by

Gayo Gayo akan Adakan Workshop Tari Saman

Lintas Gayo | Yogyakarta – Jum’at, 14 November 2014 besok, Tim Gaya Gayo dari project Munayu akan memberikan workshop Tari Saman kepada mahasiswa/i Jurusan Tari ISI Yogyakarta. Beberapa sumber menyatakan bahwa Tari Saman masuk dalam kurikulum di ISI. Namun sumber yang lain mengungkapkan bahwa Tari Saman yang diajarkan di ISI berbeda dengan Tari Saman yang disahkan oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage.

Very, seorang alumni ISI Yogyakarta, dalam wawancaranya dengan Gaya Gayo mengatakan ” Saya pernah belajar Saman di kampus, tapi ketika bertemu orang Gayo dan ditunjukkan Saman, saya bilang, lho kok beda dengan yang saya pelajari. Hal ini perlu diluruskan agar tidak menjadi rancu”.

Diduga tarian yang diajarkan di ISI merupakan kreasi dari Tari Ratoh Duek yang menurut berbagai sumber memang terinspirasi dari Saman. Namun sayangnya, belasan tahun dipraktekkan di bangku perkuliahan, mahasiswa/i tidak mengenal terhadap bentuk aslinya.

“Tujuan kami membuat workshop ini bukan untuk mengeksklusifkan Saman, bukan juga untuk membongkar kurikulum yang sudah ada. Akan tetapi kami membantu memberikan kajian ilmiah tentang asal-usul Saman sebagai tari tradisional, filosofi syair dan gerakannya, serta perkembangannya”, tutur Trisha tampeng selaku perwakilan Gaya Gayo.

Sedangkan jika kemudian didapati bahwa yang tari yang selama ini dipelajari adalah Ratoh Duek maupun kreasi lainnya, maka diharapkan nama setiap tarian dikembalikan pada tempatnya.

“Sebab sayang sekali kalau semua disebut Saman, sementara Provinsi Aceh sangat kaya dengan beragam tarian, baik tradisional maupun kreasi. Dengan tidak menyertakan informasi tentang tarian aslinya, kita tidak menghormati etika penciptaan,” terangnya.

Selain itu, akademisi dan praktisi harus tahu, bahwa ketidakpedulian terhadap asal usul sebuah kesenian tradisi bisa melukai masyarakat asalnya dan memperuncing konflik antar suku.

Dalam workshop ini Gaya Gayo juga membuka peluang bagi para mahasiswa untuk memperdalam Tari Saman dengan para penari Saman yang berada di Yogyakarta. Begitu pula bagi para mahasiswi yang ingin belajar beragam kreasi seperti Ratoh, Rampo, Tari Pukat, dan sebagainya akan kami arahkan ke sanggar mahasiswa Aceh.

Diberitahukan, kegiatan ini diketuai oleh Trisha Tampeng, dengan pemateri, Joel Tampeng, Abdul Muthalib, dan Abdi Yasni.(Rel)

(Rel)

Comments

comments

News