by

Kopi, Rahmat Tuhan Untukmu Gayo

Spread the love

Negeri di atas awan ini  dianugerahi Tuhan dengan alam yang indah, negeri sejuk, tanahnya subur. Dari negeri sentral Aceh ini tumbuh tanaman yang digemari dunia, karena kualitasnya. Tanaman yang mengandung kapein ini menjadi bagian hidup masyarakat.

Kopi tidak bisa dipisahkan dengan kebudayan dan sumber penghidupan masyarakat Gayo. Buah ini memberikan berkah pada setiap lapis masyarakat, mulai dari petani hingga eksportirnya. Kopi terbaik ini akan mengubah hidup rakyat di sana lebih sejahtera, asalkan dia rajin berusaha.

“Tidak ada rakyat Gayo yang miskin, kalau mereka rajin, mereka  akan mampu memenuhi kebutuhan hidup,” sebut William Cristiant, salah satu pengusaha kopi di Aceh Tengah. Wiliam merupakan salah satu pengusaha kopi yang mempergunakan gudang kopi Haji Rasyid, sebagai tempat mensortir kopi. Gudang ini terletak di kampung Mongal, Bebesen, Aceh Tengah.

Saat ditemui santri Dayah di Aceh Tengah,  Kamis (5/11/2020) sore, Wiliam yang diminta keteranganya tidak terkejut. Karena di lokasi dia menjemur kopi sedang dilangsungkan pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah.

Pria bermata sipit ini tidak keberatan ketika santri dayah mewawancarainya. Karena para santri dayah harus menyelesaikan tugas wawancara yang ditugaskan oleh pemateri, kemudian meramunya dalam tulisan feature.

Wiliam mengakui dia hanya memasok kopi ke gudang tersebut. Kopi kopi yang dipasok ke sana dia dapat dari sejumlah nasabahnya yang mengumpulkan kopi dari petani. Kopi yang dimasukan Wiliam ke gudang Haji Rasyid dijemur agar kadar airnya (trase) sesuai dengan selera konsumen. Di gudang ini Wiliam berbagai rejeki, dari kopi Wiliam ada puluhan orang yang bekerja.

Namun ketika ditanya apakah banyak kopi yang dipasok Wiliam ke gudang ini? Kemudian dia jual kepada para toke lokal, atau konsumen lokal yang membutuhkan, Wiliam tidak mau menjelaskan secara rinci. Berapa ratus ton kopi yang disiapkanya di gudang ini, dia enggan menjelaskanya.

“Pokoknya nilai kopi Gayo itu trilyunan. Adanya wacana presiden Jokowi akan membeli kopi Gayo mencapai Rp 1 trilyun, nilai itu tidak mampu membeli semua kopi yang ada di Gayo. Nilai yang disiapkan Presiden hanya sebagian kopi Gayo yang mampu dibeli,” sebut Wiliam, yang tidak mau merincikanya lebih dalam.

Di gudang kopi ini (Oro Kopi) ada sekitar 70  pekerja di sana orang. Mereka bukan hanya menjemur kopi, namun melakukan peng- DP- an kopi.  DP adalah sortir kopi, antara yang berkualitas ekpor dengan kopi pesel. Biji kopi pilihan dipisahkan.

Di sana ada  tim penjemur kopi, sekaligus mengurusi soal angkat mengangkat kopi, baik dimasukan ke gudang atau dinaikan ke truk untuk dibawa keluar. Banyak aktifitas di sana, banyak pekerja yang terbantu dengan adanya pabrik kopi ini.

srekk….. srek srek, tak…. takkkk……..srekkkkkk, suara kopi yang dibolak balik para penjemur kopi di atas semen yang  terhampar. Ketika cuaca sudah meredup, karena di Takengon memasuki musim penghujan, para penjemur kopi ini dengan cekatan mengangkut buah kapein ini untuk “diselematkan” dari siraman hujan.

Bagi para pekerja disana, gudang kopi adalah sumber hidup mereka. Tanpa kopi mereka tidak tahu bagaimana mau menyambung hidup keluarga yang senantiasa membutuhkan biaya.

“Pendapatan kami tergantung pada kopi. Semakin banyak kopi yang dikelola, yang dijemur, semakin banyak penghasilan kami,” sebut Darmawan ketua tim penjemur kopi di gudang kopi Haji Rasyid.

Dia mengakui perbulanya bila ada kopi, penghasilanya Rp 5 juta. Nilai itu sudah sangat membantu kelangsungan hidup keluarganya.

Dari hasil menjemur kopi yang dipasok oleh pengusaha kopi ke gudang itu, Darmawan mengakui bisa membangun rumah, membeli kebun, serta mobil. Dia pandai berhemat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun nasib manusia di lokasi gedung kopi ini juga tidak sama. Ada juga yang penghasilan pas-pasan, dicukup cukupi, bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Di sana ada sekitar 70 wanita yang saban hari mengandalkan jemari tanganya untuk memilah kopi yang berkualitas dan kopi  yang kurang baik. Mereka menyebutnya dengan meng dp kopi.

Meja meja peng dp kopi bersusun panjang, para kaum wanita duduk tekun memilah kopi yang sudah kering dijemur. Kopi itu mereka pisah antara yang baik dan yang tidak sempurna (pesel). Dari sekian banyak kaum ibu yang ada di sana, ada seorang berpendidikan bidan.

Dia enggan jati dirinya disyiarkan. Dia sudah meng DP kopi sejak dia kecil.  Pakaian putih dengan sepatu mengkilap yang menandakan dia sebagai seorang medis, ada kalanya tidak dia gunakan. Karena dia belum sebagai PNS, apalagi jerih payahnya diterima setiap bulanya sangat minim, untuk minyak kenderaan saja tidak cukup.

Saat menjawab pertanyaan, tanganya terlihat cekatan memilah kopi. Dia memilih meng DP kopi, karena sudah menikah, membantu suami menambah biaya buat keluarga.

15 hari sekali dia menerima gaji dari meng DP kopi. Sekali gajian jika kopi sedang banyak, ia bisa mendapatkan Rp. 1.200.00. Sebulan bisa dua kali lipat dari jumlah itu. Nilai itu sudah mencukupi biaya kebutuhan keluarga, karena ada juga penghasilan suami.

Ibu satu anak ini, bercerita bahwa orang tuanya menghidupi  mereka (tiga bersaudara) dengan bekerja di pabrik kopi, dia sudah terbiasa dengan kopi dan sudah mahir dalam meng dp kopi. Hidup keluarga tidak lepas dari tanaman kapein ini. Dia mengaku tidak pernah minder.

” Saya tidak pernah merasa minder dengan pekerjaan ini. Selama itu baik apa salahnya. Lagian jika Jaman sekarang  kita lebih mementingkan gengsi,maka kita sendiri yang akan susah. Terpenting ekonomi keluarga membaik,” sebutnya.

Dananya bisa ditabung, jelasnya. Dia juga berencana bila ada rejeki, kelak akan buka praktek bidan sendiri. Namun karena semuanya membutuhkan biaya, dia tetap mengandalkan jari jemarinya dalam memilah kopi.

Di Gudang Haji Rasyid ini, ketika para santri peserta pelatihan jurnalistik melakukan wawancara di lapangan, ternyata di sana ada beragam latar. Ada petani yang memiliki kebun kopi, ada tukang becak, ada janda peng dp kopi yang mengandalkan ototnya untuk menghidupi anak-anaknya.

Kopi memang sumber kehidupan masyarakat Gayo. Buah kecil ini mempunyai makna yang besar. Buah ini adalah salah satu bentuk Rahmat Allah yang di hadir dalam bentuk kopi. Proses kopi yang panjang hingga sampai ke konsumen, ada perputaran rupiah di sana. Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

(Penulis, Indah saharani, peserta pelatihan jurnalistik dan jurnal dayah se-kabupaten Aceh Tengah, utusan dari dayahUlumul Qur’an- Bebesen/ Editor Redaksi)

Comments

comments

News