by

Memaknai Gayo dengan Saman dan Didong

Oleh : Jauhari Samalanga*

Perjalanan menelusuri kawasan pegunungan Leuser dari arah Aceh Tengah ke Gayo lues, membutuhkan waktu 7 jam. Jalan raya yang berliku itu merupakan penghubung Gayo yang sebenarnya, karena Gayo yang berada di Aceh Tengah—plus Kabupaten Bener Meriah, dengan Gayo Lues Plus Gayo Alas, Aceh Tenggara, dulunya memang sebuah kabupaten yang besar yang dimekarkan menjadi dua Kabupaten, yakni Aceh Tengah dan Aceh Tenggara (Gayo Lues).

Pada tahun 2002 lalu, kedaan berubah lagi. Aceh Tengah dibagi dua dengan Kabupaten Bener Meriah, dan Gayo Lues menjadi dua kabupaten dengan Aceh Tenggara. Sementara ada sebuah Gayo lagi yang nyaris tak terpantau, yakni Gayo Lokop Serbejadi di Aceh Timur. Lokop Serbejadi ini terlepas kala terjadi pemekaran, karena dianggap lebih dekat ke Aceh Timur, maka daerah itu berada di teretorial Aceh Timur.

Dulunya, masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampung dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari: Reje (kepala), Petue (Sesepuh Masyarakat), Imem (Tokoh Agama atau Imam), dan Rayat (Cerdik Pandai).

Pada masa penjajahan Belanda, Dr. Snouck Hurgronje berhasil memilah-milah suku Aceh yang kemudian dikenal dengan politik Devide Et Empera, begitu pula suku Gayo, berhasil dibelah menjadi dua bagian oleh ‘Habib Putih”, gelar Dr. Snouck Hurgronje yang dikenal sangat pakar dalam Keislaman,  lalu membelah Gayo yang kemudian dikenal dengan Kerajaan Bukit (Uken) dan Kerajaan Cik (Towa),  atau lebih popular disebut Urang Uken dan Urang Towa. Sebutan inilah yang membuat orang gayo terpecah, hingga akhirnya sebutan Uken – Towa paling ditakuti oleh masyarakat Gayo sendiri lantaran Gayo sebagai suku minoritas di Aceh semakin mengecil, dan tidak bersatu.

Istilah uken-towa ini berlanjut sampai sekarang walau pada prinsipnya tidak begitu menyenangkan bagi masyarakat Gayo sendiri. Sebutan uken towa memberi andil dipersaingan tidak sehat antarsesama urang Gayo sendiri. Dan sikap itu terlihat melalui syair-sayir yang pernah ditulis seniman Gayo, dalam kriteria ini penyair LK Ara  menyebutnya sebagai syair sejarah. Berikut pertikan syair penyair Gayo Tgk. Abdurrahim Daudy berjudul, ‘Sejarah Daerah Dan Suku Gayo’ yang dia tulis pada tahun 1979 tentang Uken dan Towa;

Tekala uren rane remane
asalni ni Gayo mulo pertama
daerah kiteni lauten ijo
gere ilen mutuho uken urum toa

Tekala kerpe jarum jemarum
gere ilen malum sara urum roa
ike manusiepe gere ilen murum
gere ilen mepun jenis ni bangsa

(tatkala hujan turun terus menerus
Lahirlah Gayo pertama kali
Daerah kita ini lautan yang ijo
Belum mengenal Uken dan Towa

Tatkala rumput ilalang bersatu
Bukanlah satu dan dua
Kalau manusiapun belum bersatu
Belum bisa mmfahami sebuah bangsa)

Pertanyaannya kemudian apakah belah itu memunculkan persaingan sesama Gayo? Jawabnya sederhana, tentu saja, namun banyak pihak menyebutnya sebagai persaingan pembangunan, yang lebih kental dengan ungkapan memotivasi satu sama lainnya. Semisal, sebuah clop didong yang mengkritik pembangunan kampong clop satunya lagi, dan kemudian dijawab melalui syair dengan nada yang sama.  Dalam Seni Didong, Uken Towa ‘wajib’, karena penonton merasa tidak menarik apabila didong dimainkan oleh kelompok atau klop Didong yang berasal dari kampung yang sama, dia harus melawan clop yang bukan berasal dari belahnya, agar syair-syair yang dilantunkan bisa kuat dan menarik, terutama bila mengkritik satu dengan lainnya.

Seni GAYO

Uken dan Towa digaung sebagai pemecah urang Gayo paling kuat, tidak begitu halnya dengan urang Gayo sendiri. Melalui kesenian didong mereka merekat. Itu sebabnya Kesenian Didong menyebar hingga kepelosok desa, dan dimainkan berganti generasi. Dalam kehidupan masyarakat Gayo secara umum tak ada perubahan dalam sosial dan kebudayaannya. Masyarakat Gayo cenderung memilih menjadi masyarakat yang taat pada adat istiadat dan tata krama dalam berkeluarga. Pada masyarakat Gayo sangat kental dengan kebiasaan ‘tetap menghormati yang lebih tua’, dalam hal ini Gayo yang berasal dari Takengon Aceh Tengah, tetap dianggap sebagai saudara kandung tertua. Itu sebabnya tidak pernah ada konflik antara daerah-daerah berbasis suku Gayo. Suku Gayo selalu beranggapan sesama Gayo sebagai Sara Ine (satu ibu atau keluarga inti).

Persis seperti yang ditulis Yusra Habib Abdul Gani, biarlah Didong mengalir dan mentating bait-bait syairnya ke setiap relung hati yang sepi, agar segar, mekar dan bebas menggelar imaginasi dan idé. Biarlah Didong membedah sastra bebas, agar gumpalan kejumudan mencair ke samudera seni tanpa batas. Didong memang sarat dengan kebebasan! Biarlah Didong bersabung antara kafilah Uken dan Towa, agar orang belajar tentang sejarah lahirnya Kerajaan Bukit (Uken) dan Kerajaan Cik (Towa), yang keduanya pernah bermusuhan. Permusuhan, baru berakhir setelah dicapai suatu Perjanjian damai (MoU) dengan cara mengawinkan antara anak dari keluarga Raja Bukit dengan anak keluarga Raja Cik. Wujudnya kedua kafilah [Uken-Towa] dalam dunia seni Didong Gayo telah menjadi inspirasi untuk meretas kebuntuan sosial-politik dan seni budaya.

Dan hal menarik tentang seni di Gayo, yakni persamaan mendasar dalam perwatakan orang Gayo pada  seni. Dan gara-gara itu pula kreatifitas seni di Gayo tidak ada putusnya, walau tanpa dukungan pemerintahnya, seni di negeri antara ini terus berlanjut, bahkan tak terbendung. Maka tidak heran apabila Gayo kemudian diyakini memiliki syair-syair indah yang melebihi dari jumlah penduduknya sendiri .

Disamping, urang Gayo menyadari kalau mereka merupakan suku minoritas yang mendiami Provinsi Aceh, sama halnya dengan suku Aneuk Jamee, Kluet, Alas, dan Tamiang.  Sehingga mereka termotivasi membangun potensinya, termasuk bidang kesenian, bahkan mereka terus menggerakan berbagai potensi seni yang ada, yang akhirnya masyarakat Gayo memang mandiri dalam berkesenian. Keberadaannya di beberapa kabupaten yang ada di provinsi Aceh—Yakni Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Lokop Serbejadi – Aceh Timur, dan sebagian di Aceh Tenggara terus berupaya menyuguhkan kesenian hingga mencapai tarap dunia, lihat saja kesenian SAMAN di Gayo Lues, atau seni Didong Gayo, hampir tak hentinya dikaji sebagai kesenian bermodal dicintai rakyat. Dan semua itu merupakan langkah tepat dimana para akademisi asal Gayo pun turut serta menulis untuk kepentingan media. Inilah Kesenian Gayo yang betul-betul berakar dari Rakyat.

Selain unsur seni yang tidak pernah lesu, di kalangan masyarakat Gayo kesenian  tari saman dan didong, memiliki fungsi ganda. Dia dapat berfungsi sebagai ritual, pendidikan, dan penerangan, Masyarakat Gayo juga memfungsikan keseniannya sebagai sarana mempertahankan keseimbangan struktur sosial masyarakat. Begitu pula untuk kesenian lainnya yang dimiliki Gayo, seperti Tari bines, Tari Guel, Tari munalo, sebuku (pepongoten), guru didong, dan melengkan (sebuah seni berpidato berdasarkan adat). Funsinya dalam sosial sama, yakni membangun kebersamaan yang beradap.

Disebuah kajian diskusi antarmasyarakat Gayo melalui situs tergambar bahwa, tujuan dari nilai-nilan budaya masyarakat Gayo dijadikan sebagai tujuan menghidupi kebiasaan santun dalam tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.

Didong dan Saman

Seni Didong dan tari Saman merupakan dua kesenian andalan masyarakat Gayo yang dari waktu ke waktu terjaga dengan baik, kendati keduanya telah mengalami pergeseran-pergeseran. Kedua kesenian ini memiliki perbedaan yang mencolok. Kalau Seni Didong yang kita kenal lebih popular dikalangan masyarakat Gayo yang mendiami Aceh Tengah dan Bener Meriah, dan di Gayo Lues dan Aceh Tenggara juga memainkan didong ini. Berbeda dengan Tari saman yang popular di daerah Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan sebagian Lokop Serberjadi, Aceh Timur. Masyarakat Gayo yang mendiami Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak memainkan Saman, sehingga Saman hanya berada di daerah Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Lokop Serbejadi.

Seni Didong  biasanya dimainkan pada kegiatan-kegiatan perayaan, sama halnya dengan Saman. Fungsi ritualnya tak berbeda, sama-sama lahir dari sejarah Syi’ar serta sama-sama dimainkan semalam suntuk. Kesenian Didong dan seni Tari Saman biasanya dimainkan oleh dua clup (group) yang ditandingkan seperti berbalas pantun, satu clup dan clup lainnya bermain secara bergantian, hanya yang membedakan dalam Didong yang diutamakan adalah kekuatan syairnya—balas-balasan satu clup dengan clup satunya lagi. Dan hebatnya, Ceh (vocal utama) harus mampu membalas setiap kritikan yang dilontarkan Ceh dari clup lainnya, dan begitu terus selama berjam-jam.

Dalam Seni didong jalu (didong bertanding) masing-masing clup dimainkan oleh  8 – 30 orang dengan posisi melingkar, yang terdiri dari 2-3 orang ceh, 1 orang penepok tingkah (pemberi irama tepukan), 1 orang peningkah tepukan Bantal, dan sisanya jadi penepok (penunung). Tiga orang Ceh masing-masing memiliki tugas, yakni sebagai pelantun lagu, pelantun jawaban kritikan dan mengkritik, dan seorang lagi selain sebagai penyanyi juga menjadi penulis lirik. Karena dalam Didong setiap kali tampil satu clup, maka clup satunya menyimak untuk menjawab apa yang disampaikan clup lawan. Biasanya, clup satu dengan clup lainnya berasal dari belah yang berbeda.

Di dalam Didong Jalu, ada 3 orang juri yang menilai Syair, Gerakan, dan Tepukan. Itu sebabnya, setiap penulis syair sangat berhati-hati dalam menulis, karena karyanya dinilai langsung oleh juri, dan sekaligus menjadi pembicaraan penonton. Alasan itulah yang kemudian berkembang, bahwa di Gayo dalam sehari dapat melahirkan begitu banyak syair, karena setiap pertandingan Didong melahirkan karya-karya baru pula secara spontan.

Dalam Tari Saman, pertandingan antarclup yang ditampilkan tak jauh berbeda dengan Didong, hanya Saman lebih mengandalkan gerak serentak. Posisi personil Saman dalam saman Saraini (Saman Semalan Suntuk) duduk memanjang. Masing-masing clup bisa mencapai  hingga 21 penari yang di dalamnya terdapat pelantun syair yang disebut Penangkat, di kiri kanan penangkat disebug pengapit. Sedangkan yang disamping kiri dan kanan di sebut penyepit (penjempit), serta paling ujung kiri dan kanan dinamakan penopang (penahan). Catatan lain menyebutkan, tari Saman juga dimainkan selama dua hari dua malam. Istirahat dilakukan pada waktu syolat dan sejenak pada siang hari. Kesenian ini masih tumbuh subur di Gayo Lues.

Sebuah Clop Saman biasanya ada Dua kelompok. Yang pertama clup saman  yang memainkan saman dan satunya lagi clop yang menggantikan clop yang selesai memainkan Saman dinamakan Engging. Jadi Clup Saman yang duduk berhadapan dikelilingi oleh penonton. Biasanya tampil hingga 30 menit, dan selanjutnya baru dimain oleh clop lawan. Saat Clop lawan sedang memainkan saman, pemain saman beristirahat dan posisi mereka digantikan oleh clop Engging tadi. Dan Engging tidak membutuhkan pemain yang bisa bersaman, asal mereka yang bisa bergerak saja. Filosofisnya clop Engging ini tampil untuk menghormati lawan yang datang, jadi harus tetap ditemani. Begitu terus menerus hingga selesai.

Dalam Saman, ada masa rehatnya, yakni tengah malam dikala penonton mulai mengantuk. Namun dimasa rehat acara di isi dengan tarian yang disebut Bines, yakni tarian yang diaminkan oleh kaum perempuan saja. Bines ditampilkan untuk memberi penyegaran kembali untuk selanjutnya Saman saraini diteruskan hingga subuh.

Pergeseran Didong dan Saman

Sejalan dengan perjalanan zaman, keberadaan Didong dan Saman mengalamai pergeseran-pergeseran, hanya tidak terlalu kuat. Dalam perjalanan penulis di Gayo beberapa waktu lalu dapat menyimpulkan, pergeseran dalam didong terdapat pada daya kreatifitas syair yang kian hari kian menurun. Dan juga telah mengalami perubahan yang medasar, dari syair yang sopan berubah menjadi syair yang mengada-ada, sehingga syair-syair Didong yang dimainkan masih mengandalkan syair-syair lama yang sebagian besar penciptanya sudah tiada lagi.

Menurut Ceh Tua Mahlil Lewa yang ditemui di Simpang laying, Bener meriah menyebutkan, ceh-ceh muda sekarang cenderung tidak memainkan Didong dengan manis, sehingga banyak nilai-nilai di Didong yang menjadi tak karuan. Kabur dan bermutu rendah. Mahlil Lewa mengecam penyair-penyair muda yang tidak punya tata karma dalam berdidong, dan cenderung menleuarkan syair sarkasme. Berbeda dengan ceh-ceh tua dulu, yang mengutamakan tata karma dalam menuliskan syair dan mengambil istilah-istilah alam untuk mengkritik lawan, dan lawan juga memahami itu. “itu intelektualnya ceh dulu,” kata Mahlil Lewa.

Disisi lain, Ceh Arita yang dikenal keras dan seronok membantahnya, menurutnya apa yang ditulis Ceh sekarang sebagai pemahaman kepentingan pasar dan kebutuhan penonton. Penonton menuntut syair-syair yang menghibur, itu sebabnya syair yang ditulis sesuai dengan permintaan. “Sampai sekarang hanya Arita dengan karakter syair khas, mampu menarik simpatik penonton, dan penonton tidak mengantuk,” kata Arita saat ditemui di Singah Mulo, Bener Meriah, di kediamannya.\

Lain Didong maka lain  pula Saman, Kesenian tangan seribu ini mengalami pergeseran yang tidak terlalu menonjol. Pergeserannya terdapat pada peralihan Saman dari kesenian yang dimainkan oleh kaum pria saja, kini ramai dimainkan oleh kaum perempuan. Padahal dalam sejarah Saman tidak pernah ada kaum perempuan yang memainkannya. Dan sebenranya, apa yang biasa dipentaskan kaum perempuan itu adalah jenis kesenian yang berasal dari pesisir seperti Ratoh Dhuk dan Ratep meusekat, hanya beralih nama saja, orang cenderung menyebut tarian Aceh sebagai tari Saman, walau sebenarnya salah.

Kini seniman Saman tetap yakin bahwa kesenian Gayo yang satu ini tetap berkembang sesuai dengan tradisi yang ada. Regenerasi yang dibangun juga instensif, kalau dalam Didong setiap clop selalu memiliki ceh Kucak (Ceh kecil) yang sesekali ikut tampil. Dan ceh kucak ini generasi yang akan meneruskan clopnya dimasa mendatang. Begitu pula Saman, yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Gayo Lues. Hampir seluruh murid sekolah dasar di gayo Lues dapat memainkan Saman ini.

Dan itulah Gayo yang unik, kreatifitak kesenian nyaris berada dimana-mana. Itu sebabnya nyaris seluruh masyarakat Gayo mengenal seni—tidak terkecuali kaum perempuan dan anak-anak, kesenian betul-betul telah menjadi symbol kekerabatan di Gayo—yang dari waktu-waktu ke waktu terus berkembang dengan sikap percaya diri yang tinggi, dan karena itu Kesenian Gayo tidak pernah padam sepanjang masa.

Seni Gayo Terpinggirkan

Yang menjadi persoalan kemudian, sebagai suku minoritas, kesenian Gayo harus ‘bertarung’ dengan Aceh secara keseluruhan yang praktis sacara perwatakan sangat berbeda dengan Aceh Pesisir, sebagai suku mayoritas di Aceh. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi kesenian Gayo, lantaran panggung yang tersediapun menjadi terbatas. Dan lebih parah, sebagian dari seni-seni pegunungan yang di huni suku Gayo, dicaplok dan diberi keleluasaan untuk dimainkan, sehingga seniman dan kesenian Gayo ikut tersisih.

Semisal kesenian SAMAN, kendati di daerahnya tidak mati, di pesisir keberadaannya sangat memprihatinkan, lantaran sebagian kelompok kesenian dari pesisir kerapkali membawa ‘SAMAN’ ini ke ajang yang besar, sehingga banyak kesempatan menjadi terabaikan oleh seniman SAMAN sebenarnya. Dan, sering pula salah, bahwa yang dimainkan itu bukanlah kesenian SAMAN dari Gayo, melainkan kesenian pesisir yang sejenis Saman, yakni Rateb Meusekat dan Ratoh Dhuek.

Berbeda dengan Didong, kesenian ini hanya kehilangan kesempatan lantaran kurang mendapat perhatian dari pemerintah Aceh. Keberuntungan Didong, masyarakat pesisir tidak bisa membawakan Didong karena didong mengandalkan syair berbahasa Gayo, sehingga terkendala di bahasa, berbeda dengan SAMAN yang secara keseluruhan mengandalkan gerak, sehingga kesenian ini korban paling besar.

Soal kesempatan inilah lantas yang membedakan kesenian Gayo dengan kesenian Pesisir. Seniman seperti seniman Seudati, kesempatan memberi pencerahan kepada masyakarat luar lebih tinggi dibanding dengan kesenian Gayo, lantaran posisi Gayo yang berada di pedalaman. Kalau mau jujur, barangkali dalam sejarah Aceh hanya masyarakat Gayolah yang belum pernah memimpin Aceh, sehingga jelas apabila keseniannyapun menjadi terlupakan. Dan hal yang paling membanggakan justru karena perlakuan itulah lantas kesenian Gayo seperti Saman dan Didong tetap bertahan di daerahnya, dan tentu, terus menelurkan kreatifitas-kreatifitas baru, kendati itu hanya diperuntukan untuk kalangan sendiri, kecuali terjadi keinginan besar dari masyarakatnya di luar Gayo, maka kesenian itu baru dimainkan di luar Gayo.

Padahal, kesenian Gayo termasuk kesenian yang punya nilai tertinggi di Aceh. Hal ini terbukti daerah Gayo Aceh Tengah berhasil tampil sebagai pemenang Pekan Kebudayaan Aceh ke-5 di Banda Aceh pada tahun 2009 lalu. Pekan kebudayaan Aceh merupakan Event kebudayaan yang di gelar pemerintahan Aceh dalam 10 – 15 tahun sekali dengan melibatkan seluruh kabupaten/kota yang ada di Aceh. Pelaksanaan selama sepekan itu menampilkan berbagai lomba kesenian, termasuk kesenian tradisional dan permainan Rakyat.

Tampil sebagai pemenang bukan berarti Gayo menjadi idola, tetapi  masyarakat Gayo sendiri tetap pesimis dengan pemerintahan Aceh yang bakal memihak kesenian Gayo, lantaran sejak lama situasin bekerja sendiri sudah dimulai, dan harapan dari provinsi mengedepankan kesenian Gayo hanya isapan jempol belaka, kecuali untuk kepentingan politik dari pihak-pihak berpengaruh di Aceh. Kesempatan yang besar mereka, hanya mengandalkan kreatifitas semata, itu sebabnya beberapa kesenian Gayo yang di Gelar di Banda Aceh telah menggeser kebekuan kesenian Gayo selama ini. Katakan saja tahun 2009 lalu, masyarakat Gayo menggelar kesenian GAYO Art Summit di AAC Dayan Dawood Unsyiah, Maulid Nabi Masyarakat 6 kabupaten/kota yang menampilkan kelompok musik Debu dan aneka kesenian pada awal tahun 2010 yang diakui Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar sebagai kegiatan Aceh sebenarrnya, dimana Agama dan Budaya terangkul dengan kuat, seperti kata pepatah Aceh Agama ngon Adat, Lagee zat ngon sifeut (Agama dan Adat seperti zat dan sifat).Pada penghujung 2010 lalu masyarakat Gayo juga menggelar Seni Tradisional Didong Gayo Semalam suntuk di taman Budaya Banda Aceh. Dan pada maret 2011 lalu, digelar Saman Saraini (Saman semalam Suntuk) di Banda Aceh yang disambut meriah oleh masyarakat Banda Aceh.

Seluruh kegiatan tersebut sepenuhnya kreatiftas masyarakat Gayo dengan pembiayaan dari masing-masing Kabupaten, dan tentu, untuk hal sejenis harus dilakukan oleh orang Gayo sendiri. Seharusnya, pemerintahan Acehlah yang punya tanggungjawab untuk itu, karena prestasi kesenian Gayo sudah teruji di Aceh dan diakui sebagai bentuk kesenian terbaik di Aceh. Hanya, bagi orang Gayo tetap pesimis lantaran posisi kesenian Gayo jauh dari pesisir Aceh, sehingga kerap terlewatkan sebagai bagian dari kesenian Aceh yang sebenarnya. Terlalu ironis!!!!

 

*Penulis  adalah Praktisi  Seni Aceh

Tulisan Ini seperti dimuat di Majalah Basis Yogyakarta No.3-4 Tahun ke-60, 2011

Tekala uren rane remane
asalni ni Gayo mulo pertama
daerah kiteni lauten ijo
gere ilen mutuho uken urum toa

Tekala kerpe jarum jemarum
gere ilen malum sara urum roa
ike manusiepe gere ilen murum
gere ilen mepun jenis ni bangsa

(tatkala hujan turun terus menerus
Lahirlah Gayo pertama kali
Daerah kita ini lautan yang ijo
Belum mengenal Uken dan Towa

Tatkala rumput ilalang bersatu
Bukanlah satu dan dua
Kalau manusiapun belum bersatu
Belum bisa mmfahami sebuah bangsa)

Comments

comments

News