by

Mimpi Warga Samar Kilang

Junaidi | The Globe Journal

Samar Kilang, Bener Meriah — Jarum jam menunjuk angka dua, siang itu panas mantari terasa. Ratusan warga yang di tanah lapang mencari tempat berlindung. Padahal kampung itu dikelilingi gunung dan terletak di tengah-tengah hutan.

Belasan kaum wanita dibantu beberapa lelaki bekerja di sebuah tenda tanpa dinding. Canda tawa terdengar dari kebersamaan. Sementara puluhan ibu-ibu yang lain duduk di sebuah toko yang layak disebut kios karena bangunannya seluas 3×4 meter.

Seratusan kaum lelaki berkumpul di bawah tenda  di sudut kiri dan kanan sebuah balai yang didirikan disamping lapangan bola kaki. Balai dinding denqan dua lembar papan itu dihia janur kuning dan pernak-pernik lainnya..

Rumah disekeliling lapangan bola kaki tidak terlihat ada yang melebihi ukuran 6×6 meter, sebagian besar rumah dari papan dengan cat putih kusam dimakan usia dan beberapa rumah dindingnya telah rontok dan hanya ditambal dengan papan yang kusam pula.

Beberapa rumah permanen tipe 36 memang telah selesai dibangun, tapi warga yang tinggal disekitar rumah tersebut tidak mengetahui rumah tersebut dibangun oleh siapa, anggarannya dari mana dan untuk siapa. Plang nama proyek tersebut yang seharusnya dipasang, juga tidak terlihat disana, mereka juga tidak mengerti tentang UU Nomor  31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dimana masyarakat berhak mengetahui sejumlah informasi tentang proyek yang sedang dikerjakan oleh pemerintah dan UU pemberantasan korupsi lainnya. “Kami tidak berani bertanya rumah itu dibangun untuk siapa, kami juga tidak tahu siapa yang bangun rumah tersebut,” sebut Abdullah salah seorang warga kampong yang jauh dari peradaban kota tersebut.

Mereka hanya tahu bagaimana bercocok tanam sehingga hasil pertanian dan perkebunan mereka memuaskan meskipun cara yang mereka lakukan masih sangat tradisional karena jarang pihak pemerintah mau berkunjung ketempat mereka yang dikelilingi hutan belantara. “Kami hanya tahu bagaimana bercocok tanam,” ujar Abdullah.

Jika malam hari, mereka hanya menyalakan lampu teplok untuk penerangan, meskipun kabel milik Negara telah dipasang, namun sama saja arusnya belum ada dan kabel itu hanya ada didalam kampong, penerangan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih menjadi mimpi masyarakat dari 11 desa disana,  “Dari dulu kami sudah bermimpi di desa kami ada listrik, tapi kami tidak tahu kapan listrik tersebut akan dipasang,” ungkap Abdullah penuh harap.

Akibat daerah mereka masih gelap gulita sama, pada malam hari kegiatan desa juga jarang dilaksanakan pada malam hari, anak-anak mereka juga kesulitan untuk belajar pada malam hari, dikhawatirkan masa depan anak-anak mereka juga akan bernasib sama dengan keadaan desa mereka, gelap gulita, “Dengan memakai lampu teplok bagaimana anak-anak kami bisa belajar dengan nyaman,” jelas Abdullah.

Jarak desa mereka hampir 70 KM dari pusat kota, dengan jalan yang berlumpur dan semenjak Negara ini merdeka belum pernah diaspal menyebabkan perjalanan kesana sama lelahnya dengan menempuh perjalanan ratusan kilometer melewati jalan yang telah diaspal.

Tidak jarang, mereka harus menempuh perjalanan selama Sembilan jam bahkan lebih baru bisa sampai ke ibukota kabupaten, sehingga menyebabkan ongkos yang mereka keluarkan hingga Rp. 60.000 untuk satu orang. Jika hujan atau cuaca tidak mendukung, mereka harus siap-siap menginap ditengah hutan karena jalanan ditimbun longsor. Kenderaan yang mereka gunakan juga tidak jarang mogok atau rontok melewati lumpur dan jalan berbatu.

Akibat kondisi jalan yang tidak bersahabat, harga hasil pertanian mereka juga harus dijual dengan harga murah karena agen harus mengeluarkan biaya yang banyak saat dalam perjalanan, jika mereka sendiri yang membawa keluar, meskipun harganya lebih mahal juga akan habis untuk biaya perjalanan.

“Hingga saat ini jalan menuju kampong kami belum pernah diaspal sekalipun, kami sangat tersiksa menempuh perjalanan ke Kota jika kondisi jalan belum berubah, kami sangat ingin jalan yang dilintasi oleh 4.000 warga desa tersebut diperbaiki,” ungkap Abdullah.

Sekolah di daerah mereka sudah dianggap memenuhi standar karena telah ada Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) meskipun masih berstatus swasta, namun masalahnya kemudian muncul tidak ada tenaga pendidik yang mau mengajar ke Sekolah yang ada didaerah mereka  sehingga hingga saat ini tiga sekolah tersebut masih kekurangan guru, “Disini yang banyak guru bakti dan guru honor, dengan gaji mereka yang tidak jelas bagaimana mereka serius mengajari anak-anak kami,” tambah Abdullah.

Karena sekolah kekurangan guru, anak-anak mereka yang masih kuliah terpaksa harus dikerahkan untuk mengajari anak-anak dibawah mereka, kemampuan mereka masih terbatas sehingga mereka hanya bisa mengajar sesuai dengan kemampuan mereka. “Guru-guru hanya anak-anak kampong yang masih kuliah, ilmu mereka juga masih pas-pasan, bagaimana bisa mengajari anak-anak kami,” ungkap Abdullah.

Namun ribuan warga yang tinggal disana masih terus bermimpi kelak keadaan kampong mereka akan berubah, “Kami terus memimpikan keadaan kampong kami berubah,” sebut Abdullah.

Sepuluh mobil yang telah mereka tunggu-tunggu akhirnya datang, tiga Jeep Robicon, tiga double cabin, dua Taft, satu ford dan satu fortune  menuju ke tengah lapangan. Warga mengerumuni mobil-mobil yang jarang menginjak kaki di kawasan itu.  Satu persatu tamu dijabat tangan bahkan dicium tangan, mereka mempersilahkan tamu-tamu tersebut naik ke Balai dan disambut dengan suka cita. Hari itu, Kamis (31/12) Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan rombongan berkunjung ke desa mereka, mereka berharap kunjungan orang nomor satu di Aceh tersebut memberikan harapan baru untuk kehidupan mereka.

Tidak hanya warga yang telah puluhan tahun tinggal di Kemukiman Samar Kilang kecamatan Syiah Utama kabupaten Bener Meriah, gubernur Aceh Irwandi Yusuf juga merasakan sendiri bagaimana sulitnya menempuh perjalanan ke kampong yang terletak di pelaman Bener Meriah tersebut.

Berkali-kali mobil yang dibawa sendiri oleh Irwandi harus melewati kubangan dan melintasi jembatan hanya terbuat dari kayu, bahkan beberapa kali beberapa mobil harus didorong atau ditarik karena tidak bisa keluar dari kubangan tersebut. Sesekali rombongan Irwandi juga harus berhati-hati saat melintasi jalan yang tinggal setengah akibat longsor.

“Kita baru pertama kali melewati jalan ini sudah lelah seperti ini, bagaimana dengan masyarakat Samar Kilang yang tiap kali melintasi jalan ini, memang daerah ini benar-benar belum merdeka,” ujar salah seorang sopir yang membawa rombongan Irwandi.

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Muzakir Manaf yang ikut dalam rombongan Gubernur Aceh dengan setengah becanda juga mengomentari kondisi jalan ke Samar Kilang, “Moto kalagee Bui Teungoh lam kubang,” sebut Muzakir melihat kondisi mobil yang membawa mereka ke kampong di Syiah Utama tersebut.

Saat Gubernur Aceh mendengar keingingan ratusan masyarakat yang menyambut dirinya, ratusan masyarakat tersebut masih tetap berharap dan meminta kepada pemerintah agar jalan yang menghubungkan kampong mereka dengan peradaban kota kabupaten Bener Meriah di perbaiki secepatnya, listrik untuk 11 kampung di Samar Kilang dipasang dan guru untuk mendidik anak-anak mereka juga didatangkan.

“Semenjak Indonesia merdeka, baru dua kali gubernur Aceh, Gubernur yang pertama melihat kondisi Samar Kilang adalah Syamsuddin Mahmud sehingga dirinya memprogramkan pembangunan jalan menuju Samar Kilang, namun setelah beliau tidak lagi menjadi Gubernur Aceh, program yang telah dia cetuskan tidak lanjutkan sehingga jalannya tidak sempat diaspal,” ungkap Syarkawi salah seorang kepala desa di Samar Kilang.

Gubernur yang kedua berkunjung ke Samar Kilang adalah Irwandi Yusuf dan dalam kunjungan tersebut dirinya kembali berjanji akan membangun jalan tersebut, “Sebelum masa tugas saya berakhir pada tahun 2012, jalan ke Samar Kilang sudah selesai dibangun,” sebut Irwandi dihadapan ratusan warga desa setempat.

Irwandi menambahkan Samar Kilang sangat berpotensi sebagai daerah untuk dikembangkan lahan pertanian dan perkebunan, “Selama ini orang tidak berani datang kesini karena jalannya masih hancur dan juga berakibat hasil pertanian masyarakat dibeli dengan harga murah, yang sangat mendesak disini adalah jalan, pemerintah Aceh akan berusaha keras membebaskan Samar Kilang dari keterisoliran,” sebutnya.

Tidak hanya itu, Irwandi juga berjanji akan mengirimkan tim untuk mensurvey air terjun yang ada di Samar Kilang untuk dibangun pembangkit listrik tenaga air, “Saya berjanji secepatnya akan mengirimkan tim untuk melihat air terjun mana yang bisa dibangun pembangkit listrik, namun ini membutuhkan waktu yang lama,” tambah Irwandi.

Mendengar janji itu, masyarakat Samar Kilang bertepuk tangan gembira dan berharap janji yang telah diucapkan oleh Irwandi tersebut tidak hanya manis dimulut dan dia lupa setelah meninggalkan Samar Kilang. “Saya berharap bapak gubernur akan menepati janjinya,” ujar Syarkawi.

Setelah dua jam bertatap muka dan berdialog dengan masyarakat Samar Kilang, Irwandi dan rombongan berpamitan untuk kembali ke Takengon Ibukota Aceh Tengah, warga melepaskan kepergian gubernur yang terpilih dari calon independen tersebut dengan suka cita dan lambaian tangan kebahagiaan karena bangga kampong mereka telah dikunjungi pejabat dari provinsi padahal pejabat dari kabupaten termasuk bupati tidak pernah berkunjung ke kampong mereka.

Saat melangkah pulang, mobil rombongan Irwandi berkali-kali harus berhenti karena jalan sudah bertambah hancur ketika mobil rombongan datang ke Samar Kilang, berkali-kali mobil rombongan harus ditarik oleh mobil rombongan yang lain karena tersangkut dilumpur. “Jalan ini harus segera dibangun,” ujar Irwandi saat melangkah pulang.[003]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments

  1. sara tiang we mehat ngenal jaringan celular.. pengalaman di samar kilag waktu Baksos bersama Himpunan Mahasiswa Bener Meriah Medan di Samar Kilang