by

dr. Insan Sarami Artanoga: Masihkah Masyarakat Menerima Saya Setelah Sembuh

Catatan: dr. Insan Sarami Artanoga, SP.KJ

Lintasgayo.com – Semenjak hasil Swab saya dikeluarkan oleh Balitbangkes Aceh yang dinyatakan terhadap saya terkonfirmasi positif Covid-19, Hari ini, hari ke 4 perawatan saya dr. Insan Sarami Artanoga, Sp.KJ, di ruang pinere 1 RS Zainal Abiddin Banda Aceh.

Alhamdulilah saya sangat bersyukur kepada Allah masih diberikan kesehatan jiwa dan raga serta umur untuk bisa terus menghirup segarnya udara pagi, dan indahnya suasana dunia.

Sudah berjalan dan empat hari lalu, saya dengan hati dan perasaan yang tulus menuangkan isi pikiran saya pada sebuah tulisan yang saya beri judul “Melawan Stigma”, Alhamdulillah respon dari masyarakat sangat baik.

Mendoakan kesehatan saya, dan kawan sera sahabat memberi dukungan secara psikis dan semangat melawan virus yang bersarang ditubuh saya ini, Saya ucapkan terima kasih, dan semoga Allah SWT membalas kebaikan saudaraku semuanya.

Sengaja saya tidak membalas satu persatu karena saya ingin sekali melihat respon dari masyarakat tentang Covid19 yang saya derita ini, ternyata banyak yang sudah sangat baik menanggapi penyakit ini.

Namun muncul lagi pertanyaan dalam pikiran saya dalam benak apakah masyarakat masih mau menerima kepulangan saya setelah dinyatakan sembuh dan ditambah sudah melakukan isolasi mandiri 14 hari dirumah nantinya.

Jika dokter Ahli (Spesialis Paru & tim) sudah menyatakan sembuh, tentunya kita sebagai manusia harus menerima dilingkungan dan dipekerjaan nantinya, semoga ini hanya ilusi saya saja.

Saya ingin sekali menyampaikan tips atau saran kepada semua pembaca, apa itu, Ada 2 hal yang harus perlu kita jalankan, Jika anda terkonfirmasi positif Covid-19, maka patuhi protokol kesehatan.

Yang tidak kalah penting adalah jangan menstigmasi diri sendiri, tidak boleh ada dalam pikiran anda menganggap bahwa anda sedang mendapat kutukan, Kemudian jangan menganggap diri kita pembawa malapetaka.

Jangan kita merendahkan diri kita akibat penyakit yang kita derita, lalu bagaimana. Kita harus tenang, lakukan evaluasi diri tentang gejala yang berkembang, jauhkan pikiran terhadap dampak Virus ini terhadap kematian.

Berharap muncul semangat untuk dapat sembuh, serta jangan lupa berdoa kepada Allah yang Maha Besar.

Tidak lupa saran saya untuk keluarga, tentu untuk kita semua, mari kita pahami, situasi ini mengharuskan kita untuk tetap dirumah, kita bukan sedang dikurung atau dikekang.

Melainkan kita sedang menolong orang lain diluar sana agar tidak terpapar oleh kita yang belum mengetahui hasil pemeriksaan. Jangan dianggap sepele terhadap penyakit ini, pakailah prinsip kita masing-masing.

Teruntuk saudaraku, kita, anda yang ada diluar sana yang keluarganya tidak terpapar covid19, tolong hargai keluarga kami yang sebenarnya sedang menolong anda dari paparan virus ini, bantu keluarga kami.

Jangan menghakimi keluarga kami dan mendiskriminasikannya, mohon lakukan tindakan pengisolasian secara santun dan lembut, insya Allah akan terjadi pemikiran yang sejalan antara anda dan keluarga kami semunya yang positif Covid-19.

Mungkin buah pikiran kami ini dapat meluruskan stigma masyarakat, khususnya kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah dimana tempat tinggal saya tinggal dan tempat saya bekerja, umumnya untuk seluruh masyarakat di Indonesia.

Semua ini agar tidak terjadi hal-hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Mari kita berikan edukasi-edukasi yang membangun dimulai dari diri kita sendiri harapan dari kami semunya.

Selanjutnya pesan dari kami yang berjuang melawan Covid-19 yang sedang terpapar ditubuh kami ini, ini bukan teori konspirasi, harus tetap gunakan masker, cuci tangan, jaga jarak jika tidak ingin merasakan isolasi 14 hari itu mungkin sangat berat.

Dapat kami sampaikan melalui media ini secara jelas dan nyata,cukup kami saja yang mengalami hal ini, sekali lagi ini bukan penyakit “aib dan kutukan” saudaraku sebangsa dan setanah air dari kami dr. Insan Sarami Artanoga,Sp.KJ.

Editor: Putra Mandala

Comments

comments

News