by

Mengenang Kampung Nosar!

Andrian Kausyar
Andrian Kausyar

Oleh :  Andrian Kausyar

Desau pinus diantara riak danau, bukan hanya menyejukkan sukma. Namun semakin memperindah kilauan kampung di pinggiran negeri surga ini. Sebuah kawasan yang damai, diantara pelukan bukit barisan ujung barat Pulau Sumatera.

Kampungku nun jauh diseberang sana seketika terbayang indahnya masa lalu waktu kecil. Banyak teman bermain gasing, bermain gegasak, letep, bebedilen. Berlomba berenang sambil mandi, bertetanyuren sengaja itabun diri ku Lut Tawar.

Giliran sore menjelang malam, ada kegiatan menangkap ikan dengan alat nangil, nekik. Menjelang remaja hobi mencari ikan semakin melekat dijiwa, mulai menebar jele, doran, wawu, penyangkulen, serampang, luni, seruwe, jangki, rebetik, kekal. Penggunaan alat penangkap ikan dipakai menurut hobby masing-masing. Para pemudi-pun ambil bagian lup memin, beketor, nayu, nutu jengki dan sebagainya.

Teringat kampung halaman, karena disana tanoh tembuni tempat kelahiran. Susah senang sama-sama menjalani kehidupan sehari-hari. Bertani mengerjakan sawah, ladang,bercocok tanam berkebun, dalam sengatan matahari dan siraman hujan. Kucuran air yang deras turun dari langit semakin membuat tubuh menggigil, apala suhu udara disana memang sudah dingin. Diterpa luding serlah.

Waktu panen padi, tidur di ladang. Saat matahari kembali dari peraduanya, melangkahkan kaki menuju Lut, mengambil perangkap (mulangku). Mengharap ikan masuk dalam perangkap. Ikan segar dibawa pulang dan buru-buru ke sekolah. Tanpa terasa seiring waktu, ahirnya hijrah ke kota Takengen, ke Kampung Baru, Takengen Barat. Dari sana menuju perantauan ke negeri orang, mencari Ilmu pengetahuan mencari sesuap nasi, mencari ridha Allah SWT. Tidak dapat disembunyikan sekarang wajahku sudah tua dan pucat, kulit mulai keriput pelan-pelan dimakan usia, teman bermain dulu entah dimana.

Sejak dari kecil, begitu terang ingatan Nosar sudah memiliki Pahlawan Pang Sebahi. Orang-orang Nosar menghargai dan menyebut pahlawan, karena Pang Sebahi berjuang melawan penjajah Belanda. Pang Sebahi orang yang sudah lama dicari oleh kolonialis.

Pada suatu dalam, di kediamanya, gua Loyang Atu Gernang, Pang Sebahi di tembak mati. Percikan darah mengenai tubuh istrinya. Teman hidup setia Pang Sebahi ini dalam sara kuren, juga ditembak Belanda, terjatuh terkulai ke bumi. Demikian dengan beberapa staf Pang Sebahi juga menghembuskan nafas terahirnya, setelah timah panas penjajah merobek tubuhnya.

Pang Sebahi masih pengantin (Aman Manyak), sehingga tidak punya keturunan. Peninggalan satu-satunya,pusaka pedang bekunci sampai sekarang ( 2015) masih ada di Bandung di rumah keponakanannya. Pang Sebahi dan Istrinya bagaikan tak mau berpisah dunia dan ahirat bersama istrinya. Mereka berdua dikuburkan dalam satu liang di perkuburan Nosar, Raja Syah Utama. Raja yang setara dengan Raja Linge, Raja Bukit, Raja Abu Lokup Serba Jadi. Kemudian kerajaan itu berubah menjadi republik sesudah merdeka 1945.

Melihat kampung Nosar, kecil sekali wilayahnya ke sebelah selatan kelihatan Atu Gernang, 3 kilo dari kampung Nosar. Ke Utara berbatas dengan Lut Tawar 2 kilo dari kampung. Ke Timur berbatas Bur Datu jarak satu kilo, ke barat berbatas Bamil 1 kilo. Dari kampung Nosar ke Timur 7 kilo ada kampung Mengaya dan ke barat ujung Sere 5 kilo sebelahnya berbatas dengan Jamur Lokup.

Sumber Daya Manusia Nosar dapat diandalkan dan sudah teruji puluhan tahun lalu, walau wilayah Nosar sangat kecil. Sebelum Belanda masuk Aceh, Nosar sudah memiliki Kerajaan Siyah Utama. Tentu hal ini anugrah Allah SWT. Dari Nosar telah terlahir kepala Mukim kota Takengen yang pertama, Bapak Mukim Sulaiman Aman Mas Tahun 1950, Kapten Usman TNI Tahun 1976. Dari negeri di pinggiran danau ini juga telah terlahir Bupati Aceh Tengah terbaik Provensi Aceh dua priode, Bapak H. Benny Banta Cut BA. Kepala LTA 77 Gayo Mountain Coffee Pondok Gajah Tahun 1988 Bapak Ir. Ebes Nosarios 18 Tahun di Jerman Barat tahun 1975 kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1977 bapak Tabrani (Bea Cukai, ceh group didong Pesisir Laut tahun 1945), bapak H. M. Ryasid (pegawai Bea Cukai) dan bapak Drs. H. Wahab Rahmatsyah (DKI). Mereka tokoh masyarakat Gayo di Jakarta, sangat disegani pada masanya. Pada tahun 1990, Mulia pemain sepak bola FC Berlian juga berasal dari Nosar. Nama Mulia ditabalkan menjadi nama Lapangan Bola Mulia Jaya Pondok Baru sekarang kabupaten Bener Meriah. Era reformasi muncul guru besar di Medan Prof. Yusnadi dan sejumlah SDM lainnya.

Nosar kampungku taring kenangan yang manis, sulit dilupakan walau kami dirantau selalu teringat padamu tanah tembuniku yang megah dengan lasunnya (bawang merah),karena mutu dan kuwalitas sangat baik. Ikan depik yang megah, berenang di bawah Bur Kelieten wilayah Nosar. Sampai tahun 1985-an, ikan depik dua kali setahun keluar dan bertelur, ditangkap nelayan. Smua orang Aceh Tengah kebagian menikmati gurihnya ikan depik bahkan keluar Aceh, pulau sumatera dan seterusnya.

Sekarang ada wisata air terjun di Mengaya setiap hari minggu orang berkunjung bahkan dari luar Aceh Tengah menikmati ke indahan air terjun dan alam sekitarnya.

Nama-nama belah (klin) di Nosar :
1. Belah Kejurun
2. Belah Mude
3. Belah Bale
4. Belah Bamil
5. Belah Beno
6. Belah Ujung Jamu
7. Belah Telpam
8. Belah Mengaya.

Jakarta, 27 Januari 2015

Comments

comments