by

Save Our Self (SOS) : Ikan di Lut Tawar Diserang Alien

Oleh Muchlisin Z.A, S.Pi, M.Sc*)

Sekilas Tentang Aliens Species

Tulisan ini adalah tanggapan kami atas pemberitaan terkait penebaran benih ikan Bandeng (introduksi ikan Bandeng) di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh seperti yang dimuat di sejumlah media cetak dan online di Aceh beberapa waktu lalu.

Mendengar kata Alien, banyak diantara kita yang mungkin terkejut dan penasaran, pikiran kita langsung tertuju pada salah satu judul film yang pernah terkenal tersebut. Alien species artinya adalah jenis asing, dengan demikian alien species yang dimaksud disini adalah ikan asing yang diintroduksi ke perairan Aceh khususnya ke Danau Laut Tawar.

Hasil kajian kami beberapa waktu lalu mendapati ada sembilan spesies ikan asing (alien species) di perairan Aceh yaitu Clarias gariepinus (lele dumbo), Cyprinus carpio (ikan mas), two species of tilapia i.e. Oreochromis mossambicus (mujair), and O. niloticus (nila), two species of swordtail (plati pedang) i.e. Xiphophorus helleri, X. maculates, Hiposarcus pardalis (sapu kaca), Poecillia spp (ikan seribu) and Ctenopharyngodon idella (grass carp atau ikan Cina) (Muchlisin Z.A, 2009). Jumlah tersebut mungkin akan terus bertambah, seiring giatnya usaha-usaha untuk mendatangkan ikan asing oleh pihak-pihak tertentu.

Introduksi ikan asing ke perairan Indonesia umumnya dan Aceh khususnya telah terjadi sejak lama, sebagai contoh ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yaitu salah satu spesies ikan yang penyebarannya sangat luas, sejatinya adalah ikan asli Afrika. Ikan ini dijumpai di perairan Aceh sejak lama, namun tidak ada catatan pasti sejak bila ikan ini di introduksi ke Aceh., namun demikian kami memprediksi ikan mujair pertama kali introduksi ke Aceh antara tahun 1957/1957 oleh seorang nelayan yang bernama Raja Ilang dan pertama kalinya diintroduksi ke Danau Laut Tawar (Personal komunikasi dengan neyalan Danau Laut Tawar).

Dari catatan yang ada, di Indonesia, ikan mujair pertama kali ditemukan sekitar Tahun 1936 atau 1939 (ada dua versi tahun pertama ditemukan) di muara Sungai Blitar, Jawa Timur oleh Bapak Moedjair, namun tidak diketahui siapa yang mengintroduksikannya (Anonimous, 2009), oleh karena itu ikan ini lebih dikenal dengan sebutan ikan mujair.

Ikan mujair dan nila telah diintroduksi ke lebih 90 negara, 15 negara diantaranya telah melaporkan dampak negativenya terhadap ecologi (Casal, 2006), dan bahkan ikan mujair dan ikan mas telah dicap sebagai top 100 of the world’s worst invasive alien species (GISP, 2004).

Dampak Kehadiran Alien Species

Introduksi ikan asing biasanya memiliki tiga tujuan, yaitu untuk tujuan diversifikasi jenis ikan budidaya (misalnya ikan lele dumbo, mujair, nila, ikan mas etc), pengontrolan hama atau penyakit (ikan seribu dan plati pedang) dan tujuan hobby misalnya ikan hias (plati pedang dan ikan sapu-sapu).  Introduksi ikan asing ibarat makan buah simalakama, disatu pihak diperlukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan ketersediaan protein hewani yang murah, atau untuk memberantas penyebab penyakit, namun dilain pihak akan membawa akibat buruk bagi biodiversitas khususnya ikan asli.

Namun demikian, sebagian besar para saintis sepakat bahwa introduksi ikan asing membawa dampak buruk bagi lingkungan dan dunia perikanan dalam jangka panjang, dan isu ini telah menjadi masalah global khususnya terjadi pada ekosistim air tawar  (Welcomme, 1992; Garcia-Berthou and Moreno-Amich, 2000; Sorensen and Hoye, 2007).

Introduksi ikan asing ke suatu perairan akan menyebabkan turun dan bahkan punahnya populasi ikan asli setempat khususnya ikan-ikan yang bersifat endemik (Lever, 1996; Saunders et al., 2002), hal ini disebabkan karena ada terjadinya pemangsaan (predation) terhadap ikan lokal (Elvira et al., 1996; Nicola et al., 1996), kompetesi dalam mendapatkan makanan dan habitat (food competition and habitat alteration) (Garcia-Berthou, 1999; Alcaraz and Garcia-Bethou, 2007; Garcia-Berthou, 2001), gangguang dalam mendapatkan pasangan (disturbance of mate recognition) (Seehausen et al. 1997), meningkatkan peluang penyebaran patogen penyebab penyakit pada ikan bahkan manusia (increases the probability of introducing new pathogens), (FAO, 2005), terjadinya kawin silang yang tidak diharapkan dengan species lokal (Elvira, 1995; Almodovar et al., 2006) yang menyebabkan hilangnya gen unggul tertentu, misalnya gen yang membawa sifat tahan terhada penyakit.

Sebagai ilustrasi, introduksi ikan redbreast sunfish (Lepomis auritus) ke beberapa danau di Italia telah menyebabkan populasi ikan asli setempat berkurang drastis dan populasinya digantikan oleh ikan pendatang tersebut, dan introduksi ikan Alburnus alburnus ke perairan New Zealand juga menyebabkan populasi ikan endemic disana New Zealand grayling (Protoctes oxyrhynchus) turun drastis (Wargasasmita, 2002).  Lebih lanjut Strecker (2006) melaporkan bahwa populasi ikan Cyprinodon sp and Gambusia sexradiata di Laguna Chichancanab, Mexico menurun tajam setelah terjadinya invasi oleh ikan Astyanax fasciatus and Oreochromis (African cichlid), bahkan Cyprinodon simus yang hidup disana dilaporkan sangat sukar dijumpai dan prediksi telah pupus.

Suatu fenomena yang sangat terkenal yang terjadi di Danau Victoria dan Danau Kyoga yang terletak di bagian timur Afrika, peristiwa ini didokumentasi dengan baik dan menarik perhatian para saintis. Dimana jumlah species dan kelimpahan ikan lokal menurun drastic setelah introduksi ikan nile perch  (Lates niloticus) di kedua danau tersebut. Akibatnya sangat buruk, menyebabkan produksi perikanan di Nyanza Gulf, Kenya kolaps pada Tahun 1985. Seluruh nelayan menerima dampak buruk dari peristiwa ini akibat kehilangan mata pencaharian dan dengan terpaksa dipindah dari teluk tersebut (Barlow and Lisle, 1987).

Studi kasus: Danau Lau Tawar

Danau Laut Tawar merupakan salah satu danau terluas yang terletak di Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan asal usulnya danau ini tergolong kepada danau yang terbentuk dari kawah gunung api yang telah mati (danau vulkanik) dan berada pada ketinggian lebih kurang 1200 meter dari permukaan laut, memiliki luas lebih kurang 5,600 ha atau 16 km panjang dan 4 km lebar dengan dalaman rata-rata 35 m dan kedalaman maksimum 115 m. Lebih kurang 25 sungai kecil mengalir ke dalam danau dan hanya ada satu sungai besar sebagai outflow danau yaitu Krueng Peusangan.

Danau Laut Tawar memiliki arti penting bagi masyarakat Gayo, danau ini merupakan sumber air bersih bagi masyarakat setempat, pertanian, industri dan perikanan.  Dalam kaitan perikanan, terdapat dua jenis aktifitas perikanan di danau ini yaitu, perikanan tangkap dan perikanan budidaya.

Menurut data statistik yang ada, pada Tahun 2009 sekurang-kurangnya 225 orang nelayan mengantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan danau dan lebih kurang 150 orang lainnya menjadikan danau ini sebagai tempat pembudidayaan ikan dalam karamba (DKP, 2009). Pendapatan nelayan Danau Laut Tawar sangat bervariasi tergantung pada jumlah jaring yang dimiliki dan musim. Namun demikian pada umumnya nelayan di danau laut tawar tergolong sebagai nelayan tradisional dan berpendapatan rendah, yaitu rerata pendapatan kotor nelayan adalah Rp51.000/ hari (Muchlisin, unpublished data).

Salah satu sumberdaya perikanan yang ada di Danau Laut Tawar adalah ikan depik (Rasbora tawarensis), ikan ini bersifat endemic (penyebarannya sempit) dan tergolong ikan yang terancam punah (threatened species) dan telah dimasukkan dalam IUCN Red List dengan kategori Critical Endangered (IUCN, 1991; CBSG, 2003).   Ikan depik  merupakan target utama bagi sebagian besar nelayan di Danau Lau tawar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ikan Depik bagi nelayan dan masyarakat setempat.

Namun sayangnya, produksi ikan dari Danau Laut Tawar terus menurun dari tahun ke tahun dan berdasarkan data statistik yang ada, penurunan produksi ikan dari Danau Laut Tawar mencapai 83.5% selama dua decade terakhir, yaitu 455 ton di tahun 1988 (DKP Aceh, 1989) menjadi hanya 74.5 ton di tahun 2008 (Bepeda Aceh Tengah). Fenomena yang sama juga terjadi bagi ikan depik, dimana hasil penelitian kami baru-baru ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan (catch per unit effort) ikan depik turun dari rerata 1.17 kg/m2 unit jaring di era 1970an hanya menjadi  0.02 kg/m2 unit jaring di Tahun 2009 atau turun drastis 98.3% selama kurun waktu tiga decade terakhir. Sebagai konsekuensinya, nelayan mencari strategi lain untuk menangkap ikan dengan lebih efektif yaitu dengan mengunakan jaring  insang (gillnet) yang beroperasi tidak mengenal musim bahkan setiap hari, dan sebagiannya lagi beralih menjadi nelayan pembudidaya, namun sayangnya sebagian besar dari mereka justru lebih tertarik untuk memelihara ikan alien seperti ikan mujair, nila, dumbo atau ikan mas. Bukannya ikan pedih/gegaring, peres, ataupun mud atau ikan lainnya yang telah ada di danau yang indah ini.

Penyebab turunkan populasi ikan endemik di Danau Laut Tawar diantaranya adalah; turunnya muka air danau akibat daripada kerusakan hutan sehingga menyebabkan banyak spawning ground (dedesen) dan nursery ground kering, introduksi ikan asing, dan pencemaran dari limbah rumah tangga, hotel, pertanian dan perikanan turut menyumbangkan dampak negatif terhadap populasi ikan disini. Jadi bukan salahnya si enceng gondok atau hydrilla!,. Menurut saya yang patut dipersalahkan adalah cukong-cokung kayu, masyarakat atau pengusaha yang membuang limbah ke danau dan paling bertanggung jawab lagi adalah pemerintah yang telah membiarkan semua itu terjadi.

Hasil penelitian kami beberapa waktu lalu mendapati sekurang-kurang ada tujuh species ikan asing yang diintroduksi baik secara sengaja maupun tidak ke Danau Laut Tawar. Species-species tersebut adalah Clarias gariepinus (lele dumbo), Cyprinus carpio (ikan mas), Oreochromis mossambicus (mujair), O. niloticus (nila), plati pedang atau buntok (Xiphophorus helleri) dan, grass carp atau bawal (Ctenopharyngodon idella), dan bahkan ikan sapu kaca (Hiposarcus pardalis) dilaporkan oleh neyalan juga telah ada di danau ini.

Ironisnya lagi baru-baru ini (tanggal 28 Oktober 2009) pemerintah setempat telah melakukan introduksi lebih kurang 35.000 ekor benih ikan bandeng ke Danau Laut Tawar, dengan tujuan untuk mengatasi pencemaran Danau Laut Tawar(?). Kegiatan ini menunjukkan masih kurangnya pemahaman akan aspek-aspek penting managemen sumberdaya perikanan yang baik dan benar (baik belum tentu benar, benar sudah tentu baik). Sepatutnya yang perlu dilakukan adalah mengatasi factor “penyebab” terjadinya pencemaran, bukan membrantas “akibat” yang ditumbulkan oleh pencemar itu sendiri.

Lebih ironis lagi program “restocking” juga telah disalah artikan oleh sebagian masyarakat bahkan pejabat, kegiatan tabur benih ikan nila atau ikan mas ke danau misalnya telah menjadi kegiatan seremonial rutin jika ada pejabat yang berkunjung di kawasan ini, sayangnya kegiatan ini disponsori oleh lembaga yang sepatutnya menjaga kelestarian danau.

Sejatinya pengertian restocking adalah melakukan tabur ulang benih ikan yang memang telah ada dan hidup secara alami disana, namun populasinya semakin berkurang. Oleh karena itu untuk mendukung restocking ini perlu dilakukan kegiatan lain misalnya koleksi dan domestika induk-induk, dan selanjutnya dilakukan pemijahan secara terkontrol, benih yang dihasilkan di restock atau dilepaskan kembali ke alam dengan tujuan populasinya kembali normal dan seimbang (juga tidak berlebih, karena akan meberi dampak buruk kepada spesies lain dan menganggu kesimbangan ekologis), oleh karena itu perlu dikontrol dan dimonitoring perkembangan secara kontinyu. Benih-benih dari hasil pemijahan buatan tersebut dapat juga digunakan untuk tujuan budidaya. Untuk itu kajian biologi reproduksi perlu dilakukan sebelum dipijahkan dan jika larva-larva yang dihasilkan ingin digunakan untuk tujuan budidaya secara luas, aspek kebiasaan makan perlu dikaji agar dapat disiapkan pakan  yang sesuai untuk species berkenaaan. Oleh karena itu kegiatan restocking ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri akan tetapi merupakan hasil dari penelitian yang comprehensive atau terintegrasi.

Kegiatan yang dilakukan sekarang bukanlah restocking akan tetapi lebih kepada reintroducing species asing ke danau (kegiatan tebar bibit bandeng dapat diketagorikan sebagai introducing alien species karena pertama kali dilakukan) yang mengancam keberadaan species local misalnya depik, kawan dan pedih yang merupakan indigenous species dan dua yang pertama bersifat endemic di Danau Laut Tawar.

Fenomena-fenomena yang kami paparkan diatas tampaknya sudah mulai terjadi di Danau Laut Tawar, nelayan setempat mengklaim, saat ini populasi ikan depik dan kawan semakin menurun namun sebaliknya populasi ikan nila semakin dominan. Siapkah kita kehilangan ikan kebanggaan kita ini? Siapkah kita khususnya orang Gayo untuk tidak bisa lagi merakan sedap dan gurihnya pepes dan peyek depik? Siapkah kita hanya makan ikan nila atau mujair saja? Jika tidak, kinilah saatnya untuk bertindak dan berkata:

“STOP INTRODUKSI IKAN ASING KE DANAU LAUT TAWAR, DEPIK DAN KAWAN SANGGUP MENGHIDUPI KAMI”

Dalam kapasitas sebagai peneliti, kami juga ingin turut mengambil bagian dalam campaign ini, saat ini kami sedang mengkaji sejarah hidup (life history) ikan depik, beberapa seri penelitian telah dilakukan dan hasilnya sedang dalam proses publikasi di beberapa recognized journal dan bereputasi international dengan harapan dapat dibaca oleh khalayak ramai dan ikan depik dapat dikenal oleh komunitas global, beberapa penelitian lainya sedang dijalankan. Hasil-hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk menyusun rencana pengelolaan atau konservasi ikan depik.

(*Penulis adalah dosen dan peneliti di Universitas Syiah Kuala dan candidate Doktor dalam bidang Fisheries Management and Aquaculture di Universiti Sains Malaysia, Penang. Malaysia. Email: muchlisinza@yahoo.com)

Comments

comments

News