by

Puisi Kopi Adam Mukhlis Arifin

Bangsa Kopi
Memandang lepas ke segala arah
Hamparan pegunungan terbentang pasrah
Pematang saling berkejaran dengan lembah
Perpaduan sebuah berkah yang terkemas dalam amanah

Gemercik air mengalir
Semilir angin berhembus
Sunyi, senyap, damai tanahku

Kebun kopi terhampar dari hulu ke hilir
Pohon petai bersahutan dengan batang kopi
Dedaunan hijau melambai jutaan helai daun kopi
Tupai melompat diantara rimbunnya batang kopi
Musang tersenyum sendu memandang merahnya buah kopi
Semerah tanah Gayo yang membakar semangat para pahlawannya

Kopi Gayo….
Tidak saja berbagi kebahagiaan dengan berbagai fauna
Memberi penghidupan para petani yang tiada penat berusaha
Tetapi ikut memberi laba bagi para agen kopi di berbagai Negara
Bahkan turut menghangatkan ribuan tubuh penikmat kopi lintas benua

Kamilah bangsa Gayo!
Pewaris tunggal dari tanah Gayo
Penjaga adat dan budaya Muyang Datu
Budaya bertani dan penikmat kopi Gayo
Kamilah bangsa kopi!

2012,  Gegarang, Tan Saril

 

Ibuku

Ibu….
Seribu rambutmu keluar dari selembar balutan tudungmu
Badanmu terbungkuk, tanganmu menggenggam sebuah cangkul
Peluh menetes dari dahi menelusuri lekuk pipimu
Tak memperdulikan terik matahari yang coba menggoda kegigihanmu
Namun, engkau tetap mencangkul sebidang tanah kebun kopi
Sesekali menoleh ke arahku yang engkau tidurkan di bawah sebuah pohon temung

Pahlawan Hatiku….
Engkaulah petani kopi itu
Kadangkala engkau gendong aku di punggungmu
Tak memperdulikan beban berat di belakang tubuhmu
Engkau bergerak dari satu batang ke batang kopi yang lain
Tanganmu yang lentik begitu lincahnya memetik buah kopi yang merah
Engkau bekerja dalam dinginnya weh nami
Kadang kala dalam terik matahari yang membakar demi hasil yang alakadarnya
Sementara beberapa pihak mengambil manfaat dari ketulusan petani

Sungguh, kala itu aku tak mengerti makna kehidupan dan
Saat ini aku menyadari betapa besar pengorbananmu bagi anakmu
Terima kasih telah melahirkan aku sebagai anak petani kopi

2012,  Gegarang, Tan Saril

Adam-Mukhlis-ArifinAdam Mukhlis Arifin  lahir di Takengon 5 Mei 1969. Ia mempunyai moto kejujuran, keuletan dan kesabaran akan selalu keluar menjadi pemenang, meski terkadang harus tertunda dan melalui jalan yang tak terduga oleh manusia. Ia menyukai dan menulis puisi sebagai media sekaligus ekpresi jiwa ketika media lain tak mampu mewakilinya. Selain pernah menempuh pendidikan di SMP 76 dan SMA 30 Jakarta juga adalah alumni Time Spoken Language Centre Campbell, Kuala Lumpur Malaysia.

Puisi Adam Mukhlis Arifin  telah lulus seleksi tahap pertama dari sejumlah karya yang dikirimkan dan berhak menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan oleh The Gayo Institute (TGI) dengan Kurator Fikar W Eda dan Salman Yoga S.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.