by

Ivan Wy, Pemusik asal Gayo : Demi Pencerahan Musik Aceh

Oleh : Joe Samalanga*

joe-ngopi

Untuk menjadi musisi Aceh tidaklah semudah membalik telapak tangan, karena harus membuka buku yang berkaitan dengan Aceh, agar roh musiknya  terasa kental. Itulah yang dialami Irfan Yalfari—atau akrab di sapa Ivan Wy— tatkala dia dipercayakan Kasga Record untuk menggarap album Syiar dan Syair Rafly Bertajuk Ainal Mardhiah. “Saya diminta bikin musik yang ringan, tapi kupingnya Aceh. Wah sulit juga,” kata Ivan Wy.

ivan-wy
Ivan Wy

Mengaransemen musik memang bukan pertama kali dilakukan Ivan, namun meramu musik buat Rafly tentu harus punya bobot. Kendati Ivan menyadari kalau selama ini dia lebih dekat dengan musik etnis pegunungan, namun tak ada salahnya juga mulai menyentuh musik Aceh pesisir yang menurut pria kelahiran Takengon, 8 Januari 1969 ini, musik pesisir tidak berbeda jauh hanya berbeda pada ritmenya saja. Sulit karena selama ini belum dicoba. “Akar musik Aceh tak jauh beda dengan yang dimiliki Gayo, cuma sentuhan melayu tuanya lebih kental,” lanjut Ivan Wy.

Sudah beberapa album digarap Ivan, terutama album Gayo antara lain Geurupel, Gelana, Nami, To’et, Pong, Saman Banten, beberapa Jingle Iklan, dan terakhir Album solo Ivan sendiri, Regere. Sebelumnya Ivan juga terlibat penuh dalam membuat musik untuk album Saba Group, sebuah kelompok musik yang menjadi tolak ukur bagi industri musik di Gayo. “Makanya, untuk memulai menggarap musik Aceh saya sedikit grogi, tapi sekarang tidak lagi karena saya terus belajar seni-seni Aceh pesisir, apalagi sekarang saya aktif bersama Nyawoung Aceh, saya belajar banyak dari kawan-kawan, terutama dari Pak Uki (Vocalis World Musik From Aceh) yang saya anggap guru” lanjutnya.

Selain terus manggung bersama Nyawoung di Jakarta dan Jawa, kini Ivan Wy juga sedang menggarap album baru Nyawoung. Kali ini Ivan terlibat aktif  mencari pencerahan untuk musik Aceh. Katanya, yang menjadi konsep adalah mengangkat seni-seni Aceh tua. Bersama beberapa vocalis, dia terus mencari format untuk musik Aceh. “Saya harus belajar soal Pandai Besi, karena kesenian Aceh harus dimulai dari sana. Pande Besi adalah profesi tua dan langka. Kalau pernah dengar nama SMITH di Amerika, maka itu adalah keluarga Pande Besi. Kemudian profesi itu ada di Aceh, kami sedang mempelajari sejauh mana orang Aceh membutuhkan profesi mulia ini, untuk selanjutnya akan diramu pada musik dan lagu. Tapi saya tidak sendiri, karena ada beberapa teman yang akan membantu untuk penyelesaian album itu,” kata Ivan menjelaskan.

Apa yang menarik bagi Ivan untuk mendalami warna musik Aceh? Katanya, warna musik Aceh itu rumit, karena letak khasanahnya lebih banyak pada sound-sound alat yang dimainkan, sementara vocal menjadi penentu. Disinilah ketertarikan saya bahwa Aceh punya ciri khas. “Kalau orang menyebut Aceh tidak memiliki warna pada musik-musiknya, itu salah besar. Kita sudah menyimpan banyak ciri khas tinggal bagaimana meramunya,” jelas Ivan.

Ivan yang kental dengan musik-musik latino ini beranggapan, apapun warna musik yang dimainkan kalau dalam vocal sudah kuat, maka itu akan menjadi Aceh. Sama halnya dalam dia bernyanyi Gayo, banyak pakok yang harus dia pelajari, kalau tidak bisa menjadi lari ke warna lain.”makanya saya terus mencari warna Aceh yang kuat, mendalami seudati dan zikee sebagai dasar warna musik Aceh,” lanjut anak paling bontot dari 12 bersaudara ini.

Menurutnya, memilih seudati sebagai dasar musik Aceh adalah tepat. Lantaran pada seudati ditemukan aneka warna irama yang cukup kental ke-Aceh-annya. “seperti Saleum, kisah, dan Saman. Saman Seudati memiliki irama yang rumit dan punya nuansa Aceh yang kuat. Begitu pula pada seni-seni zikee, punya khasanah dan irama yang khas pula. Pada Nyawoung kuat akan akar Seudati, dan Kande kuat dijalur Zikee, ini yang perlu dilanjuti,” kata Ivan Wy lagi.

Penyanyi yang berciri kuat etnis Gayo ini juga tak menyangkal kalau dia sendiri masih perlu belajar banyak. “Belajar itu penting dilakukan sepanjang kita bisa bekerja, apalagi untuk Aceh perlu terus dicari dan dikaji warna khasnya, agar Aceh menjadi variatif. Kalau kajian musik Aceh yang ada cenderung pesimistis, setidaknya setelah yakin bisa menjadi optimistis. Untuk mencapai itu tentunya terus  belajar,” demikian kata Ivan Wy soal pencapaian ‘mutu’ musik Aceh.

*Pegiat Seni, Tinggal di Banda Aceh

Comments

comments