by

Buku Fakta Perjalanan Perpolitikan Aceh Muncul dari Gayo

Takengon | Lintas Gayo – Sebuah buku karya putra Gayo, Adam Mukhlis Arifin dipastikan akan diluncurkan di akhir tahun ini. Buku dengan judul “Demokrasi Aceh, Mengubur Ideologi” diterbitkan oleh The Gayo Institute dengan editor Salman Yoga S, salah seorang penyair muda Gayo yang sudah menasional, bahkan internasional.

‘Sebuah buku yang perlu dan patut dibaca,” demikian pendapat singkat (endessor-red), Imam Prasodjo, sosiolog dari fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI) dicover belakang buku ini.

Selain itu, Fachry Ali, seorang pengamat politik ternama di Indonesia juga menulis sebait kalimat Partai Aceh (PA), sebuah partai politik yang dominan di Aceh dewasa ini. Nilai informatifnya adalah penjelasan bagaimana proses dialog dikalangan kekuatan-kekuatan politik Aceh pasca Perjanjian Helsinki 15 Agustus 2005, bagaimana interaksi antara kekuatan-kekuatan lokal-yang secara psikologis merasa telah keluar sebagai “pemenang”- dengan kekuatan Jakarta dan bagaimana, pada akhirnya, tokoh-tokoh PA itu “mengalah”dengan kekuatan-kekuatan nasional.

Selanjutnya, catatan sang editornya, Salman Yoga S menulis pendapatnya bahwa buku ini berisi perpaduan perspektif yang serius, alurnya mengikuti kesetiaan mata air yang mengandung air mata, berpusing dan mengalir. Dimulai dari terdekat lalu kembali ke hulu hingga bermuara pada samudera demokrasi yang hegemoni dan sistem kepemerintahan negara.

Deklarasi Aceh Merdeka Digodok di Buntul Kubu

Yang tidak banyak khalayak tau, adalah foto dicover depan yang memampang foto sejumlah tokoh pergerakan Aceh Merdeka (AM) saat berpose di Buntul Kubu Takengon, Oktober 1976 silam. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya Tgk Hasan Muhammad di Tiro, Zainal Abidin di Tiro, Mat Bin Tas, Hasanuddin dan Tgk Ilyas Leube. Dalam sejarahnya mereka bertemu di Buntul Kubu Takengon Kabupaten Aceh Tengah membahas rencana deklasari gerakan Aceh Merdeka (AM) yang berujung pada pelaksanaan deklarasi di Gunung Halimun Pidie, 4 Desember 1976, atau sekitar 4 bulan setelah konsolidasi awal (pertama) di Takengon.

“Faktanya, konsep gerakan Aceh Merdeka digodok di Buntul Kubu. Dan saat itu hanya Tgk Hasan Muhammad di Tiro dan abangnya Zainal Abidin di Tiro yang hadir mewakili tokoh pergerakan AM dari Aceh pesisir, selebihnya adalah Urang Gayo Tgk Ilyas Leube dan kawan-kawan,” ujar Salman Yoga, editor buku tersebut, Sabtu (12/11).

Sementara sang penulisnya, Adam Mukhlis Arifin yang saat pergerakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berada di bawah komando GAM wilayah Linge dengan nama samaran Ali Gergel Pirak menyatakan rencananya buku tersebut akan tiba di Takengon pada 18 Nopember 2011 mendatang dan akan meluncurkannya dengan acara sederhana.

“Untuk edisi pertama dicetak 1000 eksemplar dan akan kita luncurkan di Takengon segera setelah tiba di Takengon,” kata Adam Mukhlis, penyandang gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gunadarma Medan Sumatera Utara ini.

Terkait damai Aceh, Adam Mukhlis menegaskan bahwa jajaran kombatan GAM Wilayah Linge mendukung sepenuhnya atas suasana damai Aceh saat ini. “Saya tegaskan bahwa kombatan GAM wilayah Linge sangat menghormati MoU Helsinki. Dan kami tunduk sepenuhnya terhadap Undang-Undang Dasar 1945,” pungkasnya. (Windjanur/03).

Comments

comments

News