by

Masa Depan Gayo

Jum’at, 4 Maret 2011, jam 20.00 s/d 21.00 WIB Acara KEBERNI GAYO kembali live di Aceh TV  Banda Aceh. Kali ini tema yang dipilih adalah “Masa Depan Gayo”, dengan nara sumber Amdy Hamdani (seorang pegiat LSM) yang berdomisili di Jakarta.

Jamhuri (kiri) dan Amdy Hamdani (kanan)

Semua orang berhak dan mempunyai kebebasan untuk berfikir, berkata, bercita-cita dan menghayal untuk membangun Gayo. Semua yang dilakukan tidak ada yang salah sepanjang mereka yang melakukannya kita anggap sebagai sumbangan pemikiran untuk menjadikan Negeri Antara seperti yang dicita-citakan oleh semua masyarakat.

Judul Masa Depan Gayo terinspirasi dari sebuah buku yang ditulis oleh John L. Esposito dengan judul Masa Depan Islam, inti dari buku ini salah satunya adalah orang tidak mengenal Islam secara benar sehingga praduga tidak baik selalu akan muncul, kelemahan ini muncul karena promosi dan sosialisasi yang dilakukan belum bisa menandingi kemajuan dunia barat. Dari situ kita bisa analogikan ke Gayo. Sebagai Daerah yang punyai potensi alam yang luar biasa dan SDM juga tidak kalah dengan dan malah lebih dibanding dengan daerah lain, namun kehidupan masyarakatnya terbelakang dan lamban berkembang dalam segala aspek.

Amdy Hamdani putra kelahiran Tingkem Kabupaten Bener Meriah melihat kelambanan kemajuan Gayo dari aspek : pertama, Urang Gayo belum sepenuhnya merasa diri sebagai urang Gayo. Ini banyak ungkapan petatah petitih Gayo yang seharusnya dijadikan sebagai panduan dalam hidup masyarakat tetapi tidak dipedomani dan diamalkan, Seperti : Beluh sara loloten mewen sara tamune, ini dipahami sebagai kebersamaan dan kebersatuan dalam membangun Gayo dengan tidak menganggap apa yang dikerjakan oleh orang lain tidak ada yang benar dan yang benar hanyalah pendapat dan pekerjaan dia sendiri atau kelompok tertentu saja. Selanjutnya Amdy menambahkan bahwa seseorang yang berpikir tentang Gayo dengan bahasa Gayo berbeda dengan mereka yang berpikir tentang Gayo dengan menggunakan bahasa yang bukan Gayo, ketika ditanyakan alasannya beliau menjawab bahwa banyak sekali kata-kata atau juga nama benda yang harus disebutkan atau dijelaskan dengan bahasa Gayo dan tidak ditemukan padanannya dalam bahasa lain.

Jadi kelemahan yang pertama ini harus kita cari solusi dan mengajak orang Gayo mau menjadi orang Gayo dimanapun ia tinggal dan kapanpun diperlukan mesti mau membantu dan selalu menyumbangkan pemikiran untuk Gayo tanoh tembuni. Dan identitas kegayoan yang paling nampak adalah bahasa serta kebersamaan dalam hidup

Kedua, Urang gayo cenderung melihat perbedaan diantara mereka. Pola pikir yang selalu menganggap dalam hidup ada perlawanan atau pertentangan, seperti : saya yang baik orang lain tidak, saya dapat pahala orang lain dapat dosa, orang kaya dan kita miskin, maklumlah kita rakyat dan mereka anak pejabat. Pola ini tertanam sejak dari masyarakat perkampongan sampai perkotaan, dari masyarakat biasa sampai pada mereka yang terdidik. Kecenderungan kedua ini juga dijadikan sebagai alasan kenapa masyarakat Gayo lamban untuk menuju arah kemajuan. Mungkin perlu waktu untuk merubah pola pikir ini dan walaupun agak lama harus dilakukan.

Ketiga, Cara berpikir Urang Gayo (Khususnya bagi mereka yang berpendidikan) masih bersifat tekstual, romantisme sejarah dan mengesampingkan analisa yang berpijak kepada realita. Urang gayo selalu bangga dengan sejarah masa lalu, mereka adalah orang pertama di Aceh, mereka adalah pemeluk Islam pertama, mereka adalah penakluk, pejuang dan penyebar islam di Aceh malah keseluruh Nusantara, tetapi realita sekarang mereka hanya menjadi orang hebat dilingkungan mereka dan tidak berani keluar untuk mengembangkan sayap. Dulu ketika masa jaya PGA Takengon semua Guru untuk Nusantara dikirim dari Gayo sampai ke Jambi dan Kalimantan, sekarang mereka bercita-cita sekolah di Gayo mencari kerja di Gayo. Dulu mereka punya pahlawan Aman Dimot dan Datu Beru sekarang kita tidak punya yang nama jendral.

Urang Gayo karena berpikir tekstual tidak punya Visi ke depan, ini tercermin dari ketidak mampuan generasi  sekarang untuk merubah apa yang telah dibuat oleh tokoh adat dan ulama dahulu, seperti  karena pada masa awal Urang Gayo  hanya mengenal kehidupan bersawah muncul istilah “RESAM BERUME” tetapi karena keadaan alam sehingga masyarakat sekarang boleh jadi karena kekurangan air menjadikan sawah sebagai tempat pembangunan kota (perumahan penduduk) kita belum mampu melahirkan istilah “RESAM BEREMPUS” dan ketika masyarakat kita menjadi masyarakat pedagang, industri dan transpormasi pasti kita lebih tidak siap lagi.

Keempat, Lemahnya Kepemimpinan Urang Gayo. Kepemimpinan Urang Gayo yang ada hanya sekedar simbolis  dan primordial semakin memunculkan perpecahan dan memperdalam keretakan dikalangan masyarakat Gayo, pengutamaan pemberian fasilitas kepada mereka yang sekelompok dengan pemimpin menjadikan pembangunan Gayo yang tidak tepat sasaran. Pembangunan yang dalam program sudah tepat sasaran dalam implementasinya belum tentu secara keseluruhan tepat guna, ketidakjelasan master plan pembangunan Gayo menjadikan masyarakat saling bertanya apa yang sudah, sedang dan akan di bangun di Gayo.

Rinal di Darussalam melalui jalur interaktif (0651) 40171 mempertanyakan realita pembangunan Gayo baik Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues atau daerah lainnya di Gayo, karena dia sebagai orang di luar Gayo dan tidak tinggal di Gayo tidak ada pembangunan tampak drastic berubah, seperti pembangunan melalui Bieruen – Takengon, pinggiran Laut Tawar. Kemudian kelihatan sekali bahwa Daerah Gayo tidak memiliki tata ruang dan tidak memiliki kwalitas pembangunan.

Apa yang disampaikan Rinal ada benarnya, untuk itu sebenarnya kita harus menjadikan pemerintah yang terbuka (transparan) dalam segala aspek pembangunan, sebagai contoh dalam penggunaan anggaran apakah telah digunakan sesuai dengan program, karena banyak sekali dalam realita program anggaran sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat tetapi dalam pelaksanaannya tidak membeli apa yang sebenarnya harus dibeli.

Tentang keamanan menurut Amdy sangat luas, termasuk apakah Urang gayo telah dapat makan, kalau umpamanya orang Samar Kilang masih ada yang tidak makan, sebenarnya keamanan belum tercapai, juga termasuk belum dikatakan aman jika masyarakat belum dapat mengerjakan kebun dan sawah mereka. Namun selama ini masyarakat masih memahami makna keamanan pada keterlibatan TNI, Polisi, BIN dan GAM serta pelaku kejahatan lainnya, kalau kita melihat bagian akhir ini sebagai keamanan maka untuk sekarang masyarakat sudah aman.

Untuk masa pendidikan ketika Amdy ditanya, beliau menjawab apakah masyarakat  masih punya semangat untuk maju dan berubah, kenapa pernyataan ini muncul adalah disebabkan karena minat generasi muda untuk menuntut ilmu sudah dan sangat menurun. Lalu kenapa hal ini terjadi pasti karena dorongan orang tua dan pemerintah juga menurun, generasi sekarang mungkin tidak pernah lagi mendengar pesan orang tua kita dahulu “Ko lang so enti ne lagu kami dor cogahi jema”.

Sebagai penutup Amdy sangat terkesan dengan acara KEBERNI Gayo ini, karena bagi mereka yang akan menjadi nara sumber dalam acara ini pastilah harus mempersiapkan diri, dan ini merupakan sarana untuk mensosialisasikan Tanoh Gayo supaya diketahui oleh orang banyak dan satu saat sebagai orang Gayo mempunyai nilai jual yang tinggi.(Drs. Jamhuri, MA)

Comments

comments

News