong-kosong selalu nyaring kalau diisi, nanti kalau sudah penuh maka akan diam dia dengan sendirinya” jawabnya sembari tertawa.

“Bisa saja kau mak Ros, lihat saja si tok mulung itu, dia itu pejabat kecamatan tapi mulutnya tidak pernah diam membicarakan orang. Tidak pernah berhenti bertengkar dengan tetangganya” sembari menarik ranting kopi dengan sadis dan mengambil buahnya yang merah tanpa perasaan.

“Ah mungkin ada yang belum penuh terisi di otaknya, makanya mulutnya asik berkoar-koar saja” mak Yeni menimpali “Kalau saja itu tetanggaku ingin rasanya ku sumpal mulutnya dengan tanah biar tau rasa dia. Belum lagi suka mengatain anak orang mentang-mentang anaknya sudah menjadi polisi,” sambungnya dengan nada kesal.

“Di televisi juga sama nampaknya, kisah negara amburadul, BBM naik turun tidak begitu jelas, apa ada yang kosong dengan berita di televisi atau ada yang kosong dari negara kita, sampai anakku sendiri melarangku nonton berita. Katanya itu tidak berbobot, mana aku tau itu berbobot atau tidak yang penting aku nonton saja”.

“Ia mak, engkau itu betul, apa pentingnya berita itu pada kita, siapapun presiden, naik turunkah BBM, atau apalah pihak yang lebih besar selalu saja di untungkan”.

“Yah kita usahakan saja anak kita tidak seperti kita nasibnya, semoga saja ya mak anak kita bisa membela kita dari keterpukan ini, anak yang Sholeh tentunya”.

“Yah ku rasa kita ini hanya perempuan-perumpuan pengotip kupi yang terus berharap akan ada hari yang lebih baik, akan ada berita yang enak kedengarannya nanti”.

“Treeeeng” timba mak Meli kembali berbunyi nyaring.
“Yah mak Meli, kau harus cepat mengisinya agar embermu tidak berkoar-koar tampa makna” ujar mak Ros dengan nada bercanda.
Sedang yang lain tertawa tak tertahankan.

Embun pada setiap helai daun sudah kering di terpa angin dan teriknya matahari, perempuan-perempuan paruh baya itu masih semangat mencabuti butiran-butiran merah pada ranting yang menjuntai liar, tinggi tumbuhan berkafein itu tidak sampai dua meterpun sehingga tidak membuat mereka cepat lelah menarik ranting-ranting yang terlalu tinggi.

Mak Meli sudah merebahkan badannya di atas daun-daun kering yang bertumpuk di bawah pohon kopi itu setelah menuangkan isi embernya yang penuh, ia sepertinya lelah sekali, sampai ia benar-benar memejamkan matanya sejenak. Tak sampai lima menit ia kembali bangkit dan berupaya untuk menyelesaikan barisannya.

“Druuuum” mak Ros juga menuangkan isi embernya, meski merasa lelah dan kepanasan ia tetap mencabuti butiran-butiran sebesar kelereng itu. Semuanya terdengar sunyi hanya gemersik daun yang terdengkar di kibas-kibaskan perempuan-perempuan itu. Dan mereka semua baru beristirahat setelah azan dzuhur berkumandang nun jauh di kampung sana.

“Waktunya kita beristirahat” mak Meli berteriak lantang mengingatkan yang lain.
“Kau duluan saja mak Meli, tanggung emberku sedikit lagi akan penuh” mak Yeni masih bergelut dengan butiran-butiran kopinya.

“Kami duluan kalau begitu” ujar mak Ros dan mak Meli hampir bersamaan sembari menarik karung mereka masing-masing ke gubuk.
“Wah mak ternyata aku sudah tua, ini saja aku tak bisa menariknya” mak Ros bergurau “padahal karungnya juga tidak penuh” mengisyaratkan pada karung bawaannya kira-kira beratnya sekitar enam puluh kilogram.
“Ia mak aku juga sama, belum lagi akhir-akhir ini pinggangku sering sakit, tapi kalau sudah memikirkan anak rasanya semua kesulitan seketika hilang”.
Mereka meletakan karung mereka di luar gubuk lalu duduk disembarang tempat. Tak berapa lama disusul mak Yeni. Mereka membuka bekal dan menikmatinya. Saat sedang mengisi perut yang kosong namun omong kosong juga tak kalah menarik dari mulut mereka yang penuh. Sesekali mereka tertawa menanggapi omong kosong mereka, setidaknya omong ini yang tidak membuat semuanya terasa kaku dalam lelahnya.
Setelah melaksanakan sembahyang dzuhur, perempuan-perempuan itu kembali mengambil ember dan karung mereka. Kembali merajut kelelahan, sekaligus merajut harapan disetiap butiran-butiran kopi, sampai matahari member tanda, sebentar lagi ufuk merah di barat akan tiba.

Zuhra, mahaiswi UIN Ar-Raniry jurusan pendidikan Bahasa Arab

Comments

comments

News