by

Pendidikan Investasi Manusia

Oleh Rizal Fahmi, S.Hum, MA

Problem yang terjadi pada bangsa ini dihadapkan multi kompleks, dari mana pangkal dan hujung arah pembangunan. Terlalu rumitnya birokrasi yang masih saja mengadopsi birokrasi kolonial belanda, diakui atau tidak diakui secara faktual 350 tahun Indonesia pernah dijajah belanda, paling tidak budaya membangun negeri ini masih terkontaminasi dengan pola kolonial tersebut. Bangsa kita dikenal dengan bangsa yang agraris dan bangsa maritim, sebenarnya ini sumber kekuatan bangsa ini dengan sumber daya alam yang melimpah, ini justru memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan, akan tapi kekayaan alam yang patut kita syukuri masih saja pembangunan negara berjalan cukup begitu lambat dan angka kemiskinan pun meningkat. Sehingga kita bertanya apa penyebab yang menjadi persoalan tersebut.

            Potensi alam juga tidak menjadi sebuah ukuran dalam pembanguanan apabila masih, potensi sumber daya manusianya masih rendah. Karena alam yang dieksploitasi secara besar-besaran ini akan menimbulkan dampak apakah berupa bencana alam maupun bencana manusia. Perlunya keseimbangan antara potensi alam dan manusia sebagai fondasi pembangunan yang terarah. Misalnya saja banyak perusahaan-perusahaan asing yang masuk ke Negeri kita untuk eksploitasi alam kita secara besar-besaran, mereka tanpa melihat pengaruh disekitarnya apakah berupa pencemaran limbah pabrik, maupun penebangan pohon yang untuk kebutuhan industri kertas, ini berdamapak kepada  larinya hewan satwa liar kepemukiman masyarakat, dan banjir bandang.

            Hal inipun terjadi karena pejabat dan intansi pemerintah begitu mudah memberikan izin amdal terhadap perusahaan asing maupun peruasahaan lokal. Sebenarnya harus dikaji secara mendalam mengenai potensi alam dan potensi manusianya juga. Selain itu juga persoalan hadirnya perusahaan industri di negeri kita seharusnya bisa menjadi problem solver terhadap angka kemsiskinan maupun pengangguran, namun ini menjadi buah simalakama bagi masyarakat setempat, biasanya masyarakat disekitar industri tersebut tidak mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak akan tetapi karena keterbatasan sumber daya manusia, pekerjaan itupun diterima sebagai kuli atau buruh. Apakah bangsa kita ini sebagai bangsa kuli atas kapitalisme. Untuk melawan kapitalisme sudah tentu pendidikanlah fondasi negara ini, sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28C ayat (1) menyatakan “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Negara-negara maju sekarang sudah lama menyadari bahwa investasi sumber daya manusia lebih penting dari pada eksploitasi besar-besaran terhadap alam, karena alam tidak bisa diperbaharui melainkan timbulnya dampak yang begitu besar daripada keuntungan ekonomis yang hanya sifatnya tentatif. Pasca ledakan bom Hirosima-Nagasaki di Jepang mereka belajar begitu berharganya manusia yang memiliki daya fikir untuk membangun negeri yang hancur lebur bahkan berpuluh tahun yang sudah mereka desain akan tetapi dengan bencana perang yang begitu sekejab, banyak alam mereka yang sudah terkena radiasi bom atom, tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber pendapatan hidup mereka banyak yang mati dan untuk bercocok tanam pun tidak produktif lagi. Akan tetapi mereka memiliki semangat hidup untuk bangkit untuk membangun lagi kota yang telah luluh lantak, dengan memberikan peranan penting terhadap pendidikan, karena mereka yakin bahwa pendidikanlah yang bisa menyelamatkan mereka dari keterpurukan ekonomi dan melindungi kualitas kehidupan warganya.

        Penulis adalah Akademisi Darussalam

                                      

Comments

comments

News