by

Impian Terpencil

Oleh: April Apriani*

Apriani

Ruang ini masih kutatap dengan kosong, sepak terjang seperti apa lagi yang harus kulakukan tuk meyakinkan kakek? “ah inikah keinginan” batinku menggumam, dengan berat kuayunkan kaki ke kamar kakek, “masuk rez” katanya dengan suara berat mendengar langkah kakiku di lantai, aku duduk disampingnya yang tengah berbaring , aku masih diam seribu Bahasa, entah apa lagi kali ini menjadi alasanku.

“sudah makan?” tanyanya masih dengan suara berat.
“sudah” jawabku singkat sambil memeriksa obat kakek
“kamu masih marah?” aku hanya diam saja
“kakek hanya tak mau kamu jauh dari sini, lain waktu saja kamu pergi ketika tak ada lagi hal yang menunggumu” jelasnya
tapi aku hanya terdiam, kutatap dalam matanya dan aku menitikkan air mata, namun kusembunyikan lewat binarnya cahaya lampu, aku tak ingin beliau melihatku menjadi anak cengeng, masih kuingat pernyataan dari rekan kerja ku “selamat res, kamu bisa mengabdi di kota yang kamu impikan, papua”. Namun kini terasa nihil, toh tak ada alasan untuk pergi dari tanah rencong ini, kakek terus memantau langkahku, aku tahu dia tak akan mengerti bagaimana impianku itu, mulia tapi tak dianggap ada.
“sudahlah res, mukamu cemberut sekali, kamu bertambah jelek saja, kakek mau istirahat dulu dan tolong matikan lampu setelah kau keluar” ungkapnya sembari memalingkan wajah dariku dan memejamkan mata
Kulangkahkan kaki tuk beranjak dari tempat tidur kakek, kupandangi wajah tua nya yang telah mengerut, tidak lagi setampan saat aku berumur 15 tahun lalu, saat dimana orang-orang yang kusayangi pergi ke surga dengan gelombang yang menelannya 26 desember 2004, kini kejadian itu membekas dengan luka yang menoreh Qalbuku, namun apa daya Allah lah pencifta dan kita kan kembali padaNYa.
***
Mataku tak bisa terpejam, padahal hari telah larut, waktu masih berdetak dengan jarumnya yang menunjukkan sudah pukul 2 pagi, entah apa yang ku cari, otakku masih pada anak-anak papua itu, kukira akan menjadi langkah yang mudah untukku mengabdi di tanah kering itu, mengobati para orang sakit dan mereka tak lagi perlu bejalan selama 2 hari tuk mencapai puskesmas, membawa anak bermain dengan bola pimpong yang telah ku beli semingu lalu, memakaikan mereka kaos bola, memberi permen saat mereka pandai mengeja A, B, C, D, E.. memapah para lansia yang ingin melihat matahari tersenyum dibalik ilalang, sungguh impian ku saat pertama aku mamantapkan niat tuk menjadi dokter, walaupun aku tak bisa menyelamatkan nenek, ayah, ibu serta zhildan adikku, tapi aku dapat menolong orang lain yang membutuhkan pertolonganku, serasa mustahil sekarang karna larangan kakek untuk aku pergi, apapun alasan yang kukatakan tetap saja dia membantah, ku baca lirih surat Al-baqarah dalam hatiku sembari memejamkan mata, agar jiwaku tenang…
***
Adzan bekumandang syahdu ditelinga, meraba jiwaku yang kosong, kumelangkah dengan mata terkantuk menuju kamar mandi, siraman air pagi ini dan wudhu membuyarkan sejenak fikiranku
Allahu akbar, sujud rukuk dan do’a dengan permintaan yang banyak, sungguh manusia yang penuh kekurangan hanya dapat meminta tapi tak seimbang dengan apa yang diberikan padaNya, namun apa daya Dialah yang tahu segalanya, kulantunkan ayat suci Al-qur’an tuk memudahkan langkahku, sadaqallahul’adzim, kututup kitab suci ini setelah membacanya 1 zus saja, kemudian itu akupun bersiap-siap untuk ke Rumah sakit
Kulihat kakek dengan tongkatnya di depan rumah sedang memandangi jalan terbentang luas di depan pagar, melihatnya menumbuhkan semangatku kembali dan mengahancurkan impianku, entah mana yang kupilih saat ini, madu yang pahit ataukah kopi yang manis, aku menyalaminya dan berpamitan untuk pergi bekerja sebagaimana biasanya, namun langkahku kian berat, seakan mengatakan jangan pergi, jangan pergi
***

“Rez, kamu tampak murung, tak seperti biasa” sapa Bizar, Dr. bagian bedah
“ ah enggak lah zar” ungkapku santai
“huh.. tampaknya sore yang mendung ini menggambarkan hati rezi yang berembun” canda sefia
“ apalah kalian”
“sudahlah rez, mungkin belum rezeki, ntar juga akan ada tawaran lagi” hibur bizar
“ tapi mungkin tidak ke papua zar, tapi ke afrika selatan hahaha” sahut sefia
Aku hanya tersenyum mengiyakan
“ iya rez, kan gak papa jugak kalau ke afrika selatan, kan mereka mirip orang papua juga” ledek bizar
“apa sih Menariknya papua rez?” Tanya sefia sambil terkekeh menutup mulutnya yang tertawa
“ kalian belum pernah merasakan mendapat kerang yang bermutiara” jawabku (menaruh pulpen di atas meja dan mendekati mereka)
“ maksud kamu “
“iya, kita hanya membeli mutiara yang telah siap saji dipakai tuk menghiasai wanita, tapi kita tak pernah tahu bahwa mengumpulkan satu mutiara itu amat susah, kerang harus mengorbankan jiwanya, kesakitan setiap hari akibat pasir yang masuk ke dalam rumahnya yang unik, tapi dengan ikhlas akhirnya dia menjadi kerang yang amat berharga” ungkapku
“ jadi maksud kamu kita makan kerang yang tak berharga? Hahaha” mereka tertawa dan masih melecehkan impianku
“ begini, (lanjutku) kalian tidak akan tahu pasien mana yang mengidolakan dokter yang mana. kemudian tak ada yang memilah milih pasien dan tak ada pasien yang menyeleksi dokter. aku ingin seperti kerang yang kuceritakan, aku tak ingin memilih pasien, aku ingin aku menolong siapapun termasuk mereka ditanah terpencil itu, disini banyak dokter dan layanan kesehatan, disana mereka menunggu bantuan pemerintah, aku ingin menjadi mutiara di balik orang biasa yang dimataku adalah orang paling luar biasa” jelasku penjang lebar
“wah (mereka tepuk tangan) saya kagum dengan pemikiran kamu” kata sefia
“tak disangka dokter kita puitis juga” tambah bizar
“ semut yang jauh lebih tampak daripada gajah didepan mata” aku berpepatah, meliriknya sambil tersenyum dan meninggalkan mereka di dalam ruangan
“ fighting res” teriak sefia sembari memandangi sepatuku berjalan
***
Kuberjalan ringan menusuri gang kecil untuk sampai kerumah, kulihat banyak orang ramai dekat pagar , langkah ku mulai terbata-bata, perasaan ku mulai tak karuan melihat wanita paruh baya yang berjilbab dengan rombongan pengajian memasuki rumah, langkahku terhenti tatkala ku liat kibaran sampul melambai lambai di pohon yang menjadi sandaran pagar rumah, aku berjalan setengah berlari sampai jasku terasa ikut berkibar dengan sampul merah itu, aku segera masuk rumah mencari sosok pria nakalku, yang menolak meminum obat dan menemaniku belajar, bermain catur saat dia bosan serta mengajariku memasak, kususuri mereka yang ramai dan kutemukan kakek yang berbaring dibawah kain kafan putih yang membalutnya. Innalillahiwa innalillahi razi”un Aku terdiam sepi tanpa suara, tak lagi ada kata terpaku melihatnya, kini aku menjadi sebatang kara. Lamunanku 2 tahun yang lalu sebelum kupijakkan kaki di tanah terpencil ini. Papua

11 des 2014

Comments

comments