by

Syariat Islam Bukan Hanya Etalase

Banda Aceh – Kita bisa membuktikan bahwa Syariat Islam bukan sekedar identitas atau pembeda, tapi menjadi spirit bagi semua aspek kehidupan di Aceh.

Hal itu disampaikan dalam pidato  sambutan Gubernur Aceh pada pembukaan Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim “Pengembangan Roadmap Syariat Islam di Aceh” yang dibacakan oleh Kepala Dinas Syariat Islam, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, Rabu (20/8) di Gedung Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Gubernur mengatakan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh harus diterapkan sungguh-sungguh dan dengan perencanaan yang baik. “Sehingga Syariat Islam bukan hanya sebagai etalase, tapi harus benar-benar  terwujud dalam segala tindakan dan aktifitas masyarakat Aceh sehari-hari”.

Kondisi ini yang mendorong Pemerintah Aceh merasa perlu menyusun Grand Design Syariat Islam. Agar grand design (rancangan konsep) itu akurat, sudah tentu membutuhkan masukan dari semua unsur masyarakat termasuk para cendekiawan muslim. “Konferensi ini merupakan bagian dari upaya menjaring masukan untuk grand design tersebut. Sehingga grand design yang kita siapkan nantinya akan benar-benar efektif, aplikatif dan berdaya guna”, kata Gubernur.

Gubernur tidak menafikan ada banyak hal yang dijadikan orang-orang luar untuk menyerang Syariat Islam di Aceh. “Guna menjawab semua serangan itu, kita tentu harus punya argumen yang berbasis akademis yang juga diikuti dengan pembuktian dalam pelaksanaannya”.

Konferensi yang diselenggarakan oleh Dinas Syariat Islam Aceh, UIN Ar-Raniry dan Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariah (JMSPS) ini berlangsung selama dua hari, 20-21 Agustus 2014 di UIN Ar-Raniry. Ada empat hal besar yang akan dibahas yaitu islamisasi Aceh di bidang pendidikan, ekonomi, hukum dan pemerintahan.

Adapun pembicara pada konferensi ini adalah Prof. Dr. Asmawati Binti Suhit (University Putra Malaysia) untuk bidang pendidikan islami, Prof. Dr. Mustafa Bin Hamat (Institute Islamic Banking & Finance-Malaysia) untuk bidang ekonomi islami, Prof. Dr. Abdul Rashid Moten (International Islamic University-Malaysia) untuk bidang politik islami dan Prof. Dr. Syahrizal Abbas (Kepala Dinas Syariat Islam-Aceh) untuk bidang hukum Islam. [LG15]

Comments

comments

News