by

Dakwah atau Melawak

Asriatun*

BEBERAPA waktu yang lalu, saya mengunjungi sebuah rumah makan. Ada sebuah poster kecil yang di pasang di setiap bilik rumah makan tersebut. Kata-kata yang di tuliskan dalam poster memang berisi dengan pesan-pesan religi. Yang membuat  heran, kata-kata tersebut harusnya mencerminkan perkataan ulama atau pemuka agama, tetapi malah sebaliknya. Dua gambar dari sisi kanan dan kiri adalah foto Rowan Atkinson yang sering dikenal sebagai Mr. Been dan di tengahnya ada lafal Allah.

Banner

Hilangnya Kebutuhan Spiritual

Hal ini terlihat menarik untuk di pahami secara lebih mendalam. Mengapa fenomena semacam ini menjadi yang wajar, menjadi kelaziman. Lawakan baik dari segi tulisan ataupun dari segi bahasa tubuh mampu membuat orang tertarik untuk menyaksikan atau sekedar mendengar.

Apa sebenarnya yang salah dengan fenomena semacam ini ? Apakah kebutuhan masayarat terhada nilai-nilai spiritual telah berhasil diambil oleh para pelawak atau komedian yang kian menjamur. Apa tugas ulama dan teungku-teungku telah di serahkan pada para komedian untuk menumbuhkan kesadaran spiritual masyarakat.

Apa yang salah dengan perkembangan watak masyaakat. Apakah kemiskinan dan ketidak sejahteraan masyarakat akhirnya mengubah pola berfikir dengan menyimak berbagai lawakan yang sedemikian menjamur dan menyebar kedalam pemikiran masyarakat. Ada dua hal yang coba saya deskripsikan dengan sudut pandang berbeda.

Kemiskinan dan Hiburan

Boleh jadi masyarakat mulai berusaha  menghapuskan permasalahn kemiskinan dengan mencari ruang menghibur diri. Usaha membuang beban yang selama ini dipikul. Tertawa dengan menyasikan fenomena yang terjadi di negri ini sebagai sebuah lelucon yang harus diterima. Hiburan melalui lelucon para pelawak menjadi semacam ramuan guna mengilangkan permasalahan hidup sejenak.

Asumsi selanjutnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemuka agama mulai berkurang. Berbagai alasan dipakai untuk membantah setiap perkataan yang terlontor dari pemuka agama. Perkataan para pendakwah tidak lebih menarik. Maka tidak heran, jika sekarang nasihat-nasihat yang di berikan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.

Komedian dan Pemilu

Dalam pemilu legislatif beberapa dekade terakhir ini, kita dapat dengan mudah menemukan komedian yang lalu lalang di layar kaca akhirnya menempati kursi pejabat di senanyan. Suara rakyat dirasa dapat tersalurkan dari para komedian itu sendiri. Panggung politik sejatinya adalah panggung sandiwara, siapa saja, dari elemen apa saja bisa mewakili aspirasi rakyat.

Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari menurunnya kepercayaan terhadap para pemuka agama. Citra buruk yang terbangun beberapa tahun terakhir ini mebuat para politisi yang berlindung di bawah naungan agama ternyata menjual agama sebagai daya tarik semata. Fakta di lapangan menunjukan seorang yang tampilan luarnya begitu religius ternyata tdak telepas dari kasus korusi, suap dan perselingkuhan.

Dakwah-dakwah yang membuka ruang untuk membuka kembali pemikiran terhadap nilai-nilai religi, terpaksa harus diselipkan lawakan untuk menarik para penonton. Telah terjadi pergeseran nilai. Masyarakat mulai gamang dengan dirinya sendiri. Kecenderungan untuk mendengar lawakan ketimbang nasihat-nasihat relijius telah memaksa sebagian para pendakwah untuk menyediakan manuskrip kecil guna menyelipkan lelucon sederhana dalam dakwah mereka.

            Orang-orang bahkan kini lebih tertarik untuk menyaksikan tayangan televisi yang dihiasi para pelawak ketimbang menyaksikan acara-acara yang berbasis nasihat religi. Para tokoh-tokoh pemuka agama yang menjadi selebritis kini mencari nilai jual dengan melawak.

Bukan hal yang keliru memang ketika dakwah, diselanya riuh dengan tawa penonton. Namun sangat disayangkan, lelucon yang dikemukakan oleh pemuka agama jauh lebih dapat masuk dan diinggat oleh masyarakat, ketimbang pesan-pesan religi yang di sampaikan. Bahkan obrolan ringan yang terjalin di dalam keluarga lebih banyak membahas bagimana sifulan yang di ceritakan oleh para pendawah menjadi tertawaan.

Watak masyarakat kini telah menglami degradasi moral. Sudah cinta terhadap humoritas dan lupa pada hakikat hidup yang sarat dengan nilai-nilai ketuhan. Kita begitu mudah mabuk dan terombang dengan kebahagiaan sesaat. Dan seketika lupa dengan kebutuhan akhirat.

Ini tentu menjadi pr bersama masyarakat. Indonesia sama halnya Pancasila merumuskan sila pertama dengan bunyi “ketuhana Yang Maha Esa”. Sebuah nilai yang sarat dengan nilai-nilai Ketuhanan. Yang menyakini asal mula penciptaan manusia berasal dari Rabbnya.

Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai religius harus mencakup segala aspek kehidupan. Bukan hanya dari segi agama, tetapi mencakup segi ekonomi, sosial, budaya. Penanaman nilai ini harus mencakup lintas aspek. Jangan samapai pada akhirnya masyarakat lebih percaya kepada para komedian dan melupakan pesan yang sarat akan nilai ketuhanan. Sebuah hadis mengatakan “janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa it

*Mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh;Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan IV; dan Anggota Komunitas Butuh Irigasi

Comments

comments