by

Muchsin Hasan Santri Yang Sukses di Dunia Politik

Muchsin Hasan saat diwawancarai oleh Santri Dayah Peserta Pelatihan Jurnalistik Dayah. (Foto:Finte Nate)

Banyak santri yang sukses di dunia politik. Diantara sejumlah santri yang sukses mewarnai hiruk pikuk demokrasi, ada seorang alumnus Pasantren Darul Mukhlisin, Bur Jimet, Bebesen, Aceh Tengah.

Namanya Muchsin Hasan. Pria berwajah “menawan” ini berumur 41, kini menjadi anggota DPRK Aceh Tengah, dimana lima tahun lagu dia sebagai pimpinan DPRK. Dia mundur dari jabatan ketua DPRK untuk ikut berkompetisi dalam Pilkada.

Garis tanganya pada Pilkada 2017, belum mendapatkan restu ilahi sebagai orang nomor satu di Aceh Tengah. Alumnus pasantren ini memang tidak lekang dari dunia politik, dia sudah teruji menjadi anggota parlemen.

Dia merupakan anak bungsu dari almarhum Drs.H.M.Hasan bin Muhammad Tawar, pendiri pesantren Darul Mukhlisin. Dia menjadi murid di pasantren yang didirikan orang tuanya. Jenjang pendidikan SMP dan SMA statusnya santri. Tidaklah heran bila ia terkadang menjadi seorang khatib naik mimbar  Jum’at.

Ketika ditemui dikediamanya, medio November ini, Muchsin menerima peserta pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan pendidikan dayah, Aceh Tengah. Awalnya dia tidak terlalu serius memberikan jawaban, namun ketika disingung soal politik, raut wajahnya menunjukan keseriusan.

Muchsin mengakui, awalnya dia berkeinginan untuk terjun ke dunia politik. Dia lebih senang menjadi pengusaha, sekaligus sambul berdakwah, menyebarkan ilmu agama kepada ummat. Namun ketika itu ayahnya mendorongnya untuk terjun ke dunia politik.

Alasan ayahnya merasuk dalam jiwa Muchsin. Dengan berpolitik dapat membantu masyarakat, membantu masyarakat dan memberikan pencerahan kepada masyarakat bukan hanya melalui mimbar saja. Kata kata itu meresap dalam jiwa Muchsin.

“Saya  diperiode ini sudah menggagasi, agar Pemerintah Aceh Tengah kembali menerbitkan  Dinas Pendidikan Dayah, supaya dayah-dayah di Aceh Tengah ini dapat berkembang. Dinas ini memiliki kantor khusus yang mengurusinya dayah  dan memberikan perhatian kepada santri dan pengajian-pengajian,” sebutnya.

“Insya Allah kita akan memiliki dinas dayah yang lebih fokus nantinya mengurus soal pasantren, soal pengajian, dan bersentuhan dengan santri,” katanya.

Muchsin berharap pesantren itu ada disetiap desa dan kecamatan. Karena hal itu adalah penunjang akhlak bagi masyarakat. Generasi muda akan lebih terbina. Para orang tua dengan akan lebih mudah memasukkan anak-anaknya ke dalam lembaga pendidikan Dayah dan tidak perlu lagi jauh-jauh menyekolahkan anak mereka. Bisa menghemat biaya, karena tidak semua warga Aceh Tengah mampu, sebutnya.

Muchsin memberikan penjelasan yang lumanyan lama kepada peserta pelatihan jurnalistik dayah dalam rangka menyelesaikan tugas wawancara dan membuat tulisan. Kepada peserta pelatihan Muchsin menyebutkan, pasantren itu dimanapun tempatnya sama saja nilainya.  Hal itu kembali lagi kepada orangnya, karena Ia telah berkeliling Indonesia melihat dayah-dayah diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Medan Banda Aceh dan  beberapa kota lainya.

“Di Aceh Tengah jumlah pasantren termasuk  lebih sedikit bila dibandingkan dengan  pesantren di daerah pesisir. Di tempat lain jumlahnya lebih banyak. Jawa Timur misalnya, bahkan mendakan julukan sebagai kota santri. Semoga pasantren di Aceh Tengah juga semakin banyak,” sebutnya.

Muchsin mengakui darah dalam nadinya adalah pasantren. Karena dia sangat resfec terhadap pasantren dan senantiasa berjuang mengupayakan agar dayah dayah itu semakin berkembang. Apa yang bisa dilakukanya untuk dayah akan dia perjuangkan.

Ketika menyinggung tentang pasantren Darul Muhklisin, pasantren yang didirikan ayahnya, Muchsin punya keinginan untuk lebih maju ke depanya. Dia akan berkorban apa yang mampu dia berikan, dengan tidak mengharap imbalan, karena selain sebagai pengabdian juga menjadi amal jariyahnya.

“Saya tidak dapat dipisahkan dari pasantren, jiwa saya tetap pasantren. Bila Allah mengizinkan, satu waktu kelak saya akan kembali ke pasantren,” sebutnya.

Alumni Darul Mukhlisin ini menyampaikan beberapa saran dan perbaikan untuk kemajuan pasantren yang didirikan orang tuanya dan hal itu sudah dia sampaikan kepada pengelola pasantren, semoga kiranya ke depan semakin baik.

“Saya inginkan pasantren ini melahirkan generasi penerus yang berakhlaq, ber adap, serta mampu berkompetisi dalam menjalani kehidupan ini,” sebutnya.

Menurutnya, mengajarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu jauh lebih mudah daripada mendidiknya untuk berakhlak dan beradab. Begitu pula dengan menjadi   orang yang pintar lebih mudah daripada menjadi orang yang baik menurut filsafatnya. Karena baginya ِالٓادَابُ فَوْقَ العِلْم .

Sekilas anak pasantren sudah mengukir sejarah perpolitikan di Aceh Tengah. Pada tahun 2008 ia mendapat kepercayaan menjadi ketua sekaligus menjadi anggota dewan dari PKNU (partai Kebangkitan Nasional Ulama). Sayang partai ini tidak berumur lama.

Kemudian Muchsin pindah ke Golkar dan terpilih menjadi anggota dewan, bahkan dia sempat menjadi ketua DPRK Aceh Tengah atas kemenangan Golkar. Kemudian dia mundur untuk ikut Pilkada dan pada Pileg lalu dia kembali terpilih menjadi anggota dewan dari Golkar.

Karena kemampuanya sudah teruji dan sudah mengibarkan bendera Golkar, pada Musda lalu dia terpilih secara aklamasi menjadi ketua Golkar Aceh Tengah. Muchsin telah menunjukan dirinya, bahwa santri juga mampu berkiprah di dunia politik .

**: Nisara Ate,  santriwati Dayah Darul Muklisin, peserta pelatihan jurnalistik Dinas Syariat Islam dan pendidikan dayah/Edior Redaksi

Comments

comments

News