Secangkir Kopi
Ku rasai dirimu yang sebenarnya
Secangkir mungil
Penuh dengan rasa
Hanya rasa mu
*for Pak Yang and You
Kutaradja 14/10/2012
—
Pemetik Kopi
Untuk para Ibu yang luar biasa
Tak ada sebatangpun yang kami punya
Tapi kami telah hidup dari kemurahan hati-Nya
Memetik
Merawat
Mengambil serpihan biji dari buah yang jatuh dibawah batang
Kamilah yang turut gembira saat warna merah merona di kebun
Kami juga sangat tau seberapa banyak bunga mengembang pada setiap musim
Kapan buah merah itu harus di petik
Sebab kami para pemetik kopi
15/10/12
Ismar Ramadhani, gadis kelahiran Kampung Gegarang 15 Mei 1986 Kecamatan Jagong ini adalah putri dari sepasang orang tua yang hidup dan menghidupi dari bertani kopi. Ia mengaku sudah meminum kopi sejak masih balita, dimulai dari setengah sendok hingga beberapa gelas saat dewasa. Seperti ribuan anak-anak Gayo lainnya Ismar diajari ngopi oleh lingkungannya dan hidup juga yang mengajarinya cara menikmati dan mensyukuri kopi.
Alumnus pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang mempunyai hoby “berkenalan dan mengeja hidup” ini dapat dihubungi alamat email: dhani.marisa@gmail.com
Karya puisi di atas dinyatakan lulus seleksi tahap pertama dan menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan oleh The Gayo Institute (TGI) yang dieditori oleh Fikar W Eda dan Salman Yoga S.